Father’s day

Hari minggu, minggu ini adalah hari bapak se Australia, karena (mungkin) hanya diperingati disini. Karena itu hari ini sekolah AL mengundang saya untuk datang di sore hari ke sekolah dia. Tadinya tak kira mau diundang makan-makan hahaha…. ternyata disuruh nemenin anak main disana. Iya beneran, bapak nya disuruh nemenin si anak main hahaha…

Dan saat saya menyampaikan ke leader saya mengenai hal ini, jika saya diundang datang menemani anak saya ke sekolah, mereka langsung mengiyakan dan meminta saya untuk pulang lebih awal. Ternyata sampai segitunya mereka menghargai momen bersama anak dan keluarga.

Selama menemani AL main kurang lebih 40 menit, ditengah-tengah guru AL mengajak saya berbincang. Dia bilang AL adalah favorit artist, busettt… sampai kaget bengong saya… dia memamerkan semua karya AL sambil ga henti-hentinya bilang “he is fantastic” ahhh… bangga juga bapaknya hahaha….

Dari pengalaman hari ini saya semakin bersyukur kepada Tuhan, karena saya selalu meminta agar diberikan kesempatan dan jalan kesini jika memang disini adalah jalan terbaik bagi anak-anak saya. Dan dengan kondisi otak kanan yang sangat dominan nya anak pertama saya, disini dia memang sangat diberikan jalan dan didorong bakat nya oleh sekolah.

Saya sempat mengutarakan rasa khawatir saya mengenai hal lain seperti menulis, membaca dan berhitung, yang langsung dijawab oleh guru AL jika untuk anak seperti dia, akan sangat mudah mengejar semua itu. Ajaran ilmu pasti bisa dikejar kapan saja tapi untuk hal lain seperti seni, etika, budi pekerti tidak bisa diajarkan saat sudah besar tapi harus ditanamkan terus menerus sedari kecil. Ooo… oke-oke…. bapake manggut manggut aja deh…

Selamat hari Bapak ya untuk yang tinggal di Australia. Saya mau molor dulu karena besok harus berangkat lagi nyari “berlian” yang belum ketemu sampai sekarang. Yang pasti, memang rasa bangga sebagai bapak saat melihat karya anak nya yang diatas rata-rata seusia dia, beda rasanya.

——– ini adalah tambahan karena saya mendapatkan surprise keesokan harinya… jadi pengen saya upload ke post yang sama xixixi…

Dari AL saya dapat print tangan mungil dia, tas dan gelas yang langsung dilukis dia, dan kartu ucapan yang dia tulis.

Dari JD saya dapat print tangan mungil dia dan tulisan DAD dari kue kering yang dia hias sendiri.

Inilah salah satu yang saya suka dari pendidikan disini, anak-anak didorong untuk ingat orang tua mereka dengan kreatifitas untuk menciptakan sesuatu bukan dengan sesuatu yang mahal.

Advertisements

18 lalu

18 Tahun lalu, setelah hasil lab keluar, saya dan (alm) Papa duduk di beranda lantai 2 RS Sumber Waras memandang ke arah barat melihat sang surya yang secara perlahan merangkak masuk ke garis cakrawala, dalam hening yang tidak seperti biasanya.

(alm) Papa terlihat tenang dan teduh saat tahu jika dia mengidap kanker paru stadium 3, membuat saya ragu untuk membuka pembicaraan karena hati dan pikiran saya sendiri pun saat itu penuh dengan kegaduhan dan banyak sekali tanda tanya untuk pertama kalinya di umur yang akan menginjak 19 pada bulan Desember…

Dia… sangat tenang saat itu, seakan menyadari (dan memang terbukti) jika waktu dia tidak tersisa banyak di dunia ini. Dia, akhirnya membuka sebuah percakapan yang saya rasakan mungkin merupakan rangkuman dari hampir seluruh ajaran dia sedari saya kecil sampai besar saat dia memiliki sedikit waktu senggang (yang hampir tidak ada) dalam sepak terjang kehidupannya yang sangat fokus dengan impian yang ingin dia bangun, yang pada akhirnya pun ternyata hal itu pun tidak bisa menyelamatkan dia di titik terakhir ini, ironis…

Dengan suara dia yang berat nge-bass, dan gaya bicara dia yang khas, dia mengajarkan saya untuk memegang teguh dan tidak melupakan 3 pesan dari dia dalam kehidupan yang akan saya jalani, selain ajaran-ajaran lain yang tidak berhenti dia tanamkan kemudian.

