Sebuah ukuran…

Pagi ini (seperti pagi sebelumnya) saya bangun dan ber-hening untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Ada rasa damai di hati setiap saya melakukan hal ini dan rasa damai itu menular sampai ke pikiran saya pada akhirnya.

Setelah selesai, saya iseng mencoba menggali memori-memori saya beberapa tahun kebelakang dan merenung. Ada 1 kata menarik yang kemudian muncul, yaitu “nyaman”

Beberapa tahun silam, saat saya sedang merencanakan masa depan dengan melakukan migrasi, saya mulai mencari tahu dari beberapa kawan saya yang sudah terlebih dahulu pindah keluar negeri. Salah satu kalimat yang pernah saya utarakan adalah “Gua sebenernya sedang mempertimbangkan, karena jujur hidup gua disini sudah mulai nyaman, semua sudah settled dan sudah ada”

Yang kemudian dijawab salah satu kawan saya saat itu “nyaman? Disini nyaman nya beda bro!”

Saya saat itu berpikir (dan agak terpengaruh) mungkin benar nyaman nya beda, ditambah semua informasi yang saya browsing di internet dan hasil pembicaraan dengan kawan-kawan selalu mengarah kepada kenyamanan-kenyamanan itu tadi.

Saat ini, setelah saya sempat kesana kemudian kembali lagi ke tanah air. Saya mulai bisa melihat hal kenyamanan ini dari beberapa dasar dan sudut pandang.

90% orang yang saya ajak bicara adalah mereka yang kesana dalam kondisi berbeda dengan saya, mereka pergi sebelum berkeluarga atau sudah berkeluarga tapi belum memiliki anak.

9% dari mereka kesana tanpa harus memikirkan tempat tinggal, karena pasangannya atau orang tuanya memiliki property disana.

1% nya mereka memiliki dukungan finansial yang tidak sedikit.

Saya, berusaha berjuang kesana dengan 1 anak dan 1 balita, ditambah dukungan finansial (yang tadinya saya pikir pas-pasan) yang ternyata menurut beberapa orang “lu gila bawa uang segitu kesini dengan 1 keluarga?”. Ternyata uang yang saya bawa benar-benar kurang banget, apa daya hanya itu yang saya punya.

Kembali ke kata “nyaman” itu sendiri.

Sekarang, setelah saya mengalami sendiri, saya mulai mengartikan kata nyaman itu dengan versi saya. Nyaman itu, tidak bisa hanya diukur dari kita hidup dimana, dan apa yang kita punya. Karena nyaman sendiri memiliki banyak arti dan pastinya banyak faktor pendukung yang membuatnya menjadi kata “nyaman”.

Dan, tidak setiap kata “nyaman” dari setiap orang memiliki dasar pembentukan yang sama. Setidaknya itu yang saya dapatkan dari pengalaman saya.

Mungkin saya yang terlalu terburu-buru, atau terlalu napsu untuk bisa merasakan hidup di negara lain. Yang kemudian membuat saya membuat keputusan tidak dengan dasar keadaan nyata yang ternyata harus saya pertimbangkan. Misalnya kondisi saat pindah kesana apakah saya sama seperti mereka yang melakukan pembicaraan dengan saya? Karena hal itu tentu menghasilkan tantangan yang berbeda juga dan saya harusnya siap dengan hal itu, setidaknya mempersiapkan nya dan bersiap menghadapi itu.

Sekarang saya akan jujur mengatakan saya terlalu terburu-buru saat memutuskan, rasa frustasi dan stress yang saya alami dulu membuat saya membuat keputusan tanpa berpikir lebih jauh dalam merencanakan keputusan saya.

Frustasi dan stress karena apa? Banyak hal.

Saat ini, saya mulai merasakan nyaman itu lagi. Saya mulai menyadari jika saya orang yang nyaman saat tinggal dirumah sendiri, saat saya bisa melakukan rencana keuangan yang walaupun tidak banyak tapi bisa saya lakukan, saat saya bisa melihat anak saya tertawa lepas dan bahagia karena bisa membuat dinding rumah saya penuh karya dia, saat saya bisa membuat keluarga saya makan tanpa harus sangat berhemat seperti saat disana, saat saya tenang jika ada suatu hal terjadi karena dikelilingi oleh keluarga yang siap membantu terutama jika berhubungan dengan anak, saat saya bisa mandi dengan gayung hahaha… ndeso ya, bahkan hal sederhana seperti saat saya bisa bersih-bersih menggunakan air setelah BAB.

Ternyata… nyaman itu kembali kepada cara kita menyimpulkan, dan nyaman itu akan kita dapatkan saat kita bisa bersyukur. Nyaman itu tidak semata-mata dimana kita hidup atau bantuan apa yang kita dapatkan. Nyaman itu tidak semata-mata hanya karena posisi apa yang kita miliki saat bekerja. Dan nyaman itu juga tidak semata-mata berapa banyak uang yang kita miliki.

Saya tidak sedang menyangkal impian saya untuk melakukan migrasi. Saya hanya sedang menyusun ulang impian saya sekarang tidak dengan dasar apa yang saya inginkan saja, tapi lebih kepada apakah impian ini bisa diraih tanpa menimbulkan luka (banyak luka) pada orang di sekeliling saya. Karena kondisi saya berbeda, dan saya tidak bisa menutup mata untuk hal itu. Saya hanya berusaha bijaksana.

Terus… apakah saya sudah nyaman?

Jujur, iya… sudah mulai nyaman. Dan mulai menyusun impian lainnya