Mulai “sadar”

Beberapa bulan terakhir ini, setelah kepulangan saya ke tanah air, berbagai pertanyaan kemudian muncul dan ditujukan kepada saya. Salah satu yang paling sering dilontarkan adalah “masih mau migrasi lagi jo?” Dan “impian lu kandas donk?”

Masalah ingin kesana lagi atau tidak, saya sendiri sampai saat ini belum bisa memastikan nya, walaupun jujur mulai meredup.

Loh, kenapa?

Banyak hal yang kemudian menjadi pertimbangan saya, terlepas dari motivasi saya pada awalnya kenapa begitu ingin migrasi kesana saat itu. Hal-hal tersebut, yang tidak bisa saya runut satu persatu karena terlalu kompleks dan saling berhubungan satu dengan lainnya, akhirnya menjadi salah satu dasar keputusan sementara saya saat ini.

Setelah sampai disana, walaupun hanya sebentar, saya mulai memetakan kelebihan dan kekurangan yang saya temui, dari situ saya mengambil kesimpulan jika hidup di tanah air pun tidak sebaik dan seburuk disana. Banyak hal yang mendasari itu yang kemudian baru bisa saya lihat setelah sampai disana. Indonesia itu lebih indah loh jika ditarik sebuah garis besar, tanah kita lebih menjanjikan karena subur dan penuh dengan sumber daya (terlepas dari pemerintah kita yang tidak mampu memaksimalkan nya sampai detik ini). Kenyamanan yang ditawarkan pun tidak jauh berbeda, walaupun tidak dari sudut pandang yang benar-benar sama.

Lalu mengenai impian saya yang kandas.

Sebetulnya tidak kandas, karena saya berhasil mendapatkan visa nya (yang terkenal sangat sulit itu) dan berhasil membawa seluruh keluarga saya kesana (walaupun sebentar), saya berhasil mencoba menjalani hidup disana, mengikuti budaya sana, mencoba membaur disana, dan semua itu memberikan sudut pandang baru dalam hidup saya. Bahkan saya berhasil mendaftarkan anak saya ke salah satu sekolah disana setelah kami survey kesana kemari (walaupun kami pulang sebelum anak kami memulai study nya).

Impian saya tidak kandas sepenuh nya, seperti yang pernah saya tuliskan saat kepulangan kami, apakah saya akan tetap dibilang berhasil jika akhirnya tidak memutuskan pulang kemarin tetapi setelah 5 atau 10 tahun disana?

1 hal yang tidak bisa saya bantah adalah anak kami lebih bahagia disini. Dan tentunya orang tua dari kami berdua pun demikian.

Hidup disini, tidak sepenuhnya buruk, berbicara menggunakan bahasa ibu sendiri memang terbukti lebih nyaman, hidup dan tinggal di rumah sendiri pun terbukti lebih nyaman dibandingkan tinggal di rumah sewa yang penuh dengan aturan, makanan yang bisa dinikmati pun begitu.

Yang terpenting dari semuanya adalah bersyukur. Satu hal yang tidak bisa saya bantah adalah rasa damai dan nyaman yang tidak saya rasakan selama mengikuti misa disana, mungkin karena bahasa inggris saya payah sehingga tidak bisa mencerna bahasa rohani yang disampaikan pastor disana. Selama disini, saya bisa merasakan damai saat mengikuti misa di gereja.

Saat ini saya melihat Indonesia mulai berkembang dan bergerak ke arah yang lebih baik. Semoga semua nya benar-benar menjadi kenyataan karena saya yakin, kita pun bisa seperti mereka dan hidup disini pun bisa setara dengan kehidupan disana saat negeri ini berhasil berubah.

Ada 1 hal lain yang saya temukan selama disana, pensiun disana memang enak, tapi enak nya itu karena bantuan dan perhatian dari pemerintah sana yang saya sendiri tidak tahu apakah akan seperti itu selama nya. Tapi 1 hal yang pasti adalah, pensiun di Indonesia ternyata lebih murah dibandingkan disana, dan disini kita bisa berkarya apa saja untuk kesibukan di masa tua. Bukan berarti disana tidak bisa, tapi kesibukannya ada di frekuensi yang berbeda. Misalnya, disana saat tua kita tidak bisa berbisnis kecil-kecilan karena banyak aturan yang harus kita penuhi. Kalau disini? Kita bisa melakukan hal sederhana seperti usaha kue kering atau rantangan kecil-kecilan untuk mengisi waktu.

Akan tetapi semua ini adalah padangan saya secara pribadi, sebagai seseorang yang memiliki impian yang begitu kuatnya ingin kesana karena hal-hal baik yang saya lihat sebelumnya, yang kemudian berbalik dan melakukan pertimbangan ulang setelah benar-benar sampai disana.

Advertisements

2 Replies to “Mulai “sadar””

  1. Lagi blogwalking soal hidup di Aus. Baca blognya mas Jo. Inspiratif sekali. Tahun depan aku dan tunangan ada plan mau hijrah ke Aus, baca ini jadi sumber informasi bgd soal persiapan yang harus matang bgd terutama pekerjaan dan biaya survive selama 1 tahun. Tunanganku pernah juga berjibaku hidup di Berlin selama 7 tahun dan balik ke Indo. Banyak yang bilang ‘Gagal’, duh budaya disini emang begitu deh. Bagi ku itu perjalanan hidup orang yang berbeda- beda. Kali ini kita mau coba ke Aus. Karena perjuangan hidup masih panjang dan banyak jalannya. At least we should try. Jadi semangat mas Jo, pasti pas balik ke Aus lagi akan berbeda rasanya.
    *Btw aku juga anak dari kepulauan Riau hehehe.

    Like

    1. Hi adhika, iya… saya memang sengaja sharing yang tidak enak nya juga, agar teman2 yg mau kesana punya 2 pandangan untuk persiapan… terimakasih ya sudah membaca ^^ good luck.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s