Tags

, , , , , , ,

Hari ini, saya sedang dalam posisi stress di pekerjaan hahaha… sangking stress nya sampai saya bingung mau ngapain setelah pulang dan selesai bermain dengan anak-anak plus ngobrol panjang lebar dengan istri, akhirnya saya nulis saja deh… nulis bagi saya bisa menjadi terapi untuk menyalurkan stress, setidaknya sebelum saya tidur.

Sebenarnya saya tidak perlu stress begini, mungkin karena masih shock  dengan budaya kerja baru disini, ditambah saya masuk kembali ke ranah teknis yang sebetulnya sudah saya tinggalkan cukup lama (kurang lebih 4 tahunan) saat saya masuk ke bagian design, consultancy, dan management. Tapi, semua ini adalah tantangan yang harus bisa saya lalui, terlepas dari apapun alasan yang muncul mengenai hal teknis yang saya hadapi, sebetulnya bukan masalah besar untuk masuk ke bagian teknis lagi, hanya saja kadang saya terlalu tinggi memasang sebuah bendera sehingga secara tidak langsung menjadi minder saat tidak bisa mencapai setengah dari target yang saya pasang, padahal semua butuh waktu untuk dipelajari (lagi).

Bicara mengenai stress handling sebetulnya saya sudah cukup banyak belajar sejauh jalan hidup saya yang naik dan banyak turun ini, yang namanya stress itu sudah tidak terhitung lagi, dan saya belajar banyak sekali dari semua itu.

Hidup saya itu penuh dengan titik – titik…

Sejak kepergian (alm) Papa 17 tahun silam, kehidupan saya yang bagai roller coster pun dimulai. Saya menjalani hidup dalam kepasrahan kepada Tuhan, bergerak dari satu titik ke titik yang lain tanpa tahu apakah titik dan tujuan itu benar atau tidak. Saya hanya berpegang pada 3 hal sejak saat itu, yaitu Tuhan, Impian dan Berjuang.

Titik demi titik saya lalui dan saya raih, titik yang kadang mewakili sebuah gambar dari impian yang saya rajut dan kejar, impian seorang anak yatim yang hanya bisa berjuang tanpa warisan sepeserpun. Impian yang kemudian membawa saya sampai sejauh ini sekarang, sejauh benua di selatan bernama Australia, membawa istri dan anak saya kesini agar bisa memberikan pendidikan terbaik yang bisa kami raih dan berikan ditengah semua keterbatasan kami yang diperkuat oleh Tuhan melalui doa-doa yang kami panjatkan.

Saya hanya mencoba untuk tidak menyerah, setidaknya tidak menyerah terlalu cepat. Dan, tentunya dengan tetap bersandar kepada Tuhan karena hanya Dia-lah yang bisa menolong kami disaat kapanpun dan dimanapun. Saya… melalui banyak hal yang direncanakan Tuhan bagi kehidupan saya dan keluarga, hal-hal hebat yang bahkan saya sendiri pun tidak percaya jika hal itu bisa terjadi terlepas dari tidak menyerah nya saya dalam mengejar sesuatu sambil berdoa.

Hidup saya adalah hidup titik-titik, bergerak membuat garis dari satu titik ke titik lainnya berusaha menjadikannya sebuah gambar, gambar dari impian yang saya kejar, tanpa tahu apakah titik tersebut adalah tujuan yang benar atau tidak, selain hanya bersandar pada tuntunan Tuhan saat melangkah dan menggariskan sebuah coretan kehidupan.

Jika saya pernah untuk tidak menyerah pada hidup saya, pernah untuk tidak menyerah mengejar impian saya bagi keluarga saya, pernah untuk tidak menyerah mengejar impian saya bagi kedua anak saya, maka sekarang saya harus tidak menyerah pada keadaan yang mengusik kenyamanan saya yang sebetulnya harus saya kalahkan, dan yang harus saya kalahkan adalah diri saya sendiri (seperti kata Donny Verdian dalam percakapan saya dengan dia sore tadi).

Saya pasti bisa melalui semua ini, pasti bisa kembali menjadi seorang engineer seperti dulu, pasti bisa mengejar semua hal teknis yang sudah pernah saya tinggalkan maupun tertinggal.

Ini hanyalah hal kecil lainnya yang harus saya lalui… demi hal besar yang masih jauh didepan saya walaupun sudah terlihat dan hanya sejarak genggaman tangan.

Hidup saya hanyalah hidup titik titik, yang bergerak dari satu titik ke titik yang lain.

………………………………….. se-sederhana itu ………………………….

Advertisements