Seperti apa hidup di Melbourne?

Menjadi diaspora sebetulnya tidak pernah terbersit dalam kepala saya, setidaknya sampai dengan kelahiran anak pertama saya. Gimana mau mikir jadi diaspora, bisa memiliki rumah sendiri walaupun ukurannya imut-imut saat itu sudah senang bukan kepalang karena saya kan berasal dari tidak punya apapun selain otak di kepala saya yang ya… so.. so.. jreng… lah… dan sebuah semangat yang keras kaya batu akik yang kadang sering mlempem juga sih hahaha…

Ya… apapun itu, saat ini saya adalah seorang diaspora, saya menjadi diaspora di Negara yang terletak di pulau hampir paling selatan dari bumi, dan berusaha memberikan yang terbaik bagi kedua putra kami.

Pindah ke Melbourne itu hampir seperti cerita dongeng buat saya, beneran deh… tidak pernah terbersit sedikitpun saya bisa pindah dan hidup disini, di kota yang dulu sering jadi lamunan saya karena kota ini kan terpilih jadi kota paling layak sedunia 6 kali berturut-turut. Saat itu saya ngelamun “seandainya bisa bawa anak-anak dan istri saya ke kota paling layak sedunia, rasanya seperti apa ya??”

Eh, ternyata dari lamunan itu saya jadi kepengen beneran, jadilah gerilya kesana kemari nyari jalan untuk bisa pindah kesini. Dannn… disinilah kami saat ini, berdiri ditanah Australia, negara para kangguru yang begitu cantik, tertib dan bersih. Kami bisa berdiri didepan stasiun Flinder yang terkenal itu, jalan ditepi sungai yarra dan bercengkerama di Federation Square.

Walaupun… awalnya ga gampang sih, dari persiapan apply PR dll, lalu pindahan, lalu penyesuaian (nah… yang satu ini berat coy… berat… saya hampir nyerah dan sampai sekarang pun masih suka merasa berat walaupun kadang-kadang). Sekarang kami sudah disini, tinggal disini, makan disini, p** disini, dan segalanya. Anak-anak juga sudah sekolah disini, yang girang bukan kepalang dan minta sekolah mulu… ajib dah… perasaan dulu saya ga segitunya kalau ke sekolah hehehe…. beda kali ya…

Oke, sekarang saya mau coba kupas apa saja sih kelebihan hidup di negara maju seperti Australia ini, ehm… kayanya saya pernah nulis juga deh mengenai ini, tapi ya sudahlah, anggap saja pembaharuan ciee…

