Diantara…

Sejatinya, saya sedang dalam posisi melawan culture shock yang sedang dan masih saya alami saat ini, berat…

Saya beruntung memiliki kawan-kawan yang selalu membantu saya (baik lewat telepon maupun chatting) melewati hari-hari dimana saya sedang mengalami shock, yang kadang biasa saja tapi kadang begitu kuatnya mengguncang hati dan pikiran saya. Saya tidak menginginkan hal ini, sangat tidak… akan tetapi hal psikologis seperti ini berada diluar kuasa saya untuk mengatur kapan datang dan kapan pergi, yang bisa saya lakukan hanya bertahan dan melawan.

Saya juga beruntung karena memiliki seorang istri yang begitu tangguh menghadapi perubahan besar ini, sekaligus menghadapi perubahan yang terjadi dalam diri saya yang sedang berusaha saya lawan. Tidak mudah… sangat tidak mudah, tapi saya harus bisa melawannya.

Setiap pagi, saya selalu berdoa, mengeluh, bercerita, dan memohon kepada Nya yang saya percaya. Saya minta agar saya dibantu, saya berusaha mengumpulkan semua hal positif dan baik untuk membantu saya, dan saya berusaha menyibukan diri saya dipekerjaan untuk mengalihkan pikiran saya.

Saya seperti berada diantara… diantara baik dan buruk yang terjadi begitu saja dalam pikiran saya… diantara kuat dan tidaknya saya menahan semua yang berpusar dikepala saya… diantara ingin dan tidaknya saya berada disini… diantara masa lalu dan masa kini… diantara Jakarta dan Melbourne…

Menurut banyak orang yang saya ajak bicara, ini sangat normal terjadi pada orang yang mengalami perubahan besar seperti saya… dan memang hal ini tidak mengenakan…

Saya… berusaha menikmati dan berdamai dengan psikologis ini, dan melawan di setiap titik yang bisa saya lawan… demi anak-anak saya… demi keluarga kecil saya… demi masa depan kedua anak saya…

Saya harus bisa keluar dari diantara.

Mendaki… itu berat!

Saya tidak tahu sampai detik ini apa yang membuat saya begitu berani meninggalkan semua hal yang sudah saya capai di Jakarta untuk merantau ke Negeri Kangguru ini.

Apakah saya ingin menjadi orang kaya? Tidak… saya lebih suka menjadi orang yang biasa saja.

Saya hanya bangun pada suatu pagi menjatuhkan pandangan mata saya yang masih 5 watt saat itu pada muka polos anak pertama saya yang sedang tidur begitu pulasnya lalu berpikir, “jika memang saya memiliki jalan untuk memberikan yang terbaik untuk anak saya, apakah akan saya ambil walaupun harus ditukar dengan kenyamanan saya?”

Saya tidak mengerti apa yang membuat saya berpikir jika di Australia bisa memberikan hal yang lebih baik bagi anak-anak saya, baik itu pendidikan, kesehatan dan lingkungan daripada di Jakarta. Saya hanya percaya saja, tidak lebih tidak kurang.

Dan, setelah sampai disini, saya melihat, saya merasakan, saya menjalani dan saya berada ditengah-tengah mimpi saya, menjalani dan merasakan secara langsung getaran demi getaran yang membuat saya memutuskan untuk meninggalkan semua di Jakarta untuk berani melangkah kesini…

Getaran yang kadang lembut kadang terlalu keras sampai hampir membuat saya menyerah… getaran-getaran yang membuat adrenalin saya bergejolak menari ditengah debar-debar karena masih tidak percaya jika saya bisa berdiri disini, ditengah-tengah pusaran mimpi yang saya bangun berlandaskan sebuah kepercayaan dan beratapkan sebuah kemustahilan. Saya benar-benar sedang menjalani sebuah kemustahilan yang terbuka menjadi sebuah kenyataan, sungguh besar Dia yang Maha Besar.

Apapun itu, saya merantau…. saya seorang perantau… walaupun diseberang sana sejauh ribuan kilometer saya masih memiliki sebuah rumah untuk pulang kelak.

