Tags

, ,

Beberapa bulan terakhir ini saya banyak merenung… berusaha merunut dan merumuskan satu per satu lembaran pikiran yang berusaha saya satukan sebisa mungkin.

Dalam permenungan dan peperangan yang terjadi dalam diri saya, saya mulai bisa melihat satu per satu sahabat saya yang benar-benar tulus dalam memberikan masukan dan cara berpikir.

Jangankan teman atau teman baik, orang-orang yang lebih dekat dari mereka saja tidak semua benar-benar peduli apalagi sampai tulus.

Lalu apakah mereka salah, tidak. Karena memang sudah khodrat nya banyak manusia hanya mendekat saat membutuhkan sesuatu atau mengharapkan sesuatu atau mungkin hanya karena kepo saja pengen tahu sebuah cerita tanpa benar-benar karena peduli. Disitulah kita di didik untuk dewasa, atau dalam bahasa kekinian menjadi sak supel supel ne dalam berkawan.

Tapi tidak dengan mereka (sejauh yang saya rasakan sampai sekarang), teman-kawan saya ini benar-benar berusaha memberikan pandangan mereka, diberikan dengan gaya yang berbeda-beda tapi semua didasari ketulusan karena mereka ingin yang terbaik bagi saya saat benar-benar akan mengambil keputusan, dan hampir semua mengarah pada 1 pertanyaan pada diri saya saat mereka tahu saya bimbang dalam memutuskan apakah akan mencoba lagi atau tidak dalam mengejar impian saya, “lu itu sudah hampir memiliki semuanya disini, sebenarnya apa sih yang lu cari jo dengan berusaha kesana?”, pertanyaan yang dulu bisa saya jawab dan jawaban itu saat ini justru menjadi pertanyaan yang sedang dicari jawabannya…

Salah satu sahabat saya (yang sebetulnya adalah besan jauh saya juga) yang sudah hidup di Melbourne sana sekian lamanya, yang mengetahui sejarah saya berjuang mendapatkan kehidupan saat ini dengan telak mengatakan

“Sperti yg gw pernah bilang…klo gw berada di posisi loe tp dgn filosofi hidup gw, gw sih merasa gak worth it karena mnrt gw hidup di mana saja sama. Apalgi situasi dunia yg skrg tidak menentu. Mgk klo 10 tahun yg lalu is worth it untuk fight ke sini lg…klo sekarang…hm…kayany gak dah.”

Ya… saya sangat beruntung memiliki mereka dalam perjalanan hidup saya. Mereka benar-benar jujur dalam memberikan pendapat. Terutama pendapat yang satu ini,

“Karena di alam bawah lo itu berkata seperti itu… Cuma pride lo aja yg lebih mengambil alih otak lo…. In the end keinginan lo ke ausie hanya penasaran dan gengsi setelah perjuangan lama dan biaya yg dikeluarkan besar…”

Lain hal nya dengan kawan saya yang lain, yang berusaha memberikan pandangan karena mereka kenal juga dengan mama saya dan sangat mengerti penderitaan dan perjuangan saya dari kuliah dulu seperti apa,

“kalau lu tanya gw, gw sebagai teman lu tidak setuju lu coba kesana lagi, pertimbangkan lagi jo, apa yang lu korbankan terlalu besar hanya untuk kesana mencari apa yang sudah lu punya disini”

Lain hal nya dengan kawan satu nya yang juga adalah bapak angkat dari anak pertama saya,

“kita besar bersama jo, sering berjuang bersama dan diskusi bersama, gw banyak belajar dari lu tentang tidak menyerah dan itu membuat gw berada di posisi gw sekarang, gw pribadi akan coba lagi dan gw mengerti apa yang lu pikirkan karena kita belajar tidak menyerah bersama kan. BUT (is a big but) istri, anak dan terutama mama lu tetap harus dimasukan dalam pertimbangan. Kalau mengingat mereka gw tidak akan coba lagi, hidup itu singkat jo, berbakti itu tidak akan berguna saat ortu kita sudah tidak ada”

Hari semakin dekat dengan hari raya teman-teman muslim, di liburan panjang ini nanti, saya sudah merencanakan untuk membawa pergulatan ini ke dalam Novena. Sebuah prosesi dalam kepercayaan yang saya anut yang selalu membantu saya menemukan jalan keluar.

Setidaknya dari semua yang sudah saya alami ini membuat saya semakin mengerti jika sebuah ketulusan itu memang “mahal”, dan saya merasa beruntung dan kaya karena masih memiliki nya sampai hari ini walau tidak banyak tapi cukup untuk membuat saya merasa penuh.

Advertisements