Yang kurang sesuai

Beberapa waktu lalu saya sempat mengulas beberapa kelebihan dan kekurangan di Australia (berdasarkan analisa saya ya…), jadi sekarang saya coba memaparkan apa saja yang menurut saya kurang sesuai disini. Lah…. apa bedanya kekurangan dan kurang sesuai? ehm… ya ga tau juga sih, tiba-tiba pengen nulis sesuatu yang menurut saya kurang sesuai disini, jadi dikasih judul itu deh hehehe….

Oke, yang pertama, suka tidak suka, disini tidak ada pelajaran Agama. Jadi untuk bisa membuat anak-anak mengerti tentang adanya Tuhan, kita sebagai orang tua harus extra mengajarkan hal itu di rumah. Terlepas dari baik dan tidaknya pelajaran Agama di sekolah, dengan tidak adanya pelajaran itu secara otomatis anak-anak akan lebih kepada scientist daripada ke creation dimana hal itu berpontensi membuat si anak kehilangan arah mengenai Tuhan. Ujung-ujungnya ya si anak berpotensi jadi atheis walaupun mengenal agama dari kecil juga tidak menjamin seseorang tidak menjadi atheis dan jadi orang lempeng sih hehehe….

Yang kedua, budaya. Disini karena sangking banyaknya budaya, bisa dibilang jadi tidak ada budaya. Nah… jadi effort ortu deh untuk menjaga agar budaya terutama budaya keluarga agar bisa tetap dijaga dan dikenalkan sekuat tenaga dan semaksimalnya agar si anak tidak lupa dengan akarnya. Dan hal itu tidak mudah loh… apalagi kami kan berasal dari Indonesia dan masih menganut budaya tionghoa (beberapa sih tapi tetep aja musti dikenalkan kan…) berhadapan dengan pergaulan si anak diluar rumah yang bukan kebarat-baratan lagi tapi barat bueneran… tapi, budaya barat ada beberapa positif juga, salah satunya adalah budaya mengatakan 3 hal : please saat meminta, thank you saat menerima, and sorry saat bersalah.

Yang ketiga, LGBT. Huahh… ini beneran, disini apalagi di Melbourne ya yang namanya LGBT itu didukung oleh parlemen, sampai-sampai (denger-denger) di sekolah-sekolah (khususnya pemerintah punya) mau digalakan untuk tidak diskriminatif terhadap kaum LGBT itu. Saya sendiri sebetulnya tidak peduli dan tidak masalah dengan LGBT ya, selama mereka tidak ganggu kita dan asik sendiri saja dengan kelompok mereka, tapi yang bikin saya ga suka itu mereka pakai adopsi anak coba… kan kasian anaknya ntar masa ortunya bapak semua atau emak semua (walaupun satu dianggap bapak satu dianggap emak tapi kan tetep aja bentuknya sama), kalau yang diangkat anak yatim piatu ya mau gimana lagi kan… atas nama kemanusiaan juga. Tapi tetep saja saya ga setuju kalau sampai adopsi anak, itu sudah kejauhan menurut saya. (ups… jangan bully saya ya hahaha….)

Yang keempat, sepiii…. hiks…. sepi disini bukan berarti di Melbourne sepi (ya memang lebih sepi jauh dibanding Jakarta yang ga pernah tidur ya) tapi sepi disini dalam lingkup keluarga, disini kami punya beberapa kawan sih… dan ada sodara juga, tapi tetep aja yang namanya keluarga besar, kumpul ketawa ketiwi walaupun penuh kekepoan tingkat wahid semua itu bikin kangen loh… sampai-sampai saya pernah dalam posisi berpikir “aduh… ntar kalau sudah tua, anak-anak sudah mandiri semua, trus salah satu dari kami sudah pergi duluan, trus gimana ya…” hasilnya pala hampir benjut karena diketok bini gegara mikir yang ga jelas begitu hahaha…. Ya, suka tidak suka, kalau sudah memutuskan migrasi ke negara lain harus siap dengan hal 1 ini, kesepian. Kadang rasa kesepian nya bener-bener mengganggu dan membuat sedih, jadi bawaan nya pengen pulkam saja hahaha…

Yang kelima, budaya kerja, iya bener budaya kerja, disini orang-orang yang benar-benar lahir, tumbuh, besar di Australia gayanya sudah bener-bener Bule banget walaupun tuh mata segaris kaya lobang celengan ayam. Salah satu gaya yang bikin saya masih suka kaget dan kesel adalah straight forward nya itu loh… istilah kita di Indonesia “ngomong ga pake saringan” asal njeplak. Kadang ngeselin dengernya, tapi ya… berdasarkan saran dari beberapa kawan yang harus kita lakukan ya cuekin aja, yang penting kita jangan menunda kerjaan atau tidak mengerjakan tugas kita. Sisanya, kerja ya memang cuma buat cari uang ga seperti di Jakarta yang pakai ngumpul-ngumpul cantik or ganteng sama temen kerja dll, ada juga yang begitu sebagian kecil, hari jumat pulang ngumpul di bar, tapi 95% balik ke rumah menemui bos yang sebenarnya.

Yang keenam, bahasa nya anak-anak, sekarang saya dan istri mulai dag dig dug hahaha… anak pertama kami mulai ditanya pakai bahasa Indonesia jawabnya pakai bahasa Inggris, haduh… haduh… dan dia komunikasi dengan adek nya yang umur 2 taonan juga pakai bahasa Inggris haduh… haduh… dannn…. logat nya ausie bangettt… haduh.. haduh… saya sekuat tenaga untuk tidak menggunakan bahasa Inggris sama sekali di rumah, tidak 1 kata pun agar anak-anak bisa tetap mengenal bahasa Ibu nya. Sampai saya pernah bertanya kepada istri “gimana ya caranya agar mereka tau dan ngerti Pancasila, UUD45, dan lagu kebangsaan kita”, dan sepertinya sulit ya….

Ya sudahlah, sudah menjadi resiko yang harus kami hadapi saat memutuskan untuk pindah kesini, kami hanya bisa berusaha maksimal dan berharap hasil yang maksimal juga. Jika nantinya mereka memilih untuk ganti passport gimana? ya itu juga jadi salah satu resiko yang harus kami tanggung, yang pasti sampai saat ini kami berdua tidak terpikir sama sekali untuk mengganti passport kami. Saya terutama, masih menyimpan impian untuk menghabiskan masa tua di Indonesia kelak, kalau masih kesampaian hehehe… ga tau deh pada masa itu apakah masih bisa tidak.

Kami sudah melewati 6 bulan pertama yang paling berat dan krusial, tapi bukan berarti semua sudah stabil loh… saya sendiri masih suka swing mood, kadang suka kangen sama rumah kami di Jakarta dan pengen pulang, entahlah… saya pengen banget semua ini lewat dan jadi kenangan karena lama-lama cape juga hahaha… ya semoga di 6 bulan kedua semua semakin baik dan mudah ya… dan saya bisa semakin stabil mood nya.

Jadi ga betah tinggal di Melbourne? betah donk… tapi wajar kok kalau masih suka pengen pulang hahaha… menurut orang-orang yang sudah melewati tahap ini, biasanya membutuhkan waktu 1 sampai 2 tahun untuk bisa benar-benar settle down, mengakar disini berasimilasi menjadi orang lokal.

1 hal yang pasti kalau ada orang bertanya dari mana asal saya, jawabannya INDONESIA ! 🙂 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s