Suatu hari nanti, di atas sana, saya akan duduk bersama Papa, sambil menikmati secangkir kopi kental kesukaan dia, kami akan bertukar cerita mengenai sepak terjang kami mengejar hal-hal terbaik yang kami percaya bagi anak-anak kami, sepahit dan semanis apapun langkah itu bagi kami… semoga saya bisa…

Suatu hari kelak, tunggulah cerita-cerita seru dari saya Pap… salam untuk Kakak disana ya…

Hal-hal baru di Australia (1)

Setelah beberapa lama di Australia, saya mulai menemukan hal-hal baru disini, hal-hal yang kadang membuat kagum, kadang bikin ketawa.

Pasar

Disini, pasar yang menjual barang-barang segar seperti sayuran, buah dan daging-dagingan ternyata tidak semua berbentuk pasar seperti bayangan kami. Dulu, saat kami tinggal di Thornbury, kami sering ke pasar segar di Preston, pasar nya lebih mirip kompleks toko ketimbang pasar tradisional seperti yang sering kami temui di Jakarta. Pasarnya bersih, tertata dan ada tempat duduk untuk makan di tengah-tengah. Toko yang menjual daging-dagingan dikelompokan jadi 1 bagian, dan memiliki sekat. Nah, kali ini saat kami tinggal di Balwyn, kami pun mencoba mencari pasar segar di daerah sini. Konyolnya, kami ternyata pernah melewati pasar tersebut 3 kali saat mengurus sesuatu di Centerlink (pasarnya ternyata disebelah centerlink) dan tidak menyadari jika kami melewati sebuah pasar. Setelah sebulan lebih kami baru sadar ternyata yang sering kami lewati itu adalah pasar hahaha…, pasarnya ternyata lebih bersih lagi, dengan pintu kaca, didalam nya lebih seperti supermarket daripada pasar sih…

Acara TV anak-anak

Disini ada 1 channel khusus untuk acara anak-anak, namanya ABC Kids. Seharian penuh semua acaranya adalah acara anak-anak, mirip seperti disney junior kalau di TV langganan di Jakarta. Bedanya, disini kita tidak perlu langganan dan acaranya hanya sampai jam 7 malam saja.

Budaya antri

Budaya antri di Australia sangat kuat, bisa terlihat dari orang yang akan naik transportasi umum akan menunggu semua penumpang turun terlebih dahulu sebelum mereka berusaha merangsek masuk dan saat masuk pun tertib tidak saling dorong dan sikut seperti naik KRL atau Busway di Jakarta hahaha… Selain itu, di setiap lampu lalu lintas 99,9% kendaraan akan berhenti di belakang garis stop, ya… ada beberapa yang tidak tapi sangat sedikit. Dan disini kadang ada 2 lampu lalu lintas dalam jarak 500 meter sebelum persimpangan, jadi ada 1 lampu lalu lintas di persimpangan dan dibelakang nya dalam jarak 500 meter ada 1 lampu lalu lintas lagi, biasanya lampu lalu lintas ganda begini ada di tempat yang memiliki penyebrangan pejalan kaki dan pengguna tram, dan jika lampu lalu lintas sebelum penyebrangan sudah merah, walaupun didepan sebelum lampu lalu lintas persimpangan kosong mereka tetap berhenti. Seandainya di jalanan Jakarta juga begitu ya… #ngarepdotcom. Begitu juga di tempat-tempat umum, mereka menunjukan budaya malu jika menyerobot.

Pejalan kaki dihargai

Selama tinggal di Australia, saya sangat mengagumi cara penduduk sini memperlakukan pejalan kaki, selama kita ikut aturan, menyebrang pada tempat dan waktu nya, kita sebagai pejalan kaki benar-benar diperlakukan seperti raja, bahkan dibeberapa titik yang tidak memiliki lampu lalu lintas tapi ada zebra cross, kendaraan akan berhenti dan memberi pejalan kaki kesempatan untuk menyebrang.

