Latte dan Mocha

Waktu cepat sekali berlalu, tidak terasa sudah masuk ke Agustus dan minggu pertama Agustus pun sebentar lagi akan pergi dan menjadi sebuah kenangan. Hidup di negara ini, membuat kami belajar banyak sekali mengenai kehidupan, terutama mengenai sebuah rasa syukur.

Kemarin, kami menghabiskan waktu seharian diluar, dimulai dengan mengantar istri menemui hairstyling dia yang berasal dari Korea (norak ya hahaha…) karena dia tiba-tiba ingin punya rambut setengah bule, lalu dilanjut dengan saya memotong rambut saya yang sudah mulai meng-gorila kemudian kami makan siang di resto Korea yang sering kami kunjungi (Korea lagi…), kami lanjut ke Box Hill Library mengambil pesanan nasi padang yang dibuat salah satu kawan kami disini (rasanya itu…. maknyuss…. hahaha… beneran enakkkk…) kemudian kami tutup dengan pergi ke Eastland Mall karena anak-anak ingin ke Library di Ringwood sana, yang kami tutup dengan secangkir Latte dan Mocha di salah satu cafe di Mall tersebut sebelum pulang menikmati makan malam nasi padang ditemani sebotol Asahi, ahhh…. nikmat apalagi yang harus saya dustakan !!!

Perjalanan yang kami tempuh tidak dekat loh, kami ke timur lalu ke tengah lalu ke timur lagi, kalau di Jakarta kira-kira dari Cengkareng ke Pacific Mall trus ke Puri Indah Mall trus ke Bunderan HI. Kami keluar jam 8.30 pagi dan sampai rumah jam 5 sore, kalau di Jakarta sih ga mungkin bisa begitu hehehe…

Sembari menghirup Latte yang rasanya aduhai itu, saya menatap istri saya yang sedang tersenyum sendiri sambil melihat anak kedua kami melahap New York Cheese cake dengan semangat 45. Setelah dia sadar sedang saya tatap, dia mengatakan “Damai ya hidup disini…”,

saya lalu menanyakan 1 hal kepada dia “Kamu bahagia disini?” yang langsung direspon dengan anggukan.

“Loh kenapa?” tanya saya.

“Karena disini bagus untuk membesarkan anak-anak kita, sekolahnya, kebersihannya, kesehatannya, kedamaiannya, waktu yang berkualitas bukan lagi isapan jempol dan yang pasti kehidupan kita disini bisa seperti ini dalam waktu 1 tahun itu harus kita syukuri, aku ga nyangka bisa seperti ini secepat ini loh…”

Saya tidak bisa mengatakan tidak, apa yang dikatakan istri saya benar adanya, kehidupan kami disini termasuk cepat stabil, kesempatan yang datang kepada saya di pekerjaan terlepas dari keahlian apa yang saya miliki, membuat saya tidak pernah lupa untuk mengucapkan syukur kepada Dia. Kami baru menjalani tahun kedua di Australia, dari semua yang sudah kami lalui, hal itu sebetulnya jauh dari bayangan kami saat dulu kami pertama kali menginjakan kaki di kota ini. Kami sendiri pada awalnya sudah mempersiapkan diri kami untuk rela hidup seadanya setidaknya 2 tahun pertama disini berdasarkan apa yang mereka-mereka (yang sudah terlebih dahulu migrasi ke Australia) bagikan yang ternyata justru tidak terjadi selama itu karena kuasa Dia.

Saya jawab “Diberkatilah kamu Mom, karena menjadi orang yang bisa bersyukur dan berani berkata cukup walaupun kita tidak memiliki materi berlimpah ruah, karena itulah cara orang menjadi bahagia”.

Dia pun tertawa, “Uang itu tidak bisa membeli kebahagiaan Dad!”

“Benar, setuju, tapi uang bisa membeli secangkir Latte dan Mocha, dan secangkir Latte yang dinikmati bersama orang yang kita sayang bisa membuat kita bahagia kan”

Dia pun mengangguk dan berkata “dan cukup 3 dollar untuk secangkir Latte, kamu tidak perlu punya 3 juta dollar untuk menjadi bahagia”

Ahaa… Terimakasih Tuhan… tidak ada yang lebih membahagiakan dari melihat istri yang bahagia.

Selamat ber hari Minggu kawan.

Advertisements