Kelebihannya negara kangguru ini,

  1. Kebersihan
    Nah…. untuk urusan yang satu ini memang jauh kalau dibandingkan Jakarta. Dulu saat bos Ahok masih menjabat, saya sempat punya secercah harapan kayanya Jakarta bisa nih sejajar dengan kota-kota besar di Negara maju lainnya dalam hal kebersihan. Tapi… ya sudahlah, itu pilihan kalian kalau mau mundur lagi kebelakang but… saya sekarang disini dan sedang menikmati kebersihan kota ini. Kota ini bisa bersih seperti ini setelah saya amati memang berasal dari penduduknya yang memang peduli, jadi mereka dan saya sebagai pendatang saling menjaga satu sama lain kebersihan dikota ini, tempat sampah pun sampai ada dimana-mana, dan kesadarang untuk membuang sampah pada tempatnya sudah ditanamkan dari dini dan dijaga sampai nanti. Yang pasti disini saya jarang banget lihat kantong plastik lah… botol bekas lah… apapun itu yang disebut sampai berkeliaran dijalanan.
  2. Ketertiban
    Nahh… apalagi yang ini, haduh… jauh dah kalau dibandingin Jakarta, bukannya bermaksud bandingin ya, tapi jadikan ini sebagai kritik yang membangun. Disini itu ketertiban benar-benar dijaga dimana saja. Dijalanan 99% mematuhi rambu-rambu, jadi ga asal serobot ga mau kalah. Kok 99%? ya tidak ada yang sempurna kan? disetiap tempat pasti ada orang-orang bren***k yang ga mau diatur dan merasa dirinya paling benar, tapi kan kembali lagi ke banyak tidaknya. Selain itu, budaya antri juga sangat dijunjung tinggi, ga dijalan, ga ditempat umum, ga dirumah makan, antri ya antri. Budaya malu juga kuat ya, jadi kalau ada yang main serobot yaa.. antara dia kebelet udah diujung keluar dikit atau memang isi kepalanya tinggal dikit hehehe…, hasilnya jadi seneng aja ngeliat pada tertib dan saling bertoleransi. Hal ini juga terjadi saat macet, jadi tidak ada tuh saling nutupin jalan orang lain, di perempatan jika masih tidak bisa maju ya ga akan maju hanya karena sudah lampu ijo, karena akan menghalangi kendaraan dari jalur kanan atau kiri sehingga terjadi deadlock. Seandainya di jalanan Jakarta bisa seperti itu ya…. setidaknya macetnya lebih cepat terurai. Dan satu lagi, disini kalau macet ga ada polisi yang atur jalanan, masing-masing dengan kesadarannya saling menjaga dan memberi, jadi macet juga cepat lepas. Balik lagi sih ke mental dan budaya…
  3. Keamanan
    Kalau soal keamanan, ya tergantung daerah juga sih, tapi… disini tentu jauh lebih aman dan stabil dari Jakarta. Disini relatif tidak terlalu sering yang namanya jambret, copet, nodong, dll. Walaupun tetap harus hati-hati. Saya disini tidak separno saat di Jakarta, anak-anak saat main di taman bisa saya lepas dan amati dari kejauhan tanpa terlalu kawatir mereka ada yang nyulik dll.
  4. Keasrian
    Kota Melbourne ini adalah kota sejuta taman, beneran banyakkk banget tamannya. Dan tamannya bagus-bagus, terawat, dan bersih. Setiap taman most likely ada tempat bermain anak-anak, jadi yang namanya main-main ke taman bisa jadi hiburan gratis buat anak-anak saat mereka bosen, selain itu mereka juga sehat karena olah raga kan, apalagi udaranya bersih banget, setidaknya jauhhhhh lebih bersih dari Jakarta hehehe… Beberapa taman disini dibekali tempat BBQ an, gratiss… beneran gratis, tapi ya tau diri lah… abis pakai dibersihin lagi, karena yang mau pakai kan ga cuma kita, nah…. balik ke no 2 tuh… balik ke mental ya…
  5. Pendidikan
