Ubi Goreng

Hari ini, setelah berberes rumah dipagi hari yang memang rutin saya lakukan setiap minggu agar rumah tetap bersih, kami pun menuju gereja dekat rumah kami yang bisa dijangkau dengan 10 menit berjalan kaki.

Pulang dari gereja, kami putuskan untuk makan siang di rumah, karena hari ini saya ingin bersantai di rumah saja untuk bersiap besok ditempat kerja baru yang harus ditempuh 90 menit dengan publik transport sekali jalan di utara sana.

Setelah makan siang, saya pun berleha-leha dikamar sambil menemani si bontot tidur siang, sambil membayangkan betapa santai dan nyaman nya hidup disini, jauh dari hiruk pikuk politik, jauh dari istilah kafir-kafiran, jauh dari ribut agama. Sambil rebahan diatas kasur dan bantal yang empuk, ditemani suhu kisaran 18-22 derajat, dengan pandangan ke jendela yang hijau (dan rata-rata rumah disini seperti itu) layaknya sedang berada di vila, dikompleks yang tenang, ditemani kicau riang burung-burung liar yang ikut menikmati hari yang tenang ini. Eh, saya pun tertidur… pulas…

Jam 3 sore saya terbangun, karena aroma ubi goreng, ternyata istri saya sedang menyiapkan cemilan sore yaitu ubi goreng yang sekilonya mencapai $5 disini hahaha… tapi okelah, karena yang masuk juga $ jadi ga perlu konversi ke harga di pasar citra 1 di Jakarta sana, perih… kalau dibandingin.

Saya pun menyeduh secangkir kopi kapal api kesukaan saya, yang begitu cepat menjadi dingin karena suhu nya memang sedang sejuk. Kami pun menikmati sepiring ubi bersama. Sambil berbincang ringan dan bersyukur untuk segala hal.

Upss… abaikan botol-botol diatas sana, karena saya memang menyetok wine dan bir untuk mengusir dingin saat suhu sedang drop, sekaligus sebagai kawan ngobrol bersama sahabat yang berkunjung sambil menertawakan banyak hal.

“Tapi kan dosa jo!”

Dosa? Iya dosa kalau saya pakai untuk memabukan seorang wanita lalu saya ambil keuntungan darinya, iya dosa jika saya berikan kepada anak dibawah umur, iya dosa jika saya mengkonsumsinya tanpa tanggung jawab dan berbuat hal-hal tidak baik karena mabuk. Selain itu, buat saya tidak dosa hahaha… toh saya kan dianggap kafir, ya sudahlah…

Hidup di Negara seperti Australia membuat saya belajar banyak hal, dari kesetaraan yang memang bukan hanya sebagai wacana, dari cara bekerja yang sangat menekankan family time, dari cara orang sini menghormati agama dan privasi orang lain, dari cara mereka menghindari perdebatan politik, dan banyak hal positif lainnya.

Melihat perkembangan anak-anak saya yang makin hari makin mandiri, terlihat antusias dan riang. Membuat saya mulai bisa melawan culture shock yang sangat mengganggu dan berat.

Saya saat ini hanya berharap dan berdoa, agar diberi kesempatan oleh Dia untuk bisa hidup disini selama mungkin. Menikmati suasana yang tenang, tidak terlalu stress, waktu bersama keluarga yang begitu dihargai, lingkungan yang bersih dan tertib, aman, dan nyaman.

Dan, pendidikan serta pelayanan kesehatan yang lebih baik dan profesional yang dijamin oleh pemerintah sehingga kita ada tempat mengadu jika diperlakukan kurang sesuai dan tidak akan telantar walaupun kita tidak punya biaya sekalipun.

Terimakasih Tuhan… terimakasih…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s