Tags

, ,

Merasa bodoh? Nulis!

Sebuah kalimat dari blogger kondang Donny Verdian.

Benar adanya, karena saya memang merasa masih bodoh walaupun suka membaca, oleh karena itu saya belajar menulis.

Menulis, bukan hal yang sulit tapi juga bukan hal yang mudah. Ini adalah hal yang sulit-sulit mudah jika tidak ingin dikatakan mudah-mudah sulit, halahh…. nglantur.

Hari ini saya sedang selonjor diatas kasur empuk saya setelah kemarin seharian mengajak anak istri saya jalan ke area cisarua-puncak. Kami berangkat pagi sebelum matahari terbit dan pulang saat matahari terbenam.

Cape? Pasti… kurang tidur, kena macet di jalur puncak saat pulang, dsb. Akan tetapi semua lunas saat saya melihat keceriaan yang ada di muka anak-anak saya.

image

Mereka begitu senang dan antusias saat saya ajak melihat beraneka ragam binatang di Taman Safari Indonesia.

Di satu titik… saya merasa hal yang sangat berharga ini harus tetap dipertahankan dan melepaskan ego serta impian saya untuk mengejar kehidupan baru di benua kangguru sana. Bukan karena saya pesimis untuk bisa seperti ini lagi saat berada disana. Akan tetapi waktu yang terus kejar mengejar dengan umur saya membuat saya harus bisa memikirkan nya dengan sangat hati-hati karena saya bukan orang berada yang dikelilingi lembaran rupiah yang banyak.

Saya menghabiskan waktu 17 tahun di Jakarta untuk membangun semua ini dan nyaris 10 tahun membangun karir untuk benar-benar mendapatkan kehidupan seperti sekarang setelah jatuh terlentang saat ditinggal (alm) Papa saya 16 tahun silam.

Bukan waktu yang singkat, apakah saya harus menghabiskan waktu sepanjang itu juga disana saat memulai semua dari Nol? Tidak jika saya memiliki sesuatu yang bisa mempercepat yaitu dana yang cukup agar kehidupan kami sekeluarga tidak kembali diangkat dari bawah. Nah… itu yang belum saya miliki saat ini.

Kembali lagi kepada apa yang membuat saya ingin kesana, sebuah kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak saya, bagi keluarga saya. Dan sebagai kepala keluarga yang bertanggung dan berjawab, saya pun harus bisa memastikan (walaupun tidak ada yang pasti di dunia fana ini) jika kehidupan kami disana tidak benar-benar harus merangkak dari dasar terutama anak dan istri saya. Kenapa? Karena mereka tidak perlu mendapatkan itu saat ini disini.

Hal itu membuat saya menjadi bimbang (bimbang terus ya…) karena saya terlalu memikirkan apakah saya harus dan berani mengorbankan senyum dan tawa mereka untuk impian yang begitu saya kejar itu.

image

Dalam hidup ini, banyak hal yang tidak bisa diukur dengan sebuah pencapaian, hal-hal dasar sebuah kebahagiaan yang tidak terukur dan teraba.

Lalu… apa yang lebih berharga?

Hal itu yang sedang saya telaah dan cari jawaban nya. Dan tentu, jawaban yang saya dapatkan belum tentu sesuai untuk yang lain, tapi setidaknya bisa menjadi salah satu dasar pertimbangan apalagi jika kalian berada diposisi keuangan seperti saya.

Trus, ga mau kesana lagi nih? Pertanyaan yang belum bisa saya jawab saat ini.

Advertisements