Pesan pertama yang dia sampaikan adalah agar saya jangan pernah memainkan atau mengkhianati hati seorang wanita dengan dan dalam alasan apapun, terlebih lagi jika dia adalah istri dan ibu dari anak-anak saya, lebih baik jujur diawal lalu bertengkar sampai masalah tuntas daripada disimpan dan sakit hati diakhir, karena saat saya memainkan hati seorang wanita itu berarti saya sudah tidak menghormati mama saya, dan menurut ajaran timur hal itu sangat tidak baik.

Pesan kedua yang dia sampaikan adalah agar saya harus bertanggung jawab saat memutuskan untuk berkeluarga. Menjadi kepala keluarga adalah tugas yang sangat tidak mudah, karena selain kita harus memposisikan diri kita sebagai panutan, kita pun harus bisa menjalankan peran kita untuk menghidupi keluarga kita, sekecil apapun yang  dihasilkan tetap harus saya jalani karena itu berarti saya bertanggung jawab menjaga dan memberi makan istri dan anak-anak saya dan melaksanakan salah satu tugas saya sebagai kepala keluarga, yaitu mencari nafkah.

Pesan ketiga yang dia sampaikan adalah nama baik keluarga harus dijaga, lebih baik miskin daripada kaya tapi dari perbuatan yang tidak baik dan sesuai. Kehidupan tidak akan memberi ampun kepada kita dan akan berusaha membuat kita jatuh pada lutut kita kapan pun. Dan saat hal itu terjadi, bangun dan berusaha lagi dengan benar dan baik, jangan jalan pintas.

18 tahun… Pap. Akan saya ingat dan pegang terus pesan mu yang sudah membentuk prinsip saya dan akan saya teruskan kepada kedua anak saya kelak. Salam untuk kakak disana…

Dua Insan

Manusia hidup hanya sesaat, datang baik-baik pergi pun baik-baik. Apa yang menjadi masalah di satu tempat biarkanlah tetap disana, karena itu adalah bagian dari respect.

Yang dua insan berusaha lakukan adalah membangun sebuah keluarga yang apa ada nya, agar tidak berakhir ada apa nya, setidaknya itu yang sedang dua insan harapkan. Sesuatu yang terjadi didepan mata kita belum tentu kita mengerti, sebaliknya kita juga belum tentu mengerti apa yang kita lihat.

Pantas tidak pantas hanya yang menjalani yang akan mengerti. Seseorang yang kita anggap diperlakukan tidak pantas BELUM TENTU melakukan sesuatu yang lebih pantas sebelumnya, karena hanya yang melakukan dan menjalani yang akan mengerti. Bagi saya lebih tidak pantas jika kita melakukan sesuatu tanpa dasar dan benar-benar mengerti apa yang menjadi pemicunya, apalagi sampai membuat sebuah penilaian yang prematur.

Dalam hidup sangat sangat mudah saat kita mengarahkan telunjuk dan membangun sebuah penilaian, TAPI sangat-sangat sulit saat kita bercermin dan mencari kekurangan, kenapa? karena kita pada dasarnya adalah manusia egois, dan itu yang sedang dua insan jembatani agar tidak terlalu melibatkan rasa ego dalam membangun sebuah komunikasi. Sebuah komunikasi dengan ego yang kuat didalamnya, tidak akan berakhir lebih baik dari sebuah komunikasi yang dibangun diatas saling mengerti dan memberi. Kenapa? karena ego membuat kita tidak mau mendengar dan menerima pendapat orang lain. Setidaknya itu menurut saya.

Hubungan dua insan adalah hubungan yang sangat kompleks, karena pada dasarnya manusia itu memang sudah kompleks. Itulah kenapa yang bisa mengerti hanya dua insan tersebut apa yang baik apa yang tidak, apa yang kurang berkenan apa yang tidak, apa yang diinginkan apa yang tidak, karena semua itu yang dinamakan kesepakatan dan itu yang harus dibangun menjadi salah satu pondasi kejujuran dan respect.

