Tags

, ,

Dalam doa novena yang saya panjatkan minggu lalu selama 9 hari selama liburan panjang, hanya 1 hal yang saya minta yaitu berikan sebuah sinyal atau pertanda agar saya bisa mengambil keputusan dengan hati yang mantap apakah tetap disini saja atau mencoba lagi memuaskan rasa penasaran saya dengan kesana.

Doa tersebut membuat saya akhirnya mendapatkan sebuah turning point yang memang pernah disarankan salah satu kawan baik saya beberapa waktu lalu. Turning point ini, tidak mudah dibuat saat itu karena didalam hati saya masih beriak tidak tenang, saat ini hal itu sudah lebih tenang setelah saya novena.

Sekarang saya meminta agar diberikan jalan jika memang jalan saya harus kesana. Setidaknya jawaban ini akan menjawab turning point yang saya tentukan yang kemudian (diharapkan) bisa menjadi trigger saya mengambil keputusan dengan hati yang lebih mantap dan legowo apapun hasilnya. Turning point ini tidak serta merta keluar begitu saja, ini adalah rangkuman dari masukan-masukan yang saya minta ke banyak pihak yang tentunya salah satu pihak itu adalah istri saya. Masukan dan pandangan dia lah yang saya bobot paling besar karena dia suka tidak suka akan ikut merasakan pahit manis nya berjuang bersama saya disana saat turning point ini terwujud.

Saya pun menghubungi salah satu kawan baik saya di selatan sana yang kebetulan istri nya adalah seorang job seeker consultant untuk membantu saya memoles CV dan CL (Cover Letter) yang lebih sesuai jika ingin melakukan apply job disana dari overseas. Saya beruntung memiliki bantuan-bantuan di dalam kebingungan saya ini, karena tidak banyak orang yang benar-benar ingin membantu dengan hati walaupun sesama perantau dan merasakan kesulitan dasar yang sama.

Saya tentu masih menyimpan sebuah harapan agar turning point yang saya buat ini bisa terwujud karena saya masih merasa jika apa yang saya tetapkan ini masih masuk akal. Sebetulnya ada 2 turning point yang saya buat, 1 sebagai primary dan 1 sebagai secondary, halah… IT Minded banget ya hahaha… turning point kedua saya buat dan jika tercapai dan yang pertama masih belum terwujud, maka saya akan mengambil jalan kedua dengan resiko yang lebih besar. Semoga tidak perlu sampai saya ambil yang kedua.

Jalan hidup setiap manusia dan keluarga itu berbeda. Hal yang sesuai disatu keluarga dan pribadi belum tentu sama dan sesuai jika diterapkan dilainnya. Itu kenapa kita tidak bisa mengambil kesimpulan dari perbandingan apple to apple untuk hal seperti migrasi ini. Ada hal-hal mendasar dan principal yang tidak bisa saya bargain begitu saja menyangkut kehidupan keluarga dan anak-anak saya. Hal itu yang kemudian membuat saya sulit menetapkan arah hati saya untuk case yang satu ini.

…kita tidak bisa mengambil kesimpulan dari perbandingan apple to apple untuk hal seperti migrasi ini

Setidaknya, saya belajar banyak pelajaran kehidupan dari apa yang sudah terjadi, terutama sekali adalah saya belajar dewasa.

Mungkin juga saya diberi kesempatan untuk menuaikan salah satu janji saya saat menikah dulu, yaitu menerima sakramen krisma setelah menikah. Siapa tahu?

Mungkin juga saya diberi kesempatan untuk mengamankan beberapa investasi saya terlebih dahulu sebelum benar-benar kesana agar saya bisa lebih konsentrasi disana. Siapa tahu?

Atau, mungkin saja saya didorong untuk keluar dari zona nyaman saya dengan cara yang tidak biasa agar kehidupan saya dan keluarga bisa berlipat lebih baik lagi di masa depan terlepas dari disini atau disana. Siapa tahu?

Semua ini masih menjadi misteri untuk saya, walaupun beberapa jawaban yang saya temui seakan-akan menjawab misteri tersebut tapi hati kecil saya belum merasa jika ini jawaban dari-Nya.

Semoga, apa yang sudah dipanjatkan bisa memiliki sebuah jawaban.

Advertisements