Tags

,

Beberapa hari ini, emosi saya naik turun membaca tulisan-tulisan dari DV yang dituangkan sebagai kenangan akan ibunda nya yang sudah dipanggil oleh Tuhan.

Rentetan kalimat yang disusun dengan apik dan sambung menyambung bagai gelombang ombak yang damai membuat saya pun larut pada gumulan-gumulan pemikiran 3 bulan lalu saat memutuskan untuk pulang ke tanah air.

Saya akui, selain karena keuangan kami yang tidak sehat untuk memaksakan diri agar bertahan mati-matian disana, ada 1 hal yang terus mengganggu pikiran saya saat memutuskan untuk migrasi saat itu.

Pikiran itu terjadi karena sesaat sebelum hari keberangkatan kami, mama saya tiba-tiba memeluk saya sangat erat di dapur rumah kami saat saya sedang menyeduh 2 cangkir kopi untuk saya dan dia di pagi hari sambil menangis sejadi-jadinya.

“Mama kenapa? Kenapa menangis?” Tanya ku.

“Mama ga mau nangis, tapi ga tau kenapa pengen nangis…”

Saya tahu, saya sadar… kepergian Papa dan Kakak saya secara berurutan beberapa tahun silam masih menyisakan trauma dan rasa sakit padanya, dan itu secara tidak langsung menyeruak ke permukaan saat dia tahu saya pun akan pergi jauh dari nya.

Saat itu saya hanya terdiam… sampai kemudian sebuah kalimat keluar dari mama setelah dia agak tenang “Jo, mama sudah rela, se rela saat harus melarung abu papa mu ke laut beberapa bulan lalu. Kamu disana yang baik ya, seandainya kamu tidak punya uang dan umur mama sudah sampai, jangan paksakan pulang”

Saya terdiam saat itu… kemudian saya hanya menjawab “semoga hal itu tidak terjadi ma, saya akan berusaha pulang saat itu”

Momen pagi itu… sedikit banyak mempengaruhi pikiran saya selama merantau disana. Ada 1 ketakutan jika saya tidak bisa melihat mama disaat terakhir, entahlah… saya belum tentu mampu tegar menerima kenyataan mama pergi tanpa bertemu untuk terakhir kali nya, walaupun dia berkali-kali mengingatkan untuk tidak menjadikan hal itu sebagai beban dan dia sendiri ikhlas jika harus pergi sebelum sempat melihat anak laki-laki (yang sekarang) semata wayang nya.

Memang kita tidak bisa menebak masa depan, akan tetapi kita pun tidak bisa hanya bersandar pada harapan. Saya bisa berjuang dan saya yakin Tuhan akan membukakan jalan, akan tetapi siapa yang bisa menjamin masa depan? Terlebih adanya 1 ikatan ibu anak yang tidak bisa dijelaskan dengan apapun dan tidak tergantikan pada diri saya secara pribadi.

Perasaan itu kemudian mengalun pelan tapi pasti mengganggu perasaan dan pikiran ku, ditambah lagi keadaan disana yang kemudian memaksa saya untuk mengambil keputusan yang sangat sulit untuk pulang, sesulit saat saya memutuskan untuk pergi sebelumnya.

Saat-saat keputusan pulang harus diambil saya pun kembali mengumpulkan sisa-sisa keberanian seperti saat saya memutuskan untuk pergi, perasaan akan bertemu kembali dengan mama menguatkan keputusan ku. Memang hal itu bukan satu-satu nya dasar dan hal itu juga hanya salah satu keping puzzle dari serangkaian kejadian yang belum mampu saya tuangkan disini dengan runut satu persatu. Terlalu banyak hal yang saya yakin kalian tidak akan mengerti karena tidak berdiri diatas sepatu yang ku kenakan saat melalui proses yang sangat rumit saat itu.

Tekad yang saya bangun sekuat batu karang menemui kenyataan jika hal itu ternyata kurang dibangun diatas fondasi yang benar-benar kuat dan kokoh. Dan hal itu sedikit demi sedikit merapuhkan kekuatan dasar yang sudah saya formasikan sedemikian rupa bahkan dengan bantuan doa.

1 minggu kepulangan ku, beberapa percakapan dengan mama membuat ku akhirnya lebih ikhlas merelakan kegagalan ku dan menerimanya sebagai sebuah pengalaman berharga yang kemudian puji Tuhan menjadi salah satu bagian yang mengubah diriku menjadi lebih baik (setidaknya menurut istri dan beberapa kawan ku). Satu hal yang selalu ku ingat adalah kalimat penguat mama yang mengatakan jika saya tidak perlu kecewa apalagi malu (yang kemudian hari diucapkan juga oleh beberapa kawan ku) karena saya sudah berani melangkah dan berani menerima hasilnya dengan lapang dada (walaupun itu bukan hal yang mudah, benar-benar tidak mudah).

Sama tidak mudah nya dengan menuliskan semua itu disini karena saya menghabiskan waktu hampir 1 minggu untuk melakukannya, dan sampai saat ini pun saya masih kesulitan memberikan judul pada tulisan ini……..

Advertisements