    Pendidikan disini bisa dibilang sudah establish ya, dan Australia sistem pendidikan nya termasuk 10 besar dunia loh… anak kami disini setiap mendengar sekolah langsung berbinar-binar dan minta masuk hahaha… 180 derajat dengan saat di Jakarta, disuruh bangun pagi saja aduh… aduh… susahh… makjang. Disini walaupun sekolahnya lebih banyak disampaikan dengan bermain, tapi perkembangan anak saya sangat baik, terutama di sosial, etika dan mentalitas nya. Mereka selalu diajarkan untuk mengucapkan 3 kata dalam kehidupan sehari-hari yaitu please untuk minta tolong/ sesuatu, thank you saat sudah meneriman sesuatu, dan sorry saat melakukan sesuatu yang tidak sesuai. Dilain pihak mereka juga belajar antri, belajar perfom, belajar menjelaskan apa yang mereka suka kepada kelas, belajar eksplorasi bakat mereka, belajar mencintai lingkungan, menanam tumbuhan dan lain sebagainya. Justru ajaran-ajaran seperti hitung-hitungan, membaca, dan materi lain seperti di Jakarta sangat minim diberikan. Bagi orang sini, menanamkan etika dan budaya yang baik lebih sulit dari membaca dan berhitung. Bener sih… jadi ga salah juga saya mati-matian kesini walaupun berat.
  6. Fasilitas Umum
    Fasilitas umum disini semakin maju seiring dengan kemajuan kotanya, yang namanya transportasi umum, perpustakaan, taman, trotoar, jalan, dll. dibangun dan diperbaiki dan diupgrade terus. 1 hal yang pasti jika saya perhatikan adalah semua fasilitas umum yang dibangun selalu diprioritaskan agar bisa mengakomodasi orang-orang cacat dan manula. Keren ga tuh… dan fasilitas umum disini itu dijaga sama-sama oleh warganya, ya… memang ada beberapa orang kam***t yang suka merusak, tapi sedikit lah jika dibandingkan yang mau jaga. Yang pasti, kota ini berusaha membuat kehidupan kami disini menjadi lebih nyaman setidaknya bisa tamasya menikmati alam tanpa harus bayar sepeserpun saat kami ke taman atau beberapa tempat yang memang dibuka secara gratis, balik lagi… bisa begitu karena yang datang menikmati juga tau diri ga merusak, ga nyampah, ga ancurin dll.
  7. Jadi Karyawan
    Kerja disini sebagai karyawan beda dengan saat saya kerja di Jakarta, disini yang namanya family time dijaga banget, kita tidak akan diganggu jika tidak dalam keadaan kepepet bangett nget, dan jika sampai disuruh overtime itu artinya tidak ada cara lain lagi, eits… disini tidak ada cara lain lagi itu bener-bener loh… jadi bukan sengaja diada-adain. Disini juga sistem gajiannya rata-rata per 2 minggu, enak ya per 2 minggu gajian hahaha… dan dalam bekerja perusahaan diharuskan membayar superannuation minimal 9,5% dari gaji kita untuk dana pensiun nanti. Satu lagi, jadi karyawan disini tidak berarti trus hidup kita akan lebih susah dari yang usaha ya… ga… malah ada yang jadi tukang batu tapi gajinya diatas saya yang jadi network engineer, bedanya cuma di 2 hal, 1 dia kerja bisa ga tentu jam nya, dan biasanya kerja casual ga ada cuti, kecuali jadi tukang batunya sebagai karyawan tetap di sebuah kontraktor kali ya… ga tau juga sih…
  8. Kendaraan Umum
    Di Melbourne ada 5 model transportasi umum, pertama dan paling reliable adalah kereta (metro) dengan warna pengenal biru, transportasi satu ini jarang telat dan pasti berhenti disetiap stasiun kecuali yang express. Yang kedua adalah tram dengan warna pengenal hijau muda, nah… yang kedua ini jadi ikon juga di kota melbourne, kota dengan jalur tram terbanyak di dunia hehehe… cara naiknya kita harus awe-awe di tram stop dan musti narik tali atau tombol didalam tram jika ingin berhenti di tram stop berikutnya, relatif lebih mudah karena biasanya tram stop itu lewat daerah-daerah pertokoan jadi lebih gampang lihat tandanya. Yang ketiga adalah bus dengan warna pengenal merah, hemm…. kalau yang satu ini saya rada males naik soalnya suka telat dan rada susah melihat bus stop nya, jadi kita harus memberi tahu supir jika ingin turun di bus stop berikut dengan menekan sebuah tombol, nah…. buat ancer-ancer next bus stop kita musti turun atau tidak agak susah kalau kita belum mengenal medan hehehe… Yang ke empat adalah Taxi dengan warna pengenal kuning atau abu-abu, yang satu ini kalau kepepet deh… abis mahal hahaha… dan yang terakhir dan paling baru adalah….. UBER.