Manula, anak-anak dan penyandang cacat

Di Australia, khususnya di Melbourne, hampir seluruh fasilitas umum dibangun dengan mempertimbangkan manula, anak-anak dan penyandang cacat. Terutama anak-anak, disini saya merasakan sekali anak-anak sangat diperhatikan, banyak fasilitas yang dibangun untuk anak-anak, seperti taman-taman dibangun dengan fasilitas bermain, bahkan perpustakaan pun sampai mengadakan acara-acara khusus di hari-hari tertentu untuk anak-anak. Dan, kami tidak tahu ditempat rekreasi lain, tapi kami beberapa kali ke kebun binatang disini kami agak heran, karena justru di hari libur, tanggal merah, dan liburan sekolah anak-anak gratis, tapi jika di hari sekolah anak-anak bayar hahaha…

Minum dari keran

Disini, air minum bisa langsung di minum dari keran, di tempat-tempat rekreasi dan jalan-jalan utama biasanya terdapat titik-titik keran air minum yang bisa diambil gratis. Airnya segar (bagi saya) dan terasa lebih murni daripada air galonan yang saya konsumsi di Jakarta sana. Karena disini air bisa diminum, sampai menyiram taman saja ada aturannya dari pemerintah, karena disini penduduk nya memang dibimbing untuk bisa menjaga alam dan tidak serta merta membuang-buang sumber daya alam untuk hal-hal yang sebetulnya tidak diperlukan.

Errr… Buang A** B****

Nah, khusus yang satu ini juga baru, disini ga ada air yang bisa kita semprot atau gunakan untuk bilas-bilas kalau abis serangan fajar atau sekedar fhifhis… Semua menggunakan tissue hehehe… jadi ya pintar-pintar lah menjaga diri #eh membawa diri saat harus menuaikan kewajiban yang satu itu, kalau saya biasanya berusaha agar buang a** b**** dilakukan di pagi hari, dan abis itu langsung mandi jadi kan sekalian bersih-bersih, atau di malam hari sebelum mandi hahaha… apalagi disini kalau sedang dingin biasanya mandi hanya sekali, antara pagi atau malam (saya milih malam sih jadi pas tidur sudah bersih).

Tertib

Disini bisa dibilang sangat tertib, nyebrang jalan, antri, buang sampah ditempatnya, sampai-sampai jika ada emergency semua memberi jalan kepada ambulance, mobil polisi, atau pun mobil pemadam kebakaran. Bahkan saat sedang macet dan ketiga jenis kendaraan itu lawan arah, pengguna jalan disini tetap minggir dan memberikan jalan. Hemm… membayangkan di Jakarta dulu dimana sedang macet parah lalu ada sirine dari belakang minta jalan tapi tidak berdaya karena sudah tidak ada ruang, eh setelah lewat ternyata kawal-kawalan orang kaya atau mobil orang kaya yang dipakaikan sirine, disini aturan nya ketat jadi jangan harap bisa nguang-nguing seenak jidat kalian mau sekaya apa juga. Apalagi kalau sampai ada mobil ambulance/ polisi/ pemadam yang tidak sedang urgent tapi berani menyalakan sirine, err… ga tahu deh bakal diapain itu petugasnya.

Takut hukum eh… taat hukum

Penduduk di Australia, masing-masing sudah mengerti konsekuensinya jika melanggar hukum. Memang, masih ada ditemui pejalan kaki bandel yang nyebrang sembarangan, mobil yang tidak berhenti dibelakang garis stop dsb nya. Yang membedakan adalah disini hukum nya tegas dan lebih jelas, salah ya di denda, ga mau di denda ya masuk penjara. Selama mengikuti aturan kita bisa klaim jika kita benar, tapi saat terjadi sesuatu dan kita tidak dalam aturan yang benar jangan harap kita bisa menjadi benar walaupun kita diposisi yang dianggap lebih lemah, misalnya kita jalan kaki nyebrang sembarangan lalu ditabrak mobil, jangan harap kita jadi pihak benar karena kita jalan kaki seperti di Negara kita hehehe…