Dan yang bisa mengerti ya hanya dua insan, karena mereka membangun tujuan mereka. Dimana sebuah rumah benar-benar sebuah rumah, bukan kantor, bukan hotel, bukan tempat lainnya yang membuat kita harus bertopeng tapi harus bisa apa ada nya. Dimana sebuah keluarga adalah sebuah keluarga BUKAN sebuah panggung sandiwara yang penuh dengan intrik, kebohongan dan manipulasi. Dan itu tidak mudah, kenapa? karena butuh banyak sekali penyesuaian yang hanya akan bisa di mengerti dua insan, dan butuh banyak sekali kemauan untuk saling mengingatkan, mengalah, meletakan ego di urutan terakhir dan hal lainnya yang hanya akan dan bisa dimengerti oleh dua insan yang menjalani.

Dan kita tidak pantas memberikan penilaian jika kita tidak mengerti benar apa yang sedang terjadi diantara mereka, apalagi jika kita belum pernah menjalani, apalagi jika penilaian itu kita bawa dan sebar diluar, dengan bicara ke 1 orang saja siapa pun itu, kita sudah menyebar!

Mama saya sering mengajarkan kepada saya 1 hal dalam hidup,

“Jangan pernah menilai istri orang suka keluyuran jika kamu belum punya istri dan jangan pernah menilai anak orang bandel/rewel/cengeng jika kamu belum punya anak” — (pepatah dalam bahasa hokkian) yang artinya kita tidak pantas kepo dan memberikan penilaian karena kita tidak tahu apa yang sedang terjadi dan lebih tidak pantas lagi jika kita belum menjalani. Karena kita juga belum tentu bisa lebih baik dari orang yang kita nilai saat kita menjalani hal tersebut. Singkat kata nya JANGAN SOTOY! 🙂

Berat ringan, besar kecil, sepele atau tidak sebuah masalah yang terjadi diantara dua insan hanya mereka yang bisa menentukan, kita sangat tidak berhak mengarahkan telunjuk dengan menggunakan apa yang kita tentukan sebagai sepele atau tidak sebuah masalah yang terjadi karena apa yang kita anggap sepele belum tentu sepele bagi hubungan dua insan. Dan dalam hubungan dua insan pun apa yang salah satu anggap sepele belum tentu dianggap sepele untuk lainnya, dan itu tidak akan terjadi saat kita meletakan ego kita didepan segala-galanya, karena ego membuat kita tidak mau mendengar. Itulah kenapa kita harus berani berubah saat memutuskan untuk berkeluarga.

Dua insan hanya berusaha membangun sebuah keluarga yang “apa ada” nya, bukan sebuah panggung sandiwara, yang berpotensi berakhir “ada apa” nya. Dan semua hal yang terjadi diantara nya hanya bisa dimengerti oleh dua insan. Karena dua insan masih jauh dari kata sempurna dan memang tidak akan sempurna, karena dalam kehidupan mengarahkan telunjuk lebih mudah dari bercermin, dan itulah yang akan menentukan tingkat kedewasaan dan kematangan seseorang.

Afternoon & Night

Salah satu gegar budaya yang saya alami disini adalah salam menggunakan afternoon dan night. Karena saya lahir besar di Indonesia, dan disana jam 19.00 itu sudah bisa dianggap malam, membuat saya terbiasa menggunakan night saat mengucapkan salam atau menggunakan night saat menjelaskan posisi terjadinya sesuatu misalnya “I want to thank you for your support on the migration tonight” untuk migrasi yang terjadi pada jam 7 malam, yang lalu dikoreksi leader saya menjadi “thank you everyone for this afternoon great support” hahaha…

Jujur ya… saya sendiri ga tau kapan posisi kita bisa menggunakan night dalam percakapan. Tapi jika saya analisa sendiri posisi matahari yang rata-rata tenggelam pada jam 20.30 paling cepat selain di musim dingin, jadi saya asumsikan mereka menggunakan night itu jika sudah mau bobo kali, karena masih ada evening yang dipakai diatas 8.30 malam (saat matahari sudah kelelep), jadi selama masih dibawah 8.30 malam tapi diatas jam 3 sore kita menggunakan kata afternoon sebagai salam dan dalam percakapan. Mungkin begitu kali hahaha…

Apapun itu, ini salah satu tantangan yang harus kami hadapi disini dan menjadi salah satu kebiasaan yang harus kami ubah pelan-pelan.

Mudah? Tidak. Tidak ada yang bilang jika hidup itu mudah, tapi ada yang bilang kita bisa membuatnya lebih mudah.

Hal lain yang beda adalah kepo style yang biasa terjadi di Indonesia. Disini orang-orangnya cenderung menghindari topik agama, impian, tujuan hidup dan kadang mereka juga menghindari topik keluarga kecuali benar-benar kawan dekat.

