Gandasturi

Bahagia kah saya sekarang? Tentu, saya malu kalau bilang saya tidak bahagia saat ini karena itu menjadi salah satu tanda jika saya tidak bisa bersyukur.

Apapun yang ada dibalik rasa syukur itu, karir, pendapatan, kesehatan, rumah, keluarga dan lain sebagainya tidak bisa dijadikan sebuah tolok ukur kebahagiaan seseorang.

Biarkan saya bercerita sedikit mengenai apa yang terjadi 8 tahun yang lalu.

2008 akhir, adalah penanda berhasilnya saya memiliki rumah sendiri yang saat itu masih dalam posisi berhutang kepada salah satu Bank. Saya pun pindah dari kamar kos yang sudah saya tempati selama 9 tahun lebih dan sekaligus membawa mama saya ikut pindah ke rumah yang baru saya dapatkan bersama pacar saya (yang sekarang sudah menjadi istri dan mama dari anak-anak saya).

Saat itu, income saya tidak seperti sekarang, apa yang saya dapatkan hanya berkisar di angka mi fa sol setiap bulan dan setengah nya habis buat membayar cicilan rumah. Saya juga harus membayar cicilan motor thunder 125 yang saya beli saat itu seharga 13 Juta. Belum lagi saya juga memberikan sedikit uang kepada mama setiap bulan agar dia bisa jajan sesuatu yang dia suka karena saya minta dia untuk tidak mati-matian lagi mengejar uang.

Suatu malam, saya mengajak mama keluar ke depan kompleks menggunakan motor dan mampir ke kedai martabak bangka dengan maksud mau cobain martabak bangka untuk pertama kali nya hehehe…

Tapi mata mama saya malah tertuju ke satu makanan yang bernama gandasturi yang dibuat dengan bahan utama kacang hijau. Dia pun mengutarakan niat nya untuk makan gandasturi saja karena sudah puluhan tahun belum pernah makan lagi, dulu sekali dia pernah makan saat masih remaja (lama ya…)

Setelah tanya penjual harga nya berapa dan kemudian melirik isi kantong dan ternyata yang saya bawa kurang jika harus membeli martabak beserta gandasturi, kemudian saya putuskan untuk membeli beberapa gandasturi lalu saya bungkus dan bawa pulang bersama mama.

Sampai di rumah, mama membuat 2 cangkir teh hangat sebagai teman untuk menyantap gandasturi. Kami pun menyantapnya dengan bahagia sambil bercengkarama saat itu sembari bersyukur untuk berkat dari-Nya. Kami bersyukur untuk rumah yang kami tempati walaupun masih cicil ke Bank, bersyukur untuk gandasturi, untuk secangkir teh yang sedang kami nikmati, untuk waktu yang ada sehingga kami masih bisa bersama, untuk kesehatan dsb.

Lalu, apakah rasa bahagia saat itu tidak sebesar saat ini? Dimana rumah sudah lunas, karir dan income sudah membaik, ada keluarga dengan anak-anak yang lucu.

Jawabannya iya, rasa bahagia yang saya rasanya dulu sebesar sekarang. Itulah kenapa, saya tidak pernah mengukur rasa bahagia itu dari sudut pandang banyak nya uang dan harta yang saya miliki, dari banyaknya keberhasilan yang saya raih, dari hal-hal duniawi yang berhasil saya kumpulkan, tidak.

Saya selalu mengukur rasa bahagia itu dari banyaknya syukur yang saya panjatkan. Semakin saya bersyukur semakin saya merasa bahagia. Karena bagi saya, bahagia itu hanya milik orang-orang yang merasa cukup, dan rasa cukup hanya bisa dimiliki orang yang bisa bersyukur.

Eits… tunggu dulu, saya tidak sedang bicara jika kita harus merasa cukup lalu berhenti mengejar impian kita, atau tidak membuat impian baru. Bersyukur itu adalah saat kita bisa melihat dan mengakui jika kehidupan kita berarti dan memiliki arti, karena bahagia itu adalah sebuah cara pandang dan proses bukan sebuah tujuan.

Dan ini adalah definisi bahagia menurut pengalaman saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s