My Culture Shock

Culture Shock, sebuah istilah yang bisa dibaca disini, dan bisa dicari di google sana sampai seabrek-abrek informasinya.

Tapi, saya mau bercerita apa itu culture shock dengan versi saya, terutama yang saya alami. Sebuah perjalanan yang tidak mudah dan penuh perjuangan, terutama perjuangan melawan diri sendiri, sulit Bos!

Pindah ke Benua Selatan, seyogyanya sudah pernah saya jalani setahunan lalu di 2015. Saat itu saya mengalami serangan culture shock di antara bulan kedua ke bulan ketiga. Benar seperti yang dikatakan di artikel diatas jika kita akan mengalami masa bulan madu, itupun yang saya rasakan dulu dan sekarang.

Kali ini, seharusnya saya lebih siap siaga, itupun saya masih mengalami serangan culture shock untuk kesekian kalinya. Terus terang mengalami culture shock itu ga enak bingitss… ada rasa campur aduk yang tidak bisa saya gambarkan dengan apapun.

Yang paling awal saya rasakan adalah culture shock waktu dan cuaca. Tapi kedua hal ini masih bisa saya tengahi dengan mencoba menyesuaikan jam biologis dan kebiasaan menerima cuaca sejuk nan dingin disini. Dan semua berjalan baik sampai hari ini, walaupun kadang masih rada kaget juga sih.

Lalu saya juga mengalami culture shock makanan, nah… untuk yang satu ini, untung istri mau bersusah payah masak ini itu sampai bisa dijadikan bekal buat makan siang saya setiap kerja. Ya lumayan lah, selain hemat bisa mengobati sedikit rasa rindu walaupun tidak sampai 70% makanan di Jakarta sana tersajikan di meja makan.

Selanjutnya culture shock bahasa, terus terang saya lebih suka berbahasa Indonesia daripada Inggris. Ada rasa bangga saat berbahasa Indonesia dan percaya diri, ya iya lah… bahasa Ibu geto loh… nah…. disini semua pakai bahasa Inggris, haduh… bukan saya ga mau, tapi selain jarang pakai saya juga belum percaya diri pakai nya. Oke… oke… harus bisa karena mau hidup disini, but come on… saya kan lagi culture shock !!! Dan masih banyak culture shock lainnya.

Baiklah… sebetulnya yang paling parah culture shock di pekerjaan sih.Kenapa begitu, karena saya mengalami double shock disini. Pertama saya mengalami culture shock karena beberapa hal, bedanya skill yang lebih dibutuhkan disini dimana pernah saya tuliskan jika 2 skill utama saya tidak begitu terpakai saat ini (dan saya berdoa juga berharap agar dimasa depan 2 skill saya bisa berkontribusi maksimal) membuat saya merasa tidak bisa berkontribusi banyak, baiklah beda di Jakarta beda di Australia, tapi entah kenapa setelah 1 bulan saya jadi merasa kok ter-asing-kan, bayangkan kalian yang cuma ngerti bikin sayur asem berada di tengah-tengah orang yang sedang sibuk dan diskusi tentang masakan padang. Oke… oke… saya harus belajar dan mempelajari hal baru itu, saya akan lakukan itu semaksimal dan secepatnya, walaupun untuk mengejar hal yang sama seperti 5 tahun lalu saat saya masih seorang engineer tidak akan sama dengan saat ini dimana saya sudah masuk level managerial selama 4 tahun. Belum lagi bicara komunikasi yang 99% menggunakan bahasa Inggris, kebiasaan kita yang dulu apa-apa tinggal nyerocos pakai bahasa Indonesia, lalu harus switch ke bahasa lain menjadi tantangan tersendiri, dan sebetulnya itu hal bagus karena kita dipaksa pakai dan langsung practice di lapangan.

Baiklah itu bukan alasan, apapun itu saya harus mengerti jika disini saya harus open minded dan mau menerima semua hal. Ya… semoga culture shock ini cepat berlalu, karena saya merasa semua ini terjadi karena banyaknya penyesuaian yang harus saya lalui.

Kedua, post power syndrome, ya… itu mungkin sedang terjadi pada saya, sebuah sindrom yang terjadi karena dulu saya berada di posisi atasan, memiliki power, sibuk banget, bisa menentukan banyak hal bahkan boleh tidak nya sebuah design disampaikan kepada pelanggan, tiba-tiba disini semua itu dilepaskan. Saya bukan orang yang gila jabatan, tapi cara kerja yang dulu sudah auto dan sedikit supervisi mendadak berubah menjadi under supervisi membuat saya jadi kagok dalam bekerja. Saya jadi berada di posisi serba salah, banyak tanya takut dibilang bawel dan lambat, tidak tanya di tegur terus karena gaya kerja dan respon ke customer disini ternyata punya gaya sendiri yang jujur bagi saya terlalu ribet, tapi ya beda budaya kan… dimana bumi dipijak ya disana atap dijinjing.

Walaupun saya juga sudah menyelesaikan beberapa proyek selama sebulan, proyek collaboration ehm… ya bisa dibilang collaboration walaupun saat ini masih dipakai teknologi voice nya saja, karena system ini sebenarnya bisa video, chat dan bisa sampai ke mobile device. Selain itu ada beberapa proyek kecil mengganti cisco router dengan cyberoam dan mengaktifkan koneksi VPN IpSec, migrasi link VPN dari 1 provider ke provider lain, membuat multiple SSID untuk customer yang ingin punya koneksi guest mode dan troubleshooting jaringan customer yang mengalami drop out sampai ke kabel-kabel nya (karena saya dulu juga tarik kabel dan terminasi, apalagi saat menjadi engineer Nortel jadi lumayan lah ada pengalaman yang bisa digunakan).

Entahlah… saya merasa mungkin ini karena saya sedang berada dalam keadaan culture shock dan syndrome posisi.

1 harapan saya saat melihat website dari 2 perusahaan lain (karena perusahaan saya adalah hasil merger dari 3 perusahaan) adalah mereka bisa mendapatkan banyak proyek dibidang networking, wireless, dan collaboration karena dengan begitu maka saya bisa meningkatkan kemampuan saya lebih baik lagi di bidang yang sudah saya rintis dari dulu. Apapun itu, keadaan ini harus bisa saya lalui… dan saya harus bisa mengejar skill di bidang Microsoft walaupun hanya dasar dulu.

Tuhan sudah membuka jalan bagi saya untuk impian mustahil yang sudah saya rancang, mungkin semua ini hanya pikiran dan perasaan saya saja yang merasa kurang banyak berkontribusi dan berguna di pekerjaan ini, padahal atasan saya justru berpikir saya adalah salah satu kartu As untuk mengembangkan bisnis mereka ke arah yang lebih lebar dan luas lagi. Mungkin semua ini hanyalah my culture shock yang harus bisa saya kalahkan dan lalui.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s