17

17 tahun sudah (alm) Papa dan (alm) Kakak meninggalkan kami. Waktu yang sangat lama walaupun terasa singkat dan cepat saat ini…

Dulu saat (alm) Papa sudah tidak ada, dan saat itu biaya kuliah saya ada kekurangan biaya, saya pernah disuruh berhenti kuliah saat ingin meminjam uang 1 juta rupiah untuk menambah biaya kuliah semesteran saya yang kurang saat itu oleh salah satu kerabat (dekat sekali) dari (alm) Papa saya yang kaya raya luar biasa. Saat itu, saya hanya bisa tertunduk lesu, bukan karena gagal mendapatkan pinjamannya, tapi karena merasa “kok ya tega sekali ya… 1 juta itu buat dia hanya uang jajan buat anak dia sehari…, kalau ga mau minjemin ya sudah, tapi nyuruh saya berhenti kuliah itu hal lain…”

Dan yang bikin lebih ngilu setelah itu istrinya nelpon ibu saya dan memamerkan 2 hal, yang pertama dia bilang baru saja beli tanah di pulau Batam sana buat anak kedua nya seharga beberapa EM, dan bilang anak pertama dia sedang dikuliahin ke Australia.

Oke… positive thinking saja deh, mungkin duit mereka abisss… biss… bisss… buat semua itu, tapi please lah… ga usah pamer gitu apalagi dengan ditutup kalimat “setiap tahun pabrik kami untung sekian EM (haduh… ngelus dada sayah…)”

Saya yang saat itu setengah mati buat memenuhi makan 3 kali sehari hanya bisa mikir “kapan ya saya bisa ke Australia, lah wong sekarang buat kuliah saja morat marit begini, jangankan kuliah deh… buat makan sehari 3 kali aja masih mikir!!!”

Dan untuk menghibur hati yang ngilu ini saya mulai bermimpi, bermimpi jika suatu hari saya harus bisa ke Australia sendiri, dan harus bisa meraih itu dari semua kesulitan yang saya miliki, saya harus bisa bangkit. Err… saat itu mikir kalau semua itu mustahil sih tapi setidaknya bisa mengobati rasa sakit hati sedikit karena disuruh berhenti kuliah saja kalau ga sanggup bayar saat mau minta tolong.

Belum lagi tambahan kalimat-kalimat miring yang mengatakan jika saya tidak akan berhasil, haduh… pedes ya…

Impian itu… kemudian saya jaga… saya PUPUK… dan saya KEJAR, kemudian bisa saya RAIH walaupun TIDAK MUDAH. Dan… hampir saya lepaskan kemudian, jika bukan karena ke 2 anak saya, ISTRI saya, dan kawan-kawan saya yang mendukung dan berusaha menyemangati saya (seperti kang Dony Verdian di Sydney, Mas Yohan di Melbourne, bro Roy di NZ, neng Yani di SG, mas Alexandro di Jakarta, dan kawan-kawan lainnya) tanpa henti dan tanpa lelah… saat saya sedang berada ditengah-tengah culture shock yang menyiksa…

Sekarang, saya berusaha untuk melewati semua itu dan menancapkan kuku saya disini, mulai berusaha membangun kehidupan untuk keluarga saya disini, sedikit demi sedikit…

Mulai merencanakan tempat tinggal untuk masa depan kami disini, terlebih masa depan anak-anak kami. Semoga semua dimudahkan, dilancarkan, dan kami bisa mengubah impian kami menjadi kenyataan.

Disinilah kami sekarang Pap, mengikuti jejak mu yang merantau demi pendidikan kami bertiga, saat ini kami pun memutuskan untuk merantau dan menetap ditanah rantau demi pendidikan kedua anak kami, kedua cucu mu.

Saya akan berusaha sampai maksimal, agar semua jalan yang sudah disediakan oleh Tuhan ini bisa menuntun saya meraih apa yang saya impikan. Karena saya tidak ingin menjadi seorang pemimpi, tapi ingin menjadi seorang yang bangun mengejar mimpinya.

Setidaknya, saya berhasil membuktikan kepada mereka yang sudah meragukan saya dan meminta saya untuk menyerah atas mimpi saya, jika hari ini, saya walaupun seorang anak Yatim yang tidak memiliki sepeserpun warisan dan modal, masih bisa sampai ke Tanah Australia demi anak-anak dan keluarga saya.

17 tahun Pap, Kak, apa kabar kalian disana?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s