Masuk ke 6

Bulan ini, kami mulai menjalani bulan ke 6 kami berada di Melbourne, Australia. Sejujurnya, tidak ada 1 jawaban pun yang bisa saya berikan kenapa saya memilih kota ini saat pertama kali memutuskan untuk migrasi ke Australia.

Melbourne, kota yang cantik, dingin, dan terasa seperti Eropa adalah tempat yang memberikan rasa sedih, syukur dan semangat. Saat pertama kami migrasi ke kota ini, kami harus menghadapi sebuah keputusan yang sulit untuk pulang terlebih dahulu. Ketidak-siapan dana dan mental membuat kami sedikit lagi akan tinggal di jalanan saat itu. Dana yang pas-pasan yang tergerus terus menerus menemani sepak terjang saya mencari pekerjaan tetap yang tidak kunjung dapat saat itu membuat beban stress saya semakin bertambah setiap harinya, belum culture shock yang datang mengganggu tanpa ampun setiap detik nya. Akumulasi keadaan yang pada akhirnya membuat saya memutuskan untuk mundur selangkah terlebih dahulu sambil menyusun langkah lain jika masih memungkinkan.

Kedatangan kedua kami kesini juga tidak serta merta membuat semua menjadi mudah. Memang, kedatangan kedua ini kami memulai dengan persiapan yang lebih mantap, dan memulai dengan lebih baik disini. Tapi yang namanya culture shock tetap begitu menyayangi saya dan datang terus menjahili saya selama ini. Jangan anggap enteng culture shock karena serangan ini kadang sangat kuat dan bisa menjatuhkan mental kita hingga porak poranda dan akhirnya memutuskan untuk pulang.

Saya sendiri sudah sampai berada di titik kritis saat itu, permulaan yang lebih baik, tempat tinggal yang lebih manusiawi, memulai dengan dana yang lebih kuat, dan kesempatan kerja yang saya dapatkan tidak membuat keadaan menjadi lebih baik, justru semakin memburuk.

Saya beruntung memiliki kawan-kawan yang mau berbagi karena pernah melalui hal ini, baik berbagi pengalaman, tips, maupun berbagi waktu untuk mendengarkan saya. Dan terlebih lagi ada seorang istri yang kuat disamping saya yang tidak henti-hentinya membisikan kata-kata positif dan semangat saat saya sedang terpuruk.

Dari semua itu, 1 hal yang paling penting adalah diri kita sendiri. Your enemy is yourself. Untuk bisa melalui semua itu hanya ada 1 cara, yaitu lawan. Lawan sekuat tenaga saat serangan Culture Shock sedang datang. Bantu juga dengan aktifitas yang bisa membantu kita mensyukuri hal-hal positif yang ada disini.

Semua ini, selalu saya renungkan. Langkah ini, keputusan ini, semua menjadi 1 renungan dalam doa saya. Semakin saya selami, semakin saya merasakan jika tidak ada yang buruk akan semua ini, semua baik, sangat baik, dan menjadi pembelajaran yang sangat berharga.

Bulan ke 6, bulan dimana saya mulai bisa mengendalikan diri saya dan semoga semakin bisa kedepannya. Saya memiliki sebuah harapan disini, sebuah impian bagi kedua anak saya, saya sangat ingin mewujudkannya menjadi kenyataaan. Semoga Tuhan memberikan ijin-Nya dan memberkati jalan yang kami lalui.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s