Turning Point

Dalam pergulatan yang sedang saya alami karena kebimbangan dalam memilih arah, sahabat sekaligus bapak angkat dari anak pertama saya memberikan saran agar saya menetapkan sebuah turning point.

Sebuah titik dimana saya akan mengambil jalan ke selatan jika hal itu terjadi atau sebaliknya, dalam jangka waktu tertentu.

Sebuah masukan yang sangat membantu, dan entah kenapa untuk menentukan hal itu pun terasa sulit bagi saya.

Sering kali saya merenungi kehidupan yang sudah saya lalui ini, begitu banyak naik dan turun yang memberikan begitu banyak pengalaman yang seharusnya bisa menjadi bekal bagi saya untuk bisa memutuskan jalan mana yang akan saya ambil saat ini.

Entahlah… tapi saya merasakan lagi pesan lain kemudian muncul sekarang, saya diberi kesempatan untuk mengikuti persiapan sakramen krisma yang mudah-mudahan bisa sampai menerima sakramen tersebut di Oktober nanti.

Sebuah hutang sebenarnya, karena saat saya menerima sakramen perkawinan, saya dalam posisi belum menerima sakramen penguatan iman. Saya tidak tahu apakah itu pesan nya, karena Dia yang Maha Tahu mengerti jika saya orang yang males ini sangat kecil kemungkinan akan mencari tahu bagaimana menerima sakramen itu saat di benua selatan.

Dan ini pun lebih seperti sebuah kebetulan yang di gariskan dengan elok oleh-Nya, karena saya ditemukan dengan seorang kawan di kantor yang baru (yang penuh pengarahan yang elegant dari-Nya sampai saya bisa masuk ke kantor baru ini) yang ternyata rumah nya dekat dengan rumah saya dan memberi tahu jika ada persiapan sakramen krisma di Gereja dekat perumahan saya, dan yang lebih keren lagi dia juga belum menerima sakramen krisma sehingga mengajak saya ikut (karena kami seumuran hahaha…) secara tidak sengaja.

Dan juga, jika tidak ada halangan melintang, salah satu kawan saya meminta saya menjadi saksi perkawinan dia nanti di September. Mungkin ini juga salah satu moment yang digariskan nya.

Turning point… hal yang sebetulnya mudah tapi ternyata tidak begitu terlihat kemudahan nya. Semoga saya bisa menemukan point tersebut untuk membantu penentuan yang akan diambil kelak.

Yang pasti… belajar ikhlas dan dewasa itu ternyata tidak mudah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s