Berangkat (Lagi)…

Dejavu… itu yang kami rasakan sekarang, letupan adrenalin yang terpompa kembali, menghiasi kehidupan saya dalam 1,5 bulan terakhir ini. Rasa senang, optimis, sedih dan khawatir bercampur menjadi satu tanpa bentuk.

Tahun 2015 lalu, di bulan September kami pernah melakukan hal yang sama, yang kemudian kami putuskan untuk pulang dulu setelah 3 bulan disana karena satu dan lain hal yang sudah pernah saya jabarkan sebagian disini.

Hari ini, kami memutuskan lagi hal yang sama, akan tetapi kali ini kami pergi dengan sebuah persiapan yang lebih matang, lebih tersusun, lebih menjanjikan, dan dengan kondisi yang lebih baik. Dan tentu dengan semua pertimbangan yang lebih lengkap karena kami sudah pernah mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai kelebihan dan kekurangan yang ada disana.

Tuhan menjawab Devosi Salam Maria dan doa-doa yang setiap pagi saya panjatkan dengan cara-Nya yang (seperti biasa) sangat elegan, tidak kalah elegannya dengan saat Dia mengarahkan saya untuk pulang dan menyelesaikan beberapa hal di Jakarta terlebih dahulu, salah satu nya menyelesaikan Sakramen Krisma (Penguatan Iman) saya, dan disamping itu perjalanan yang lalu membuat saya belajar banyak hal terutama pelajaran dalam kehidupan berkeluarga. Selain itu, kepulangan saya pun membuat saya memiliki beberapa kesempatan untuk menyelami beberapa teknologi diluar kompetensi saya, mengenal team hebat, mengenal orang-orang hebat dan yang pasti memiliki kesempatan mengenal salah satu perusahaan yang hebat.

Saya… yang dulu sudah hampir menyerah, kemudian berusaha bangkit lagi untuk mengejar kembali impian sederhana saya, yaitu ingin menyekolahkan anak-anak saya diluar sampai setinggi mungkin. Impian yang sebetulnya mustahil untuk saya wujudkan di tengah keterbatasan saya, dengan latar belakang ekonomi yang saya miliki, tapi… Dia menjawab dengan cara-Nya yang bahkan tidak pernah terlintas di kepala saya.

start

Dia… menjawab doa saya. Hal yang membuat saya merasa malu karena banyak nya mukjizat yang terjadi di tengah semua hal yang saya anggap “ahh… itu mustahil”, ternyata kemudian satu per satu ditunjukan jawaban oleh-Nya dengan cara yang tidak terduga dan tidak terpikirkan.

Dan, banyak yang menganggap saya ini ndableg (red: bahasa jawa) karena masih ngotot melakukan langkah ini lagi, apalagi ditengah semua kenyamanan yang sudah terbentuk dan karir yang terlihat menjanjikan. Iya, saya memang ndableg, saya tidak mau terbangun 20 tahun kemudian, lalu menyesali semua kesempatan yang saya lewatkan ini dan membiarkan impian saya tetap berada dikepala selamanya, dan saya pun hanya bisa membangun kepercayaan diri jika saya pasti bisa mendapatkan semuanya kembali disana, pada suatu hari nanti. 

Yang saya miliki saat ini hanyalah sisa-sisa keberanian dan semangat yang sudah pernah runtuh sebelumnya, yang saya kumpulkan dengan susah payah. Saya… hanya menolak untuk menyerah sekarang… karena salah satu alasannya adalah masih memiliki kesempatan untuk membawa keluarga saya untuk hidup dan membesarkan anak-anak di kota terlayak sedunia sebanyak 6 kali berturut-turut sampai 2016 – the most liveable city.

“Tapi, kamu tetap terlalu berani! Apalagi sudah mulai mapan dan stabil lagi disini”

Saya mengerti… mapan dan stabil adalah 2 titik yang akan kita cari sebagai kepala keluarga baik disini maupun disana. Dan, saya akan mengejar itu saat disana dengan semua kesempatan yang ada didepan saya, tolong dukung kami dengan doa ya 🙂

Disana tidak semua baik, kami mengerti. Setiap tempat akan ada kelebihan dan kekurangan nya. Pengalaman kami di 2015 memberikan peta yang lebih jelas kepada kami, walaupun ada beberapa hal mendasar yang tidak bisa kami bantah jika disana lebih baik. Begitu pun disini, beberapa hal seperti keluarga, makanan, cuaca, bahasa dan budaya adalah substansi yang tidak akan pernah tergantikan disini. Pertimbangan ini tidak dilakukan dalam waktu singkat dan keputusan ini tidak diambil dengan proses mudah. Sebuah keberanian harus kita miliki untuk memutuskan langkah seperti ini, dan… saya melihat cahaya disana untuk itu saya mencoba menjadi berani sekali lagi mengejar mimpi saya disana, untuk kedua anak saya.

Saya tidak semata-mata mengejar uang sebagai pencapaian, saya ingin melakukan hal yang bisa dikenang, hal-hal tidak biasa yang bisa menjadi cerita.

Kami berangkat, dan kami pasti bisa bertahan kali ini. Dia, akan menyertai langkah kami dan memberkati setiap langkahnya seperti yang selama ini kami dapatkan. Kami pasrahkan kepada-Mu perjalanan ini.

Santo Stefanus (martir pertama), Santa Rafaela Maria Poras, Santo Antonius (dari Padua), dan Santo Leonardus (dari Porto Mauritio), doakanlah kami. Bunda Maria dan Yesus, kami serahkan sepenuhnya ke tangan-Mu.

Sampai jumpa Jakarta… Melbourne, kami datang kembali untuk berjuang…

Kami berangkat (lagi)

Pict Source : https://www.theodysseyonline.com/open-letter-to-every

Advertisements

2 Replies to “Berangkat (Lagi)…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s