Tags

, ,

16 tahun… sudah lama ya… tidak, justru terasa cepat. Seperti baru kemarin saya melepas kepergian (alm) Papa di ranjang nya di rumah sakit mitra kemayoran setelah hampir 11 bulan berjuang melawan kanker paru-paru stadium 3A yang di deritanya. 11 bulan penuh dengan kegelisahan, pertanyaan-pertanyaan tidak terjawab, ketidakpastian, dan yang pasti lelah fisik dan mental…

Jujur… saya mengagumi semangat berjuang dan pantang menyerah Papa yang begitu gigih berusaha mempertahankan napas nya agar bisa melihat anak-anak dia menjadi sarjana, karena dia merantau ke tanah jawa untuk hal itu, impian tertinggi dia.

Walaupun… apa yang dia lakukan kemudian membuat kami yang ditinggal setengah mati karena biaya yang dihabiskan benar-benar menghabiskan…

Ya…. tetap ada hal positif dibalik semua itu, saya menjadi terlatih dengan sangat keras dalam menjalani sekolah kehidupan yang ternyata sangat terjal dan tidak mudah ini, baik secara mental, sikap, maupun semangat.

16 tahun Pap… 16 tahun yang lalu, hari ini Pap pergi selamanya. Hari ini juga saya mengantar jenazah untuk kedua kalinya pulang ke Tegal (setelah mengantar jenazah kakak 1 bulan sebelumnya). Dan, 2 hari setelah ini saya pun mengangkat jenazah untuk kedua kalinya masuk kedalam peti (setelah mengangkat jenazah kakak 1 bulan sebelumnya). Dan, tentu berlanjut sampai ke peristirahatan terakhir untuk kedua kali nya juga…

Lelah… stress… bingung… sedih… berusaha tegar… pasrah… semua bercampur menjadi satu dan tidak jelas. Yang ternyata… setelah semua prosesi ini selesai, meninggalkan sebuah perjalanan untuk seorang remaja 20 tahun dengan berkali-kali lipat lebih cape, stress dan tidak jelas… sampai terkadang saya bergetar sendiri saat membayangkan jalan yang sudah saya lalui sampai hari ini… Tuhan sungguh luar biasa. Saya mampu seperti sekarang ini, itu karena Tuhan… Dia telah mengelilingi saya dengan malaikat-malaikat tidak bersayap Nya. Yang mengembalikan jalan saya ke jalur yang benar saat melenceng, yang mengingatkan saya saat saya mulai tidak benar, yang membantu saya saat saya harus merangkak, yang menyemangati saya saat saya sedang hilang harapan dan jatuh.

Perjalanan yang keras dan terjal, penuh ketidakpastian, penuh dengan penderitaan… walaupun akhirnya Tuhan memberi jalan untuk saya membenahi hampir seluruhnya.

Apa kabar mu disana Pap 16 tahun ini? Cucu mu sudah ada 5 loh…

Saya suka membayangkan Pap sedang duduk sambil membaca koran kompas atau koran bola, sambil sesekali menyeruput kopi kapal api pahit kesukaan mu, dengan rambut dan kumis yang sudah mulai berhias uban, dan garis-garis keriput dimuka mu yang setiap garisnya mewakili kerasnya jalan kehidupan yang sudah kau lalui demi pendidikan anak-anak mu ini. Yang saat ditanya dan diajak diskusi selalu memasang gaya dan tampang santai serius, yang kemudian akan memberikan kalimat wejangan halus lewat suara mu yang berat dan nge-bass, dan gaya bicara mu yang khas…. hahh… Pap… Pap… selalu bikin kangen…

Salah satu kalimat mu Pap saat diakhir, “Papa tidak takut jika harus mati, Papa lebih takut bagaimana kalian setelah Papa tidak ada, Papa tidak meninggalkan apapun untuk kalian”

Ada… Pap meninggalkan sebuah semangat, cara berpikir, dan yang pasti kesempatan belajar kepada Guru Kehidupan, sesuatu yang jauh lebih berharga dari segunung emas, atau setumpuk uang.

Tenang dan bahagialah Pap disana… kami baik-baik saja dan akan semakin baik kedepannya. Kami berhasil bertahan dan melewati semuanya, dan kami pun mulai berhasil bangkit sedikit demi sedikit walaupun sangat tidak mudah dan harus berjuang setengah mati, salam untuk kakak ya…

Kami selalu merindukan mu Pap… sampai kapan pun… sampai kapan pun…

Advertisements