Tags

Pagi ini, ditemani secangkir kopi Kapal Api panas, saya menikmati hari libur karena hari ini kami bangsa yang besar ini sedang memperingati hari kemerdekaan Indonesia.

71 tahun sudah…

Indonesia… sejatinya adalah bangsa yang besar, bangsa yang kaya dan bangsa yang (bisa) kuat, jika diurusnya bener. Negeri ini punya segalanya… dari sumber daya alam melimpah, penduduk muda yang luar biasa banyak, sampai kemampuan berkoar-koar yang luar biasa seperti saya ini #ups

Beberapa waktu lalu (bahkan sampai saat ini) saya memiliki keinginan untuk melakukan migrasi, karena saya melihat ada hal-hal yang tidak saya lihat disini, misalnya tertib, pemerintah yang (terlihat) memperhatikan warga nya dll.

Sampai 1 waktu, saya baru sadar jika ternyata banyak kawan-kawan saya memilih pulang setelah lama tinggal disana. Saat saya tanya “kenapa?” jawaban mereka cukup mengejutkan saya. Saat saya tanya lagi “disana bukannya lebih enak?” jawaban mereka lebih mengejutkan lagi.

Simple nya gini, kalau mengurus 23 juta warga nya saja masih ada yang kelaparan dan kewalahan mengendalikan drugs dll, bagaimana kalau disuruh mengurus 250 juta warga? masih mampu mengeluarkan tunjangan sebesar itu? masih mampu untuk…. ah… sudahlah…

Jadi untuk diaspora yang tinggal disana, tidak perlu terlalu berbangga hati sampai menyanjung negara orang terlalu tinggi. Apalagi sampai mengkritik negara sendiri, yang saya teliti lebih jauh ternyata tidak pernah mengkritik negara tempat mereka numpang makan dan buang air besar disana (numpang? iya lah, selama judul sampeyan adalah seorang imigrant, sampeyan itu numpang bro…). Dan, sudah barang tentu mereka akan berlindung dibalik “ane belum melihat ada yang kurang berkenan disini bro”, belum bisa melihat atau takut diusir? itu beda bro… apalagi kalau sudah ganti Passport, aihhh… bisa jadi cerita AT kesekian itu hahaha… #bentarngopidulu

Mau tahu kenapa dewasa itu mahal dan jarang? karena belajar dewasa itu sulit… sulitttt sekaliiii… kalau belajar nya saja sulit dan jarang orang mau melakukannya, apalagi benar-benar menjadi dewasa??

Ya… setidaknya saya menjadi belajar 1 hal dari semua ini, ternyata… yang namanya akar itu tidak akan pernah tercabut dengan bersih. Dimanapun kalian berada, dan apapun sebutan keren kalian bagi diri kalian sendiri yang merasa keren karena sudah berhasil hidup disana yang katanya lebih maju, kalian tetap Indonesia, gaya tetap gaya sini, bacotnya pun tetap bacot sini, jadi ya… harap maklum dan belajarlah belajar dewasa.

“Trus lu sudah ga tertarik untuk migrasi nih jo?”

Ooo… tentu masih donk… masih sangat tertarik, tapi saya tidak mau ikut-ikutan menghujat atau mengkritik yang menjatuhkan seperti mereka-mereka yang mengklaim dirinya sebagai diaspora. Ibu sendiri kok diejek-ejek sedangkan Ibu orang lain disayang-sayang. Dimanapun saya berada saya tetap didikan ASIA, didikan Timur. Sekalipun nantinya saya benar-benar migrasi, saya tetap akan mengingat jika tanah ini yang membesarkan saya, memberi saya makan sampai saya berhasil merantau. Dan… eh… saya ini adalah yang kalian sebut dengan istilah kafir, keturunan, dan cina. Sok nasionalis lu Jo !!! Ayolah… kalian bisa lebih baik dari saya, berkali lipat!!!

Ibu sendiri kok diejek-ejek sedangkan Ibu orang lain disayang-sayang

Dan, hey… kita juga tidak sedang memilih MALAIKAT saat pilpres lalu, kita hanya memilih seorang MANUSIA yang kita anggap lebih baik dari manusia lainnya untuk mimpin negeri ini. Sempurna itu hanya milik Tuhan bro… Jadi jika ada yang tidak pas ya mau gimana lagi, coba deh lu selalu bikin seneng orang 1 rumah setiap hari nya, mampu? bagaimana caranya bikin seneng 250 juta manusia yang sebagian besar hanya mampu bermulut besar saja. Dewasa saja bro… kalau tidak mampu menjadi dewasa setidaknya belajar bro… jika tidak memiliki kemampuan untuk belajar setidaknya tidak perlu ikut merusak bro… biarkan kerusakannya segitu saja, tidak perlu ditambah. Atau sampeyan saja yang duduk di kursi no 1 itu, buktikan sampeyan bisa lebih baik ! itu lebih gentle daripada hanya bercontong-ria apalagi dari seberang-seberang sana seperti saya ini… tidak baik, jangan seperti saya.

hey… kita juga tidak sedang memilih MALAIKAT saat pilpres lalu, kita hanya memilih seorang MANUSIA yang kita anggap lebih baik dari manusia lainnya untuk mimpin negeri ini

Mau bercontong, silahkan… buktikan contongnya itu sekolah dan keluar dari otak yang berpendidikan, apalagi jika sudah hidup di negara yang dibilang negara maju sekian lamanya. Tidak susah donk jika sekedar mengeluarkan kalimat kritik yang membangun.

Seburuk apapun Negeri ini, Negeri ini sedang berbenah. Jika tidak bisa ikut berperan, setidaknya bantu doakan saja, jika tidak bisa juga ya setidaknya jadilah penonton bukan komentator, tidak bisa juga? setidaknya jadilah komentator yang positif dan membangun, tidak bisa juga bro?? ya udah tidur saja… setidaknya jangan menjadi bagian yang merusak.

Kemerdekaan itu mahal, tapi kesetiaan itu lebih mahal lagi. Mau tahu apa yang lebih mahal dari kesetiaan? DEWASA Bro… 🙂

Dirgahayu 71 tahun Negeri ku, Merdeka itu tidak mudah !!!

Eh… eh… mau nanya boleh donk…, ada tidak Negeri/Negara/Pemerintahan yang 100% sempurna tanpa cacat? jawabannya adalah….

Dan, saya baru ngeh alasan kenapa banyak kawan-kawan saya memutuskan untuk tidak aktif di social media bahkan sampai memutuskan untuk tidak memiliki account social media setelah menetap disana… ahh… ga keren lu orang….

ga ada hubungannya ya? ^^

Advertisements