Sejangkau harapan

Menjadi diaspora di negeri kangguru…

“Hidup di luar negeri keren ya”

Begitu ungkapan salah satu kawan saya. Hidup di luar negeri, terlepas dari keren-tidaknya memang memberikan tantangan tersendiri. Dulu saat saya masih belum melakukan migrasi, saya melihat jika hidup diluar negeri itu enak, keren dan apapun itu sebutannya selain tidak enak pokoknya. Dengan tekad bulet sebulet-buletnya dan menyiapkan mental sesiap-siapnya untuk melakukan apa saja agar bertahan. Sampai suatu saat saya benar-benar memiliki harapan dan jalan untuk migrasi, saya mulai merasakan…. ternyata tidak seindah dan semudah bayangan saya hahaha…. ya… amat sangat tidak mudah ternyata…

Hidup diluar negeri itu jangan dibayangkan jika segala sesuatu akan datang kepada kita melalui karpet merah dan ditaro diatas nampan emas. Justru sebaliknya, saya merasakan jika disini malah jadi berkali lipat tenaga yang dibutuhkan untuk berjuang. Berjuang disini tidak sebatas kita berjuang bisa makan, bisa punya tempat tinggal, tidak kawan… disini kita juga harus berjuang mengatasi rasa takut, rasa kesepian, rasa rindu dan lain sebagainya. Dan hal-hal tersebut tidak mudah. Bagi saya pribadi, jika ada yang mengatakan mencari pekerjaan di Australia itu sulit (dan memang terbukti sulit sih…) maka hal-hal mengatasi rasa-rasa yang saya sebutkan itu lebih sulit!! Berkali lipat lebih sulit.

Sampai saat ini, saya masih sering mengalami swing mood walaupun tidak separah 6 bulan pertama apalagi 3 bulan pertama, dan saat hal itu terjadi saya sering merasa sendiri dan galau, dan salah satu obat saya adalah berdoa dan berdoa, bercerita pada Dia, sampai saya sering malu karena Dia sudah memberikan jalan dan jawaban untuk doa saya dan saya masih tidak bisa mengatasi kegalauan saya, mungkin Dia berkata dalam hati “maunya apa sih ni anak?”. Dan… akumulasi dari hal itu membuat saya benar-benar cape dan ingin cepat-cepat melalui culture shock ini. Jadi jangan membayangkan jika migrasi itu mudah, karena migrasi itu butuh perjuangan, tidak hanya berjuang sebelum migrasi tapi juga setelahnya, dan justru perjuangan yang sebenarnya adalah saat kita sudah migrasi. Migrasi itu tidak mudah dan butuh banyak extra, kita harus bisa extra sabar, extra confidence, extra tangguh, extra tegar, dan extra-extra lainnya.

Saya sendiri sebetulnya tidak pernah menyangka bisa pindah dan hidup di Melbourne, Australia. Dulu saat lulus dari SMP, saya sempat mendengar (alm) Papa mengatakan jika salah satu sepupu saya melanjutkan sekolah di Sydney, Australia. Saat itu, memang saya sempat berpikir “kapan ya saya bisa sekolah ke luar negeri, melihat kehidupan lainnya diluar Indonesia?”. Saat itu, saya hanya bisa tersenyum, sampai suatu hari saat Papa meninggalkan kami semua selamanya, saya mulai berangan-angan dan membayangkan tentang bisa kuliah ke luar negeri untuk menghibur diri saya saat sedang galau karena tidak bisa membeli makan siang maupun malam saat itu.

Saat kelahiran anak pertama saya, ditambah keadaan Jakarta yang ya begitulah kari-kari… membuat saya berpikir saat itu, adakah harapan buat saya untuk bisa mewujudkan apa yang sering saya bayangkan itu. Saya memang tidak memiliki kesempatan untuk mencicipi pendidikan diluar negeri, dan istri saya pun sama. Walaupun kami berdua sebetulnya memiliki impian yang sama, itu kenapa kami mati-matian berusaha agar anak-anak kami bisa mendapatkan kesempatan itu bahkan dari kecil. Selain karena pendidikan, lingkungan juga menjadi salah satu pertimbangan kami, apalagi polusi di Jakarta sudah dalam tahap aduhai, sampai air minum saja kami harus beli galonan.

Walaupun migrasi tidak mudah, tapi kami merasa apa yang kami terima setimpal. Sekolah, pelayanan kesehatan, lingkungan, udara, air dan lain sebagainya di Melbourne memang jauh diatas harapan kami. Disini kami benar-benar merasakan adanya kualitas hidup di level yang kami kejar. Disini sudah biasa saya pulang kerja jam 5.30 sore sampai rumah jam 6.15 sore untuk jarak tempuh 30 km, sampai rumah saya mandi lalu makan malam bersama keluarga, setelah itu masih bisa antar istri ke supermarket 6 km dari rumah belanja mingguan, kadang sampai pindah 2 tempat sejauh 5 sampai 10 km dan sampai rumah lagi bahkan belum jam 9 malam, di Jakarta mana bisa begitu… itulah salah satu kualitas hidup yang berbeda, yaitu bisa memaksimalkan waktu.

Belum lagi banyak kegiatan-kegiatan outdoor yang bagus dan menarik, dan yang lebih penting dari semuanya adalah polusi yang rendah, itupun salah satu kualitas hidup yang kami kejar. Selain itu budaya kerja disini yang menekankan budaya family time juga menjadi salah satu point tersendiri.

Banyak sih kalau mau dijabarkan kelebihan-kelebihannya walaupun tidak mudah mencapainya ya… tapi layak diperjuangkan.

Sekarang, saya sendiri sedang berusaha melewati tahap penyesuaian yang sangat tidak mudah bagi saya ini (yang mungkin bagi sebagian orang justru sangat mudah, contohnya istri saya) dan mencoba mempertahankan sebongkah keyakinan, dan sejangkau harapan bagi kedua anak-anak kami.

Dan kami adalah perantau saat ini, menjadi diaspora di negeri kangguru. Mengejar impian kami terutama bagi anak-anak kami. Yang bisa kami lakukan hanyalah tidak menyerah, berdoa dan percaya pada-Nya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s