Tanggal merah

Nah, satu ini juga baru nih. Disini ternyata tidak semua tanggal merah sama untuk semua negara bagian. Seperti hari ini Melbourne di negara bagian Victoria adalah hari buruh dan libur, tapi di Sydney sana yang berada di negara bagian NSW tidak libur dan hari buruh nya di tanggal lain. Jadi tidak semua tanggal merah berlaku di seluruh Australia hehehe…

Itulah hal-hal baru yang saya temui disini, seru-seru sih, kadang suka senyum-senyum sendiri (kaya orang stress ya?) kalau sedang mengalami hal-hal itu atau melewatinya. Tapi yang pasti, saya bersyukur karena diberi kesempatan hidup di Negara tertib dan bersih seperti Australia, ya mungkin saya merasa disini tertib dan bersih karena Indonesia masih belum setertib dan sebersih disini, semoga suatu hari nanti kita juga bisa setertib dan sebersih ini ya…

Nah itulah hal-hal baru yang saya rangkum selama disini, nanti saya tambah lagi jika ada.

My Culture Shock

Culture Shock, sebuah istilah yang bisa dibaca disini, dan bisa dicari di google sana sampai seabrek-abrek informasinya.

Tapi, saya mau bercerita apa itu culture shock dengan versi saya, terutama yang saya alami. Sebuah perjalanan yang tidak mudah dan penuh perjuangan, terutama perjuangan melawan diri sendiri, sulit Bos!

Pindah ke Benua Selatan, seyogyanya sudah pernah saya jalani setahunan lalu di 2015. Saat itu saya mengalami serangan culture shock di antara bulan kedua ke bulan ketiga. Benar seperti yang dikatakan di artikel diatas jika kita akan mengalami masa bulan madu, itupun yang saya rasakan dulu dan sekarang.

Kali ini, seharusnya saya lebih siap siaga, itupun saya masih mengalami serangan culture shock untuk kesekian kalinya. Terus terang mengalami culture shock itu ga enak bingitss… ada rasa campur aduk yang tidak bisa saya gambarkan dengan apapun.

Yang paling awal saya rasakan adalah culture shock waktu dan cuaca. Tapi kedua hal ini masih bisa saya tengahi dengan mencoba menyesuaikan jam biologis dan kebiasaan menerima cuaca sejuk nan dingin disini. Dan semua berjalan baik sampai hari ini, walaupun kadang masih rada kaget juga sih.

Lalu saya juga mengalami culture shock makanan, nah… untuk yang satu ini, untung istri mau bersusah payah masak ini itu sampai bisa dijadikan bekal buat makan siang saya setiap kerja. Ya lumayan lah, selain hemat bisa mengobati sedikit rasa rindu walaupun tidak sampai 70% makanan di Jakarta sana tersajikan di meja makan.

Selanjutnya culture shock bahasa, terus terang saya lebih suka berbahasa Indonesia daripada Inggris. Ada rasa bangga saat berbahasa Indonesia dan percaya diri, ya iya lah… bahasa Ibu geto loh… nah…. disini semua pakai bahasa Inggris, haduh… bukan saya ga mau, tapi selain jarang pakai saya juga belum percaya diri pakai nya. Oke… oke… harus bisa karena mau hidup disini, but come on… saya kan lagi culture shock !!! Dan masih banyak culture shock lainnya.