Saya masih sering geli dengan salah satu percakapan yang pernah terjadi antara saya dan kawan saya yang memperdebatkan kenapa saya harus melepaskan semua yang saya miliki di Jakarta untuk pindah ke Melbourne dan memulai semua dari Nol lagi di umur saya yang sudah mendekati paruh baya. Seperti ini kira-kira percakapannya,

Kawan (K) : lu ngapain pindah ke oz jo?

Saya (S) : gw pengen anak gw sekolah diluar bro (nama saya samarkan), dan juga disana gw lihat lebih bersih dan tertib.

K : tapi disana kan susah jadi orang kaya jo, kalau lu disini peluang lu terbuka lebar. Apalagi bentar lagi umur lu 40, mau sampai kapan lu kalau mulai dari nol lagi hahaha…

S : hehehe… iya, kalau menjadi orang kaya adalah tujuan hidup gw, ya gw ga kesana. Tapi tujuan gw bukan jadi orang kaya.

K : lah trus apa donk yang lu kejar?

S : gw pengen hidup bahagia bro, dan hidup bahagia tidak harus jadi orang kaya hahaha…

K : wah… berarti lu ga punya ambisi kalau gitu.

S : iya hehehe… karena ambisi gw bukan di harta benda, tapi di keluarga dan waktu. Duh… susah nih gw jelasinnya. Kesuksesan itu kan ga cuma di ukur dari kekayaan saja.

K : hahaha… dimana-mana yang namanya sukses ya jadi orang kaya dan banyak uang jo, mana ada orang miskin dianggap sukses.

S : betul… kalau tolok ukur lu adalah harta benda. Tapi buat gw sukses itu bisa dibanyak hal, ga semata-mata punya harta atau jadi orang kaya. Sukses itu buat gw adalah mencapai apa yang kita kejar dan impikan, dan proses pengejaran itu yang bisa membuat kita merasakan bahagia. Dan sayang sekali yang gw kejar bukan jadi orang kaya hahaha…

K : ya tetep aja gw bilang lu buang waktu dengan pindah kesana.

S : *senyum pepsodent*

Itulah, entah kenapa banyak yang mengaitkan sukses itu dengan kekayaan, dengan harta benda. Saya tidak mengejar semua itu bukan berarti saya tidak punya ambisi, hanya saja ambisinya saya letakan ditempat lain. Kalau mau jujur apa sih harta terbesar kita selama hidup? Saya hanya bisa menemukan 3 hal, yaitu kesehatan, waktu dan kebahagiaan.

Memang kita butuh uang buat hidup, tapi bukan berarti kita hidup hanya untuk mengejar uang kan. Selama keluarga bisa hidup layak dan anak-anak bisa sekolah sampai lulus sarjana atau menjadi mandiri saya rasa itu sudah lebih dari cukup. Toh pada akhirnya kita akan meninggalkan semua itu dan apa yang kita wariskan akan menentukan kehidupan anak-anak kita kelak, dan mewariskan kekayaan lebih banyak menimbulkan masalah daripada manfaat menurut pandangan saya.

Apapun itu, saya tetap tidak menolak rejeki yang datang, saya hanya mengatur waktu dan tempo derap saya agar bisa berimbang antara mengejar uang dan menghabiskan waktu bersama keluarga.

Salah satu kalimat yang sering saya gunakan untuk memotivasi adalah – It’s stupid to be afraid of others’ opinions. Fear weakens and paralyzes you. Listen to your inner voice and go with it. Some people may call you crazy, but some may even think you‘re a legend. And maybe I am one of the craziest man in the world, who cares?
Dan, hari ini ada misa di gereja KKI yang sekaligus merayakan hari Kemerdekaan RI yang ke 72. Ada rasa haru saat menyanyikan Indonesia Raya dan Indonesia Pusaka.

Dan kami memutuskan menggunakan kostum Damn I Love Indonesia saat menghadiri misa.

Saat menyanyikan Indonesia Raya, ada rasa bangga karena kami setidaknya sampai detik ini masih bisa menjaga agar nama Indonesia tidak tercoreng di negara lain karena masih belum mampu membuat Indonesia bangga. Dan saat menyanyikan lagu Indonesia Pusaka, saat menyanyikan bagian reff sempat terlintas dalam benak saya apakah iya nanti akan menutup mata disana… biarlah waktu yang menjawabnya…

Satu hal yang pasti, sampai mana pun kami melangkah, kami tetap INDONESIA!!!