Sepandang Cakrawala

Selayang pandang… terlempar menyeberangi luasnya samudra menjangkau garis cakrawala.

Garis yang begitu angkuh nya berada di titik terjauh sana, seakan membusungkan dadanya seraya berkata “akulah titik terjauh ciptaan Tuhan di Bumi ini”

Pantai, sebuah pesona alam yang begitu indah nya, mungkin karena semua ingatan dan kenangan yang ada, membuat saya begitu mencintai alam yang satu ini. Aroma dari lautan yang merangsek lembut memenuhi bilur-bilur kenangan dalam dada dan pikiran saya, mengoyak seluruh dinding penghalang yang saya bangun agar tidak mudah merasa sedih karena membuat saya harus menyadari jika mereka telah pergi begitu cepatnya, begitu lamanya. Secepat waktu 16 tahun ini kemudian berlalu…

image

Papa dan Kakak, dua orang yang begitu saya dambakan masih berada disekitar kehidupan saya saat ini, agar saya masih memiliki tempat untuk mengadu bercanda dan saling melempar pemikiran, terutama saat-saat dimana saya benar-benar sedang terjebak dalam kalut yang semakin carut marut yang membuat saya tidak mampu mengurut jalan keluar nya secara urut…

Pantai, entah kenapa saya begitu menyukai nya, sangat tenang… dan damai… belum ada 1 tempat pun yang bisa membuat saya benar-benar tenang dan damai selain berada di pantai…

Tempat penuh kenangan karena dulu papa bekerja dan berusaha disekitar pelabuhan Tegal yang tidak jauh dari tepi pantai, salah satu tempat yang memiliki sebidang sejarah dalam perjalanan hidup saya saat tumbuh besar di kota Tegal. Kota penuh kenangan…

Tempat yang begitu menyenangkan sekaligus membuat sedih karena semua kenangan itu seakan saling merangsek berebut keluar seperti ombak yang bergulung cepat nan lembut saling kejar mengejar hanya untuk mencapai tepi lautan nan luas… yang kemudian untuk mereka tinggalkan kembali menuju ke lautan sana, menuju cakrawala…

Dulu… saya selalu mengajak kakak saya yang kusayangi bermain di pantai, kadang kami disana sekedar iseng untuk menikmati deburan ombak dan air sepoi sepoi ditemani aroma khas lautan yang kadang lebih terasa seperti bau ikan asin dan bunyi khas perahu motor nelayan yang hilir mudik menuju pelabuhan yang tidak jauh letaknya. Dengan menggunakan motor F1-ZR yang sudah saya pasang knalpot nungging ala ABG Lebay yang terlalu bising dan mengeluarkan banyak asap yang mengganggu, berbekal helm proyek yang sama sekali tidak ada unsur safety nya, kami sering pergi ke pantai saat matahari akan terbenam, menikmati sore hari nan teduh dibawah pohon nyiur yang melambai dengan manja dan malas menjemput rembulan, sambil menikmati sebutir kelapa muda kami sering selonjoran berdua dengan malas nya sambil bercanda dan sering saling melempar impian tentang masa depan yang akan kami kejar yang membawa kami kedalam percakapan yang begitu akrab dan intim nya. Masa depan penuh harapan yang terlihat begitu indah dan optimis, masa depan dan impian yang kami lempar jauhhhh… sejauh cakrawala di depan kami yang melintang dengan sombong nya di titik terjauh lautan sana dan menertawai kami karena kami begitu yakin nya ingin menjangkau dia dengan impian kami.

16 tahun sudah… dia pergi tidak untuk kembali, lambaian tangan terakhir yang terasa begitu menyayat karena saya tahu saat itu… jika dia tidak akan kembali lagi…

image

Kakak… damailah kau disana kak, saya sampai saat ini masih dan akan selalu memelihara kenangan kita yang begitu singkat namun indah tak terkira, juga impian yang pernah kita lantunkan dengan begitu gagah dan optimis nya walaupun beberapa impian tersebut lebih berat kepada konyol daripada memiliki arti.

Kakak… terkadang saya sering merenung… seandainya kau masih ada kak, seandainya masih ada… banyak hal yang ingin saya tukar pikirkan dengan mu, karena saya yakin seyakin nya jika kau seperti biasanya pasti bisa lebih bijak dan jernih dalam memberikan hasil pemikiran sebagai bahan pertimbangan ku…

Tapi… inilah hidup… sering kali kita tidak bisa menebak, secepat apa dunia akan berubah… bahkan secepat kepergian kau dan Papa yang terjadi hanya dalam waktu 42 hari 16 tahun silam, meninggalkan semua kenangan yang akan selalu saya jaga sampai nanti.

Saya… tidak akan pernah melupakan mu kak… tidak akan… tunggulah kak, akan saya ceritakan kelak seperti apa cakrawala yang pernah kita impian itu saat saya sudah berhasil berada di titik tersebut.

Sampaikan salam ku untuk Papa, kak… damailah kalian disana…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s