Tags

, , , ,

Beberapa pekan lalu, tepatnya 2 minggu yang lalu kami membawa anak-anak mengunjungi SW (Sea World) di Ancol sana. Anak-anak girang bukan kepalang karena mereka melihat aneka satwa laut baik yang masih hidup maupun yang sudah diawet kan.

Setelah puas, mereka kami ajak ke ODS (Ocean Dream Samudra) melihat aneka pertunjukan dimana salah satunya adalah atraksi ikan lumba-lumba. Sebetulnya beberapa pekan sebelumnya mereka juga sempat kami ajak ke TSI (Taman Safari Indonesia) dan ada atraksi lumba-lumba juga disana.

Hari ini, 1 hari menjelang idul fitri, mereka kami bawa mengunjungi TMII (Taman Mini Indonesia Indah) yang konon menurut berita nya adalah hasil karya Ibu Tien Soeharto, Ibu Negara kedua NKRI.

Kami tidak pergi sendiri, tapi bersama mama saya dan keluarga istri saya. Momen-momen seperti ini adalah momen yang tidak akan bisa dibeli dengan uang, apalagi kita sebagai manusia bukan lah mama koreng eh…, loreng eh…, ya pokok nya itulah yang punya indera ke delapan sembilan sepuluh yang bisa meramalkan masa depan kapan kita masih bisa memiliki momen ini atau tidak.

Reaksi di wajah mereka saat kami ajak ke Taman Legenda Keong Mas dan tempat-tempat rekreasi lainnya benar-benar keluar dengan polos nya. Percayalah kawan, tidak ada yang bisa menggantikan ekspresi wajah nan jujur seorang anak kecil yang takjub saat melihat sesuatu sambil menggumamkan “WOW…” 🙂

Apakah saya bahagia? Tentu… saya bahagia, sangat bahagia, nikmat apa lagi yang harus saya dustakan? Ini adalah salah satu blessing tertinggi yang turun dari yang Maha Tinggi.

Ada beberapa kawan yang bertanya iseng kepada saya karena melihat update-update yang mengalir lancar di laman social media buku-muka (facebook) saya saat sedang membawa keluarga saya refreshing menikmati suasana diluar sana.

Menurut hemat mereka, saya termasuk cepat memulihkan keadaan terutama sisi finansial setelah mengalami ombak nan kuat dan tinggi di Australia sana yang kemudian memulangkan kami dengan keadaan finansial  hampir luluh lantak ke Indonesia.

Tidak… tidak… bukan begitu kawan keadaan nya, finansial saya belum sekuat dulu sebelum ke Australia, saya hanya sudah stabil tapi belum pulih benar.

Lalu? Apakah saya sedang berusaha pamer dan menutupi sesuatu dengan menampilkan kesenangan dll? Tidak… tidak… kawan, saya tidak sedang bersembunyi dari kekecewaan dan kesedihan saya dari kejadian 6 bulan lalu, tidak kawan… bukan itu. Apalagi untuk pamer… tidak ada yang bisa saya pamerkan apalagi harta.

Saya hanya ingin keluarga saya senang dan bahagia dengan batas-batas tertentu yang tidak ke-bablas-an, setidak menurut apa yang menjadi aturan saya untuk batasan nya karena saya tidak ingin anak-anak saya merasa dimudahkan dalam hidup.

Dan selama saya merasa mampu membuat mereka bisa menikmati hal itu, akan saya lakukan tanpa menunggu saya punya tabungan ber ember ember yang cukup buat hari tua (karena bagi saya hari tua hanya milik Tuhan), atau punya rumah selosin, atau punya mobil keren nan beken dulu.

Tidak, itu bisa menyusul tapi momen seperti ini tidak bisa menunggu karena saya tidak tahu detik berikut nya akan terjadi apa.

Banyak hal-hal di dunia ini yang tidak bisa diperoleh dengan uang dan harta, percayalah kawan… bahkan banyak diantara hal itu yang benar-benar lebih berharga dari tumpukan uang dan emas maupun berlian.

Hal-hal yang selalu saya jaga, bukan saya tidak berambisi untuk mencari penghasilan sebesar mungkin, bukan… saya hanya percaya jika semua sudah diatur dan disiapkan oleh-Nya. Kita boleh berambisi, harus malah… tapi, jangan sampai ambisi kita tersebut menutup mata kita terhadap hal-hal lain yang justru hanya bisa dipuaskan oleh waktu yang terus berjalan tanpa bisa kembali.

Semua ini juga yang membuat pertimbangan demi pertimbangan saya menjadi semakin kontras dan adu tarik. Hal yang membuat saya berfikir keras sampai merasa lelah lalu memutuskan untuk pasrah saja pada doa novena yang akan saya lanjutkan setelah menulis tulisan ini. Sebuah doa yang selalu menolong kami selama ini, yang kali ini saya harapkan bisa membantu lagi untuk menunjukan kepada saya jalan mana yang harus saya ambil.

Tidak lupa, di malam takbiran yang membuat ingatan nan kenangan akan masa kecil sampai remaja saya, akan (alm) Papa dan (alm) Kakak saya tergali kembali karena dulu rumah saya di Tegal tepat dibelakang nya ada tempat ibadah kawan-kawan muslim yang biasa disebut langgar (jawa -red),

Kami sekeluarga mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437 H, Mohon maaf lahir dan bathin.

Advertisements