Baiklah… sebetulnya yang paling parah culture shock di pekerjaan sih.Kenapa begitu, karena saya mengalami double shock disini. Pertama saya mengalami culture shock karena beberapa hal, bedanya skill yang lebih dibutuhkan disini dimana pernah saya tuliskan jika 2 skill utama saya tidak begitu terpakai saat ini (dan saya berdoa juga berharap agar dimasa depan 2 skill saya bisa berkontribusi maksimal) membuat saya merasa tidak bisa berkontribusi banyak, baiklah beda di Jakarta beda di Australia, tapi entah kenapa setelah 1 bulan saya jadi merasa kok ter-asing-kan, bayangkan kalian yang cuma ngerti bikin sayur asem berada di tengah-tengah orang yang sedang sibuk dan diskusi tentang masakan padang. Oke… oke… saya harus belajar dan mempelajari hal baru itu, saya akan lakukan itu semaksimal dan secepatnya, walaupun untuk mengejar hal yang sama seperti 5 tahun lalu saat saya masih seorang engineer tidak akan sama dengan saat ini dimana saya sudah masuk level managerial selama 4 tahun. Belum lagi bicara komunikasi yang 99% menggunakan bahasa Inggris, kebiasaan kita yang dulu apa-apa tinggal nyerocos pakai bahasa Indonesia, lalu harus switch ke bahasa lain menjadi tantangan tersendiri, dan sebetulnya itu hal bagus karena kita dipaksa pakai dan langsung practice di lapangan.

Baiklah itu bukan alasan, apapun itu saya harus mengerti jika disini saya harus open minded dan mau menerima semua hal. Ya… semoga culture shock ini cepat berlalu, karena saya merasa semua ini terjadi karena banyaknya penyesuaian yang harus saya lalui.

Kedua, post power syndrome, ya… itu mungkin sedang terjadi pada saya, sebuah sindrom yang terjadi karena dulu saya berada di posisi atasan, memiliki power, sibuk banget, bisa menentukan banyak hal bahkan boleh tidak nya sebuah design disampaikan kepada pelanggan, tiba-tiba disini semua itu dilepaskan. Saya bukan orang yang gila jabatan, tapi cara kerja yang dulu sudah auto dan sedikit supervisi mendadak berubah menjadi under supervisi membuat saya jadi kagok dalam bekerja. Saya jadi berada di posisi serba salah, banyak tanya takut dibilang bawel dan lambat, tidak tanya di tegur terus karena gaya kerja dan respon ke customer disini ternyata punya gaya sendiri yang jujur bagi saya terlalu ribet, tapi ya beda budaya kan… dimana bumi dipijak ya disana atap dijinjing.

Walaupun saya juga sudah menyelesaikan beberapa proyek selama sebulan, proyek collaboration ehm… ya bisa dibilang collaboration walaupun saat ini masih dipakai teknologi voice nya saja, karena system ini sebenarnya bisa video, chat dan bisa sampai ke mobile device. Selain itu ada beberapa proyek kecil mengganti cisco router dengan cyberoam dan mengaktifkan koneksi VPN IpSec, migrasi link VPN dari 1 provider ke provider lain, membuat multiple SSID untuk customer yang ingin punya koneksi guest mode dan troubleshooting jaringan customer yang mengalami drop out sampai ke kabel-kabel nya (karena saya dulu juga tarik kabel dan terminasi, apalagi saat menjadi engineer Nortel jadi lumayan lah ada pengalaman yang bisa digunakan).

Entahlah… saya merasa mungkin ini karena saya sedang berada dalam keadaan culture shock dan syndrome posisi.

1 harapan saya saat melihat website dari 2 perusahaan lain (karena perusahaan saya adalah hasil merger dari 3 perusahaan) adalah mereka bisa mendapatkan banyak proyek dibidang networking, wireless, dan collaboration karena dengan begitu maka saya bisa meningkatkan kemampuan saya lebih baik lagi di bidang yang sudah saya rintis dari dulu. Apapun itu, keadaan ini harus bisa saya lalui… dan saya harus bisa mengejar skill di bidang Microsoft walaupun hanya dasar dulu.

Tuhan sudah membuka jalan bagi saya untuk impian mustahil yang sudah saya rancang, mungkin semua ini hanya pikiran dan perasaan saya saja yang merasa kurang banyak berkontribusi dan berguna di pekerjaan ini, padahal atasan saya justru berpikir saya adalah salah satu kartu As untuk mengembangkan bisnis mereka ke arah yang lebih lebar dan luas lagi. Mungkin semua ini hanyalah my culture shock yang harus bisa saya kalahkan dan lalui.