Sakramen Krisma

Akhirnya, setelah tertunda selama 7 Tahun dari janji yang saya buat kepada Romo Suherman saat menikah dulu di Kathedral, kemarin sore, tepat nya tanggal 15 Oktober 2016, akhirnya saya dipantaskan untuk menerima sakramen krisma (penguatan iman) oleh pembimbing saya yang sudah susah payah meluangkan waktu nya setiap hari minggu, kadang bahkan sabtu sampai seharian untuk menemani kami rekoleksi, pengakuan doa, dll bersama para Romo di Gereja.

Sakramen yang ditujukan sebagai tanda sebuah kedewasaan Iman yang akan menghasilkan banyak arti dan penafsiran jika di-sari-kan. Bagi saya pribadi, kedewasaan Iman adalah kemampuan kita untuk memampukan hati kita agar bisa menerima dan pasrah kepada rencana-Nya, ini bukan hal mudah, terutama jika apa yang diarahkan oleh-Nya ternyata berlawanan dengan keinginan manusiawi kita yang (biasanya) didukung oleh ego yang kuat.

krisma

Setiap pagi… saya merenung dan masuk keadalam keheningan. Dalam keheningan itu saya mencari… mencari dan mencari pesan yang tersembunyi di dalam setiap peristiwa yang terjadi, terutama jalan pulang yang harus saya ambil. Sering kali saya bertanya kepada Tuhan “Tuhan…, jika memang Kau menginginkan saya berada disini, lalu kenapa Kau memberikan jalan kearah sana?”, sebuah pertanyaan yang sampai saat ini belum saya dapatkan jawabannya…

krisma2

Ya… apapun itu… terlalu banyak misteri dalam sebuah pesan dari setiap peristiwa yang terjadi dalam rentang hidup kita. Mungkin… dengan melalui persiapan sakramen krisma ini sampai dengan penerimaan dari Bapak Uskup Agung, bisa memberikan setitik terang kedalam diri saya untuk bisa lebih peka dalam merasakan sentuhan yang dikirimkan melalui peristiwa-peristiwa yang terjadi.

Sebuah kedewasaan itu, tidak diukur dari banyak nya uban di kepala dan tidak diukur juga dari lamanya napas dihembuskan. Semoga saya dimampukan untuk mencapai kedewasaan Iman. Sebuah kedewasaan untuk membimbing keluarga kecil saya, sebuah kedewasaan untuk menerima istri yang sudah saya pilih dan tetap setia kepadanya, sebuah kedewasaan yang bisa dijadikan sebuah panutan bagi kedua anak-anak saya, sebuah kedewasaan yang bisa menuntun langkah hidup saya agar bisa berguna bagi sesama.

………

Sesaat sebelum penerimaan Krisma, saya melewati sebuah meja panjang yang berisi kertas-kertas berbentuk hati yang diberikan tali untuk digantungkan pada pohon doa di Gereja. Saya pun berhenti, lalu saya menuliskan 1 kalimat doa saya… sebuah doa untuk harta yang sangat saya syukuri, yang telah membuat saya menempatkan hati saya disana…

“Selalu lindungi keluarga saya, Tuhan”

Saya pasrahkan kepada-Mu…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s