  9. Emergency Teams yang responsif
    Angka untuk darurat di Melbourne (mungkin seluruh australia) adalah 000. Saat kita menelpon 000 (kata mereka yang sudah pernah loh ya…) akan ditanya butuh medis, polisi, atau pemadam kebakaran. Tapi jika kita memberi tahu ada yang terancam nyawanya maka salah satu dari mereka yang paling dekat akan datang duluan memberikan pertolongan. Dulu sempat saat kami naik tram malem-malem, di tram stop ada yang ambruk, spontan ada orang disana yang nelpon ke 000 dan yang pertama sampai (tidak sampai 5 menit) adalah pemadam kebakaran, mereka langsung memberikan pertolongan pertama dengan memberikan CPR sambil menunggu Ambulance (10 menit kemudian) sampai. Nah…. kalau sudah ada sirine yang meraung-raung, semua pengguna jalan disini akan minggir memberikan jalan, dan saat jalanan macet maka mobil ambulance, polisi maupun pemadam akan menggunakan contra flow, dan yang dari arah itu akan minggir semua memberikan jalan… ga kebayang kalau mereka disuruh tugas di Jakarta saat jam pulang kerja hahaha….
  10. Basa basi ramah
    How are you?”, “How is going?”, “G’day” adalah sapaan yang umum terdengar disini, orang-orang disini sangat suka basa basi, sekedar bertukar pertanyaan apa kabar adalah cara sopan mereka berinteraksi. Awal-awal saya disini, saya sering kagok dengan hal-hal yang terlihat sepele seperti itu, suka ga nyadar kalau saya harus tanya balik atau sekedar menjawab dengan akhiran terimakasih, pernah suatu kali saya bertemu si A terus ditanya apa kabar, saya jawab baik terimakasih tapi ga nanya balik, dia bingung gitu tapi akhirnya nyadar kalau saya baru nyampe Australia, eh 3 jam kemudian bertemu lagi dan dia nanya lagi, terus saya diem saja cengar cengir karena saya bingung bukannya tadi udah ketemu ya hahaha… kacau, tapi hal seperti inilah yang membuat basa basi menjadi menarik, kita juga pastinya seneng donk ditanyain kabarnya saat bertemu hehehe…
  11. Tentang Racist
    Oke, untuk point satu ini sebetulnya saya malas angkat, kenapa? karena cencitip hahaha… tapi karena banyak yang bertanya “Australia rasis kan?” akhirnya saya angkat deh… disini adalah negara multi budaya, ada lebih dari 200 suku bangsa dari seluruh dunia berkumpul, hidup dan berkeluarga disini. Disini sangat ditekankan yang namanya saling menghormati dan menghargai, dan 1 lagi yang pasti adalah hukumnya lebih jelas. Memang… ada beberapa titik dimana beberapa dari mereka rasis juga, tapi percayalah… ga separah di Negara kita, saya besar dengan teriakan CINA LOLE saat di Tegal sana, dan yang baru-baru ini terjadi di Jakarta terhadap salah satu (mantan) Gurbernur masih ingat donk….
  12. Udara dan Air
    Nah… untuk yang satu ini memang tidak tergantikan… beneran tidak tergantikan oleh apa yang kami miliki di Jakarta. Disini udara nya benar-benar bersih dan segar, apalagi kalau ke daerah gunung or pantai nya, beuhhh… weleh.. weleh… Dan untuk airnya, bersih dan bisa langsung diminum dari keran, kaya di Singapura. Istri saya ada alergi logam, jadi kulit dia itu ga bisa kena logam terlalu lama atau akan iritasi. Bagusnya, saya jadi irit hahaha… ga perlu beli kalung, gelang, dan cincin sering-sering :p tapi kasiannya kalau dia kena air yang mengandung logam tinggi, duh… mandi terlalu lama saja bisa iritasi karena bersinggungan dengan air yang mengandung logam terlalu lama. Nah… sejak disini kulit dia membaik jauhhh banget…

