3 Bulan pertama…

Hari ini, tepat 3 bulan kami berada di Melbourne. 3 bulan yang penuh cerita (diawali “c” ya bukan “d”)

3 bulan pertama yang kami jadikan titik evaluasi pertama perjuangan kami bermigrasi ke negeri kangguru demi cita-cita kami untuk anak-anak dan keluarga kecil kami.

Tanpa terasa 3 purnama sudah kami lampaui ditengah tawa, tangis dan rasa syukur. Diantara berjuang, saling menguatkan, bimbang dan merasakan mukjizat. Diantara akan terus bertahan atau pulang, migrasi itu sangat tidak mudah terutama bagi saya. Sebuah perjuangan untuk mengalahkan diri sendiri yang semakin hari semakin kesini semakin sulit. Sulit… kawan… ditengah 1001 alasan yang terbuat dan dibuat… sulit sekali…

Saya, sudah mulai bisa sedikit melawan culture shock yang terus mendera siang malam (dan semoga bisa terus melawan). Tempat kerja baru dengan pekerjaan yang lebih sesuai dengan latar belakang keahlian saya (walaupun masih harus banyak menyesuaikan diri dengan budaya kerja sini yang juga mengagetkan) sedikit banyak ikut memberikan sumbangsih dalam mengatasi atau bahkan menambah culture shock saya, karena hampir setiap hari saya tenggelam dalam kesibukan (atau malah justru stress…) sehingga hari terasa cepat berlalu. Selain itu, team yang kuat dan saling mendukung (walaupun cuma bertiga) menjadi point plus tersendiri, team yang masing-masing bisa memberikan sisi kuat untuk menutup sisi lemah team yang lainnya. Semoga saya bisa mengikuti derapnya dan menjadi salah satu pemainnya.

3 bulan ini, menjadi titik pertama kami melihat ulang, menimbang ulang dan membangun ulang asa yang lebih kuat, lebih kuat dan lebih kuat…

Kami pun semakin yakin (walaupun dibayangi rasa takut yang sebetulnya tidak perlu ada dan mulai bisa diatasi sedikit demi selangkah) jika disini memang akan memberikan lingkungan dan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak untuk tumbuh dan berkembang. Walaupun harga yang harus saya tebus tidak mudah dan sedikit, tapi… ya… mungkin itulah salah satu tugas saya saat memutuskan menjadi seorang bapak, agar mau berusaha memberikan yang terbaik bagi anak-anak saya berapapun nilai pengorbanannya, sesulit dan seperih apapun… yang lambat laun berubah jadi rasa syukur jika kita bisa dan mampu melewatinya. Yang semoga semakin bisa kami atasi…

Kami selalu berdoa, semoga kesempatan diberikan kepada kami untuk bisa selama mungkin bertahan disini. Bukan sebatas kesempatan bisa disini, tapi juga kesempatan mengenal orang-orang yang bisa dan mau membantu kami mengatasi efek samping yang terjadi dari proses ini, yang salah duanya adalah rasa takut/kawatir dan culture shock.

3 bulan pertama ini, akhirnya berhasil kami lalui. Sekarang kami menatap 6 bulan kedua… lalu 9 bulan… 12 bulan… dan semoga berlanjut terus…

Semoga semuanya bisa lebih baik lagi kedepannya… dan semakin bisa melawan culture shock dan perasaan negatif lainnya disini…