Tags

, ,

Beberapa minggu terakhir ini, kami (saya dan istri) sempat beberapa kali berbincang membahas tentang rencana-rencana kami selanjutnya, termasuk salah satu nya apakah kami akan mencoba kembali untuk meneruskan visa permanent resident Australia kami sekeluarga.

Sampai pada kemaren, dimana Long weekend (istilah untuk liburan panjang menjelang akhir pekan di Indonesia) dimulai, diskusi kami hampir menjelang titik akhir mengenai PR itu tadi.

Terlepas dari apa yang ingin kalian katakan atau simpulkan mengenai saya secara pribadi, entah mau dibilang manja, terlalu banyak excuse, tidak all out, dan lain sebagainya karena kegagalan saya tahun lalu disana, 1 hal yang saya ingin kalian mengerti adalah saya membuat 2 kesalahan fatal saat itu.

Kesalahan pertama, saya terlalu percaya, mungkin karena besarnya keinginan yang saya miliki sehingga saya tidak jernih dalam bernalar, membuat saya tidak menggali lebih dalam apapun jawaban yang saya dapatkan dari apa yang saya tanyakan, sehingga membuat saya over confident saat memutuskan untuk migrasi 1 keluarga hanya dengan uang AUD 7000. Jawaban tentang mencari pekerjaan disana tidak sesulit yang dibicarakan orang, sampai kepada besar nya biaya hidup yang tidak dibuka secara transparant berdasarkan income yang diterima, membuat semua langkah saya kacau.

Kesalahan kedua, saya terlalu cepat mengambil keputusan dari apa yang saya baca di dunia internet dari hasil surfing saya, semua sharing yang indah-indah itu, yang tidak di imbangi dengan harga yang harus dibayar saat mendapatkan nya, dan informasi yang setengah-setengah yang (mungkin) sengaja dikemas agar terlihat apik, membuat saya menerima pecahan informasi yang kurang lengkap. Dan itu fatal, karena kebodohan saya sendiri yang menjadikan hal itu sebagai landasan, dan hampir membuat keluarga saya ikut terseret kedalam masalah serius saat itu (yang bagi beberapa orang saya dianggap seorang losser, err… it’s okay, kalian belum tentu mampu seberani saya apalagi lebih baik dari saya dalam hal bertahan di kehidupan yang keras… percayalah itu karena saya sudah melewati hari dimana saya harus berutang hanya untuk makan 2 kali sehari…). Hal inilah yang kemudian membuat saya bertekad untuk membuka seluruh informasi sebanyak mungkin sesuai pengalaman saya disana saat saya harus menuliskan sesuatu di blog ini mengenai PR Australia dan bagaimana kehidupan disana (sesuai yang saya alami dan amati) dengan harapan bisa memberikan informasi yang berimbang kepada pembaca agar mereka memiliki pandangan yang bagus-bagusnya sekaligus memiliki pandangan yang buruk-buruknya, karena tidak ada 1 tempat yang tidak memiliki kekurangan kan.

Jika suatu hari nanti saya memutuskan untuk kembali kesana, dan kemudian benar-benar berhasil hidup dan membangun keluarga disana, saya pun sudah bertekad untuk membagikan pahitnya disana agar berimbang dengan manisnya disana. Agar kalian para pembaca bisa memiliki komposisi informasi yang lebih berimbang saat harus memutuskan dan memiliki kesiapan yang lebih baik saat akan melakukan migrasi.

Lah… ini judulnya kok beda dengan isi?

Hehehe… iya, ini tandanya ketidakmampuan untuk fokus…

Oke, kembali ke liburan panjang, liburan kali ini kami memutuskan untuk bersantai ria saja di rumah, terlepas dari males nya saya mengarungi jalanan keluar kota yang sudah pasti macet sangat pakai banget. Dalam kemalasan kami di rumah, kami beberapa kali saling melemparkan ingatan berupa godaan agar jangan lupa untuk bersyukur. Kehidupan ini sebetulnya sudah luar biasa dan lebih dari cukup bagi keluarga kecil kami. Rumah yang berhasil kami beli dan sudah menjadi milik sendiri, sudah tidak ada tanggungan cicilan lagi sehingga membuat kami bisa dikatakan hidup tanpa hutang saat ini. Belum lagi apa yang bisa kami tabung dan investasikan, dan level kehidupan yang buat kami sudah lebih dari cukup karena kami sudah bisa membeli hampir semua makanan yang ingin kami makan tanpa harus berhitung panjang. Anak-anak yang hampir bisa mendapatkan semua keinginan mereka (hampir… karena saya dan istri bertekad untuk tidak memberikan begitu saja semua keinginan mereka hanya untuk mengejar agar mereka happy).

Membuat kami menjadi bimbang, apakah memang jalan kesana ada artinya dan memang bisa membuat kami lebih baik?

Hanya ada 1 cara untuk mengetahuinya, bawa dalam doa, dan tentunya kami berharap dalam doa kami agar yang terbaiklah yang terjadi menurut-Nya.

Yang pasti, saat akan kesana lagi, strategi yang akan kami terapkan sudah akan berbeda. Dan, hal ini tentunya tidak mudah dan butuh persiapan yang tidak sebentar.

Nah kan… pembahasannya balik lagi ga fokus… gimana sih?

Ya sudah, saya ga ngetik panjang lebar lagi… mungkin ketidak-fokusan ini karena efek long weekend hahaha… happy holiday… 🙂

Advertisements