Geelong (1)

Ok, mulai dari post ini sampai beberapa ke belakang saya akan menuliskan pengalaman kami mengunjungi 12 Apostles dengan bermalam di kota kecil sebelah barat-selatan dari Melbourne bernama Geelong.

Sebetulnya kami ga nyangka sih bisa liburan disini secepat ini karena tadinya kami berpikir jika kami bakalan sangat sangat bloody banget saat harus memulai lagi segalanya dari Nol disini, yang ternyata Tuhan punya cerita lain dan kami benar-benar diberkati, sangat diberkati sehingga bisa memulai segalanya dengan lebih mudah walaupun tetap tidak semudah yang kami bayangkan, tapi garis bawahnya adalah Dia ternyata mengerti dan sangat mengerti batas kemampuan kami sehingga membantu kami melewati segala sesuatunya dengan sangat elegan…

Dan, karena kami kaget sebetulnya, kagetnya adalah ternyata disini setiap akhir tahun rata-rata pada shutdown semua, alias dipaksa cuti. Cutinya pun beragam dari 5 hari sampai 10 hari, dan kebetulan saya kena yang 5 hari yang jika ditambah dengan sabtu-minggu dan tanggal merah total jadi 12 hari hahaha…

Ok, sekarang saya akan mulai menceritakan pengalaman kami selama 3 hari menikmati liburan ke luar kota ini. Saat saya mengetahui akan mengalami liburan 12 hari, kami langsung menyusun rencana ingin kemana saja selama liburan dan salah satunya adalah mengunjungi 12 Apostles yang super duper terkenal itu, karena kami terlambat merencanakan liburan kami jadi kami sudah kehabisan slot penginapan disekitaran 12 Apostles, dan penginapan terdekat yang kami temukan adalah di Geelong, sebuah kota kecil dimana angkatan udara negara ini bermarkas. Geelong kota kecil yang tenang, tertata, setengah modern dan sangat bersih. Tidak terlalu rame tidak juga terlalu sepi, enak dijelajahi dan bikin saya jadi berpikir ingin pensiun disana hahaha…

Oke, kami berangkat tanggal 27 Desember pagi dari Melbourne. Karena hotel tempat kami menginap bisa check in jam 2 siang, jadi kami pun bikin rute perjalanan ke arah Queenscliff terlebih dahulu dan muter-muter disana mengunjungi beberapa tempat seperti Bellarine Railway dan Bellarine Harbour. Nah, karena kami sampai disana diantara makan pagi dan makan siang, akhirnya kami putuskan untuk nge-brunch (istilah orang sini yang makannya itu diantara waktu sarapan dan makan siang, walaupun saya lebih suka nyebutnya makan siang yang lebih cepat hahaha…) dulu di salah satu cafe yang bernama Charlie Noble Cafe, setelah puas kelilingin railway dan pelabuhan sampai naik ke sebuah tiang gede yang dikelilingi kaca diatasnya untuk bisa memandang jauh kebawah ke arah pelabuhan dan lautan luas (ahh…. udik ya saya hahaha….)

Nge-brunch di cafe ini memberikan cerita tersendiri bagi kami, jadi saat kami datang ada seorang waitress yang datang ke kami untuk mencatat apa saja pesanan kami. Setelah memesan kami pun ngobrol ngalor ngidul dan setelah 30 menit kok makanan kami ga keluar juga ya. Karena kami tidak sedang buru-buru, jadi kami santai-santai saja sambil terus menunggu yang ternyata didatangin lagi oleh waitress yang tadi mencatat pesanan kami. Dia meminta maaf kepada kami karena satu dan lain hal belum juga jadi pesanannya, dan dia mengatakan jika pesanan kami akan segera dibuat dan kami tidak perlu membayar untuk makanannya yang tentu langsung saya jawab “Ooo… jangan khawatir kami sedang tidak terburu-buru dan semua baik-baik saja”. Tidak sampai 15 menit semua makanan kami pun terhidang dimeja dan kami mulai makan dengan lahap. Saya sempat melihat waitress itu memasukan uang 51 dollar ke dalam kas kasir. Dan benar saja, setelah kami makan dan kami ingin bayar langsung ditolak dan bilang semua gratis.

Saya langsung menolak dan memohon agar bisa membayar karena saya tahu mereka akan menanggung biaya makanan kami sebanyak 51 dollar itu, dan karena saya pernah menjadi waitress jadi saya tahu itu uang yang besar dan butuh setidaknya kerja 2 jam untuk mendapatkannya dan percayalah menjadi waitress itu tidak gampang dan cape.

Saya bukan tidak ingin dibayari ya, tapi dengan waitress itu tetap mengamati setiap meja yang dia catat sampai dia bisa sadar jika salah satu meja sudah kelamaan menunggu ditambah keinginan dia untuk datang meminta maaf dan mengakui kesalahan dalam pembuatan yang menyebabkan kami terlalu lama menunggu ditambah inisiatif dia untuk mengganti biaya dengan uang dia terlepas dari itu sebuah aturan atau bukan, sudah lebih dari cukup bagi saya. Apalagi saya sering mengalami hal serupa di beberapa resto di Jakarta yang boro-boro mau gratisin, minta maaf saja ga, dan kalau ga dikomplain mereka juga diam-diam saja dan saat dikomplain jawaban standarnya adalah “sedang dimasak Pak.” 🙂

Setelah puas mengisi perut dan membayar makanan, kami puun berlanjut ke hotel dan setelah mandi dll kami berlanjut ke Botanical Garden di Geelong. Menikmati taman yang tidak pernah gagal membuat saya berdecak kagum karena kerapian, keasrian dan kebersihannya. 

Setelah puas menikmati Taman yang bagus itu kami berlanjut ke daerah pantai bernama Waterfront. Sambil menikmati suasana tepi pantai yang khas dan udara yang bersih, kami menikmati makan malam disalah satu resto di pinggir pantai. Lagaknya dah kaya manusia-manusia jaman now yak hahaha…

Setelah puas kami pun pulang ke Hotel, istirahat sambil menikmati Ginger Beer, lalu tidur untuk persiapan keesokan harinya menuju selatan meniti Great Ocean Road sampai ke 12 Apostles.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.