Saat terpuruk

Hidup manusia tidak ada yang pasti kecuali 2 hal, yaitu kematian dan berkat dari Tuhan (bagi yang percaya). Dimulai dari sebuah impian ingin memberikan pendidikan yang lebih baik tapi tetap terjangkau untuk kedua anak kami, mendorong saya mengambil jalan ini, jalan yang saya sendiri pun tidak menyangka dapat saya jalani. Ini mukjzat bagi saya, karena menjadi kenyataan dari sebuah kemustahilan.

Saya tidak berasal dari keluarga mampu, kepergian (Alm) Papa membuat kami pontang panting memenuhi kebutuhan hidup saat itu, kuliah hampir putus ditengah jalan karena biaya, bisa makan 3 kali sehari adalah kemewahan bagi saya saat kuliah dulu. Sedikit demi sedikit saya berusaha merangkak naik, terlebih setelah saya menikahi dia yang begitu sabar menunggu dan mendukung saya, wanita langka yang luar biasa bagi saya yang merupakan salah satu anugrah Tuhan bagi kehidupan saya. Terlebih setelah saya mengutarakan keinginan saya bagi anak kami dan ingin mencoba migrasi ke Australia, dia menatap saya dan dari tatapan nya saya tahu, dia tidak memiliki jawaban. Tumbuh besar di kota dimana seluruh keluarga besar dia berada, tidak memberikan jalan mudah bagi dia untuk mengambil keputusan mengikuti kegilaan saya menuju kota yang bahkan belum pernah sekali pun kami kunjungi saat itu, Melbourne.

Banyak orang berusaha mengubur impian saya saat itu, karena menurut mereka, selain saya tidak memiliki modal cukup, saya juga tidak pernah kuliah ke Australia, jadi lupakan impian mu itu. Tapi, entah kenapa saya memiliki setitik keyakinan jika Tuhan akan membantu saya. Saya berusaha, hampir menyerah, berusaha lagi, dan akhirnya kami melewati tahun pertama disini hari ini.

Proses ini, tidak mudah bagi saya. Terutama disisi pekerjaan yang begitu jungkir balik. Saya bersyukur untuk semua yang saya miliki, untuk jalan yang diberikan Tuhan kepada saya. Tapi… maafkan sisi manusia saya yang masih sangat emosional dan tidak sabaran ini yang turut menyumbangkan peran membuat culture shock saya semakin menjadi-jadi.

Saya beruntung memiliki dia disamping saya, saat saya sedang terpuruk, dialah yang menjadi tembok dan menopang saya agar saya tidak benar-benar terjatuh. Mungkin dia hanya wanita biasa, tapi kekuatan didalam diri dia lah yang membuat saya bisa bertahan dan melalui semua ini sampai hari ini. Dan ini masih terus berlanjut yang entah kapan akan menemui titik akhir, saya sudah merasa cape dan lelah.

Sebetulnya saya sendiri sudah tidak tahu apa sebetulnya yang sedang terjadi, yang bisa saya lakukan hanyalah menumpahkan segala sesuatu yang tidak jelas ini dengan berbicara dengan dia yang begitu sabar mau mendengarkan radio rusak nan sumbang ini yang berputar menyuarakan hal yang sama berulang-ulang. Saya…

Sekarang, yang bisa saya lakukan hanyalah bersandar kepada Tuhan, membangun Novena saat sedang gelisah, dan tetap berusaha mencari dan mencari, dan tetap menjaga percaya jika Tuhan sedang menyiapkan sebuah hal baik bagi saya, disaat yang tepat nanti.

Menjadi orang pasrah itu tidak mudah… karena untuk menjadi pasrah kita harus memiliki keyakinan dan keyakinan itu hanya bisa didapatkan dari kekuatan Iman, yang sayangnya belum sekuat itu bagi saya… dan mungkin itu yang sedang dibentuk oleh Tuhan.

Advertisements

2 Replies to “Saat terpuruk”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.