Oke… setelah cape ngetik kelebihan yang menurut saya adalah kelebihan, sekarang kita menuju kekurangannya,

  1. Homeless
    Nah…. yang satu ini paling bikin saya geleng-geleng kepala, disini jika kita tidak berpenghasilan atau berpenghasilan dibawah standard, pemerintah tidak akan tinggal diam, kita dibantu loh… walaupun ga banyak tapi bisa buat hidup, sewa rumah dll. Jadi, kalau sampai ada yang memilih menjadi gelandangan… ga ngerti deh saya… orang duit dikasih, sekolah gratis, kesehatan ditunjang, apalagi coba? tapi ya itu urusan mereka sih, dulu saya suka merasa kasian melihat mereka kedinginan, tapi setelah hidup disini agak lama saya mulai mengerti, mereka yang menjadi gelandangan itu bisa saja karena memang itu pilihan hidup mereka. Ihh… jadi gemes liatnya…
  2. Pajaknya Aduhai
    Apa yang saya sebutkan di point 1 tadi mengenai bantuan pemerintah sebetulnya didapatkan darimana sih? dipoint inilah jawabannya hahaha… yup… disini pajak nya aduhai coy… tapi bagusnya ga semua digunakan untuk bantu para orang ga mampu, tapi dipakai juga untuk bangun kota, fasilitas, jalan, dll. Juga untuk membiayai sekolah dan rumah sakit pemerintah agar bisa memberikan pelayanan gratis dengan tetap profesional. Eits… bentar, buat kalian yang sudah berkeluarga seperti saya, masih ada kesempatan untuk tax return setiap tahunnya, ya ga banyak sih tapi lumayan lah…
  3. Dingin…
    Brr… untuk yang satu ini sih ga usah ditanya, kayanya Melbourne itu kedua terdingin deh setelah tasmania. Suhu saat winter bisa nol derajat rasa minus 3. Sampai embun-embun dikaca mobil berubah menjadi es tipis hahaha… tapi so far kami bisa menghadapi hal itu, beberapa perlengkapan musim dingin sudah dipersiapkan istri dan tentunya jadi berasa tinggal di luar negeri hahaha… Yang namanya pakai baju rangkap 3 saat winter sih udah musti saat saya berangkat kerja.
  4. Dendaaa…
    Jangan coba-coba melanggar deh kalau disini… denda nya sakit loh… sakit jiwa hahaha… untuk pelanggaran lalu lintas karena melampaui batas kecepatan saja bisa ratusan dollar Australia dendanya. Dan, mungkin hal ini yang membuat negara ini menjadi tertib ya… ada denda yang parah nyengatnya, tapi ada juga sistem yang membuat semua dana ini disalurkan dengan benar (ya setidaknya sampai sekarang saya tahunya benar, ga dikorupsi gila-gilaan hehehe…)
  5. Rasa makanan
    Hiks… kalau sudah bicara yang satu ini, paling top yang pernah saya rasakan adalah level mendekati, ga bener-bener sama rasanya. Maksudnya buat makanan Indonesia? Ya iyalah… masa makanan India sih… Untungnya, istri cukup handal untuk berkreasi dan memasak, jadi lumayan terobati untuk beberapa makanan. Tapi yang namanya kangen sama empek-empek, tahu gejrot, lengko, gado-gado, kethoprak, rawon, gorengan hhuuaaaaa…. laper…..
  6. Buah-buahan tropis
    Yang satu ini juga bikin kangen, disini yang namanya salak, jambu biji, durian seger udah kaya barang antik nan ajaib. Apalagi saya paling doyan sama 3 buah itu, ya sudahlah tunggu pulang Jakarta saja baru makan, ya iya kalau musim tongg….
  7. Buryam, Nasgor dll
    Disini ga bakalan ada deh yang namanya makanan abang-abang hahaha… kadang kalau sedang dingin dan lapar, kangen juga sama rumah di Jakarta yang depannya sering lewat abang-abang yang jual nasi goreng tek-tek, bubur ayam kalau pagi, sekoteng… ya… beda ladang beda belalang ya… disini harus kreatif deh, antara bikin sendiri atau minta dibikinin huahaha…. *ngelirik ke bini 😛

Ya itulah rangkuman nya… yang panjang ternyata, tapi setidaknya kalian jadi tahu menjadi diaspora itu ga gampang loh… banyak penyesuaian yang harus dilakukan, dan tentunya jauh dari keluarga juga kan, belum homesick nya.

Sebetulnya kalau ditanya enakan hidup dimana, ya tergantung juga, hidup dimana saja ada plus dan minus nya, dan kembali kepada apa yang kita cari ya…, Saya pribadi saat memutuskan untuk merantau tidak untuk mencari hal yang berkaitan dengan saya dan istri, tapi lebih kepada ingin memberikan sesuatu yang menurut kami lebih baik dan bisa didapatkan jika kami berani merantau ke Australia. Merantau itu bagusnya kita jadi punya kesempatan lebih untuk belajar mandiri, bisa melihat dunia luar, bisa belajar untuk lebih berani dan bertanggung jawab secara hidup jauh dari keluarga di negara asing, bisa belajar untuk tegar, berjuang, ga nyerah, dan tabah hahaha… dan bisa merasakan hal lain nya dalam hidup kita yang singkat ini.

Advertisements

2 Replies to “Seperti apa hidup di Melbourne?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s