, ,

Diskusi kami cukup intens belakangan ini mengenai apakah kami akan kembali mencoba dan mengejar impian kami lagi atau tidak.

Diskusi yang kemudian mulai mengarah dan dominan ke 1 sisi, sisi dimana kami akan memutuskan untuk mencoba kembali dengan strategi yang berbeda. Yang kemudian ternyata arahnya malah berbalik kepada sisi lebih baik kami tetap disini setelah mendengarkan beberapa masukan dari orang-orang terdekat dan yang kami respect. Terkesan plin-plan ya… memang… saya akui, saat ini hal itu memang masih menjadi bahan perdebatan dan diskusi.

Apa yang kami yakini, masa depan tidak hanya ditentukan oleh dimana kita berada atau kemana kita akan bergerak, karena bagi saya masa depan itu bisa dibangun dimana saja, iya… dimana saja, selama kita tidak menyerah dan mau berusaha, masa depan tidak akan jauh meninggalkan kita, yang tentunya harus dilandasi oleh sebuah iman (jika kita bagian dari yang beragama).

Akan tetapi, kita pun perlu memilah seperti apa masa depan yang ingin kita raih itu. Tidak ada 1 impian yang lebih baik maupun lebih buruk dari yang lainnya, karena semua kembali kepada apa yang ingin kita raih dan kejar. Dan dari situlah kita bisa mulai melihat jalan dan kesempatan yang tersedia untuk kita ambil dan mulai mengejar masa depan yang kita impikan.

Kami pun demikian, 1 sisi kami melihat jika membangun masa depan disini sangat bisa dilakukan, apalagi bisa dikatakan kami sudah dalam posisi cukup mapan dan semua cicilan kami sudah lunas, 1 sisi yang lain kami pun melihat hal yang sama dalam konteks berbeda jika hal ini dilakukan disana walaupun kami harus membangun ulang semua nya dari Nol, dan jujur entah kapan kami bisa berada di titik seperti kami disini. Mungkin sisi pendekatan yang berbeda inilah yang membuat kami bimbang saat ini, jujur kami bimbang…

Hal yang masih dalam tahap pertimbangan dan sungguh berat untuk di putuskan. Kenyamanan yang sudah kami raih disini benar-benar berat untuk di bargain lagi dengan semua hal yang akan kami temui disana. Walaupun, mungkin disana kami pun akan mendapatkan titik ini kembali suatu hari kelak. Lalu timbul 1 pertanyaan, jika memang begitu lalu untuk apa lagi bimbang, kenapa tidak melanjutkan apa yang sudah ada saja disini? Disitulah letak kebimbangan kami, karena sudut pandang kedua hal ini berbeda. Apa yang kami kejar disana, tidak bisa kami dapatkan disini, setidaknya untuk saat ini. Contoh nya : Disana tertib dan teratur, apakah disini bisa? tentu bisa… kapan? ya kapan-kapan entah kapan… 🙂

1 hal yang masih menjadi penyemangat adalah, orang-orang yang jujur kepada kami saat kami minta pendapat baik itu teman maupun keluarga. Ada yang mempertanyakan keinginan kami yang masih mau coba kesana, ada yang bahkan mempertanyakan kenapa kami tidak ingin mencoba lagi. Tentunya hal ini pun akhirnya akan menjadi 2 cara pandang.

Apapun itu, karena dilakukan dan diberikan dengan jujur, tulus dan yang paling penting adalah terbuka, kami hargai karena akan memberikan warna lebih kepada kami dalam memutuskan hal ini kelak.

Ada satu email dari paman saya di Singapura yang memberikan pandangan yang sangat bagus karena entah kenapa ini in line dengan kekhawatiran saya untuk anak-anak saya kelak setelah melihat “malesnya” orang-orang disana yang menggantungkan hidupnya pada tunjangan pemerintah padahal mereka masih bisa produktif. Memang tidak serta merta lalu anak-anak saya akan ikut “males” seperti mereka itu, tapi kemungkinan untuk hal itu terjadi tetap besar.

Ini email nya…

Hi Harjo,

San jiu only provide some brief opinions, the decision is on you.

It is good for one to look forward and workout a better plan for the future, and that depends a lot on our knowledge, experiences and two important factors; our character cum our attitude toward problem solving. We should look more steps ahead but not just a few steps only.

As a father of two, I able to understand your concern over the future of your kids, but Harjo, i was thinking, if you was growth up and educate in Australia you might not be as smart, strong and competence as you are now, so sometime it could be a good thing if a kid able to undergo and learn from a few hard lessons.

In life, there is no fix rule, and normally a bad environment/condition make a kid grow stronger and smarter because they will encounter and have to overcome many problems by themselves since they are young, on the other hand, a good environment may spoil a kid character, as they normally do no have chance to encounter problems that could make them learns as much. Yes environment is important, however how a kid will become in the future, mainly depend on how we educate and cultivate them with the right principal and value of life.

The environment and many facilities in Australia are definitely better than Indonesia and is a better place to stay and study, however it already dive into recession before i started to station in Jakarta since 1989 and has yet to be recovered since then, and Australians are flying all over the places including China to look for job, so i agree that it could be better if you get a proper cum stable job with reasonable income over there first before you consider moving the whole family over.

As the Chinese parents, many of us unable to bear seeing our children suffer and always wanted to provide them the best, but Harjo, we also need to give them a chance to go through and learn as they grow, but we give them proper guideline as they walk the path of growing, only if they do encounter any problem that they unable to solve we will help or we should encourage them to overcome the problem themselves, so they learn and grow better.

All be best.

San jiu

Sebelumnya, paman saya mengatakan jika dia lebih prefer jika saya tetap berada di Jakarta, yang setelah saya baca ternyata tidak saya dapatkan poin nya di email dia diatas, itu kenapa saya menanyakan kembali, dan inilah jawaban dia,

Hi 阿诚,
Everyone of us got different strength/weakness/character/background/mindset … etc, as such there are different ways to suit different persons, and it is all about how each individual put their resources into proper use. For example, many Indonesian Chinese have make their fortune and enjoy life in Indonesia and everywhere they travel to, at the same time also many English Australians have to depend on the government subsidies and struggle to survive in Australia and vice versa. Likewise this happen in elsewhere everyday on this planet earth that we live on.
I understand your concern over the future of your kids and family, and that reflected to me that you are a responsible gentleman and I am happy, proud and respect you for that, at the same time I also understand that you possess some upright but very hard character on some issue just like me in the past, upright character is good, but if we are too hard on certain issue, that upright character will tend to lead us to waste our time and effort in worrying some issues that are too big and beyond our capability to change/care about, for example, corruptions never stop happening since it started thousands of years ago in all the countries, but not only Indonesia, if we unable to change them, we just need to assure that we will not become one of them and STOP wasting any of our time to worry/sick/angry/hate about that, so our limited time and effort can be put in a better use that could benefit our current and future living. For that, we must learn and able to be isolated from any type of disturbances arise from those issues that are beyond our control, so that we always have a clear mind and able to think better and be focused on the right issues that really can affect/benefit us and our family’s current and future lives.
Unless we are capable to make a right choice (that require experiences and a clear mindset capable to have far cum right visions and other factors), otherwise, any alternate choice may diversify our focus and affect us in many ways, as such, decades ago many very poor Chinese in China decided to condemned themselves to stay put in China and focus their development (started from a very low salary general worker) from that weak countries; where from outside, many other stronger countries never stop/trying to bully and take advantages from; at the same time, from within, there are so many more and much serious corruptions take place every day in China as compare to Indonesia, and today many of these very poor Chinese become very successful and super rich not only in term of money, but also in their upright character (they achieve what they are today without corruption, and majority of them are engineers just like you).
YES, I totally agreed that education and many other costs such as medical, housing … etc are very expensive in Indonesia, but again we unable to change that, so we just have to focus and find ways and means to increase our earning power to offset that costs of living effectively. If you think there are limited opportunities you can seek in the Indonesia market which is still at the development state, then the chances in Australia as a developed and saturated market is much lesser. Opportunities lie where the problems are and the daily market size of Indonesia is many times much bigger than that of the Australia, as such, it is obvious that Indonesia got much more opportunities than Australia, but to benefit from these opportunities available yet hidden in Indonesia, one have to use their resources to dig out and have good development plan for that opportunity by themselves, the money that required for the development can be obtained from many big bosses, so how much money you have to develop a good opportunity is never the problem, the real problem is are you able to seize that opportunity before others and got good plan to develop them, if you do have it, I can help to bring you the investors.
For myself, in the case of doing business, I prefer to kick start in Indonesia than in Singapore, because the market size is much bigger and the costs to start are much lower as compare to here in Singapore. Once I able to achieve something in Indonesia, I will be able to expand that elsewhere. Again it also depends on what I am going to do. In the case of job, if any company need me to station in Indonesia, I will go Indonesia even the pay is not attractive and lower than the current market rate, this is because the costs of living in Indonesia is much lower and the most important is, I can use that platform to seek other opportunity.
诚, sometime is good to try, and if your prefer so much to be in Australia, you must think about it properly before you decide, because we do not have any close friend none relative over there and you going to be alone, so it is better if you could secure a job in Australia and settle now properly first before you bring your whole family over.
Best regards.
San jiu

Dan jujur saja, apa yg dikatakan paman saya itu ada benar nya, terutama tentang kesehatan. Saya copy dibawah ini salah satu sharing dari Bapak Sastra Wijaya seorang wartawan senior ABC Plus di Melbourne, Australia mengenai operasi yang harus dia lakukan untuk lutut dia yang di sharing dia di halaman Facebook pribadi dia. Ini hanya bertujuan untuk memberikan gambaran saja, jika disana untuk pengobatan yang tidak langsung mengancam nyawa ya harus mau antri walaupun tersiksa. Atau, menggunakan asuransi dan dana pribadi.

DAPAT DISKON DARI DOKTER: Karena adanya sobekan di dalam lutut (meniscus) maka saya harus menjalani operasi. Di Australia, ada dua sistem ‘layanan’ kesehatan, milik pemerintah dan swasta. Untuk urusan yang gawat darurat seperti misalnya serangan jantung, kita bisa langsung mendapat layanan dari rumah sakit pemerintah.

Untuk urusan lain, kita bisa menggunakan jalur ‘swasta’ untuk urusan yang tidak ‘urgent’. Itupun kalau kita memiliki asuransi kesehatan pribadi. Karena saya memilki asuransi, maka saya bisa meminta agar operasi dipercepat, karena kalau menunggu di rumah sakit pemerintah waktunya bisa lama. Setelah scan ketahuan adanya sobekan, saya segera dirujuk ke dokter ahli dengan masa tunggu tiga minggu, Setelah bertemu dokter, tiga minggu kemudian operasi dilangsungkan.

Yang berbeda dengan pengalaman lain adalah bagaimana cara membayar operasi ini. Ternyata saya harus berurusan dengan tiga (empat) pihak berbeda. Pertama dari dokter ahli yang akan melakukan operasi, kedua rumah sakit swasta dimana operasi akan dilangsungkan, ketiga dokter anestesi yang akan membius selama operasi berlangsung, dan keempat asisten dokter untuk membantu operasi. Surat pertama datang dari dokter bedah yang memberikan rincian mengenai berapa biaya yang harus saya bayar setelah biaya yang ditanggung oleh asuransi.

Dari dokter tersebut saya mendapat rincian bahwa biaya operasi dari dia adalah sekitar 2000 dolar, dan asuransi menanggung 50 persennya. Dari itu, sekitar 1000 dolar, dokter memberikan diskon 30 persen. Jadi saya hanya membayar 700 dolar. Entah mengapa dia memberikan diskon, saya menduga mungkin karena operasinya tidak serumit yang lain.

Dalam surat tersebut disebutkan bahwa rumah sakit nanti nanti akan menghubungi saya, dengan rincian biaya lain lagi. Ada dua biaya di rumah sakit, biaya ruang operasi dan biaya tinggal di rumah sakit (bila diperlukan). Akhrnya karena saya hanya seharian di sana (dari jam 9 sampai 4 sore), saya hanya membayar 500 dolar (sisanya ditanggung asurans).

Surat ketiga datang dari dokter anestesi yang mengatakan saya akan diberitahu berapa biaya yang akan saya bayar setelah operasi selesai. Kisarannya antara 100 sampai 300 dolar. Mengapa bisa begitu? Dia mengatakan bahwa anestesi itu dibayar berdasarkan jam ‘kerja’. Kalau operasinya lama dan sulit maka dokter akan lebih lama menunggu dan karenanya bayarannya lebih tinggi. Mengapa saya masih harus membayar dokter anestesi, ini karena sistem Medicare Australia, disebutkan ‘bayaran’ dari Medicare selama beberapa tahun terakhir tidak meningkat, sehingga mereka harus membebankan biaya kepada pasien.

Saya masih menunggu surat keempat dari asisten dokter bedah. Disebutkan juga bahwa biayanya adalah sekitar 10-20 persen dari dokter utama. Belum tahu apakah itu sudah termasuk dalam biaya lewat rumah sakit atau masih akan ditagih terpisah.
Satu operasi ternyata harus berurusan dengan banyak pihak untuk keuangannya. Untung saja saya tidak harus berurusan dengan pihak asuransi, karena itu sudah ditangani sendiri oleh pihak-pihak yang ‘berkepentingan’ dengan operasi saya.

Sekarang, yang bisa saya lakukan adalah membawa hal ini kedalam doa setiap hari, agar apa yang menurut kehendak-Nya lah yang terjadi, sama seperti saat dulu kami hampir mustahil dalam mendapatkan PR, yang kemudian dibukakan jalan satu persatu oleh-Nya.

Bagi saya hidup dimana saja sama saat ini, yang paling penting adalah keluarga. Karena inti arti kebahagiaan yang sejati dan murni adalah keluarga yang sehat, bahagia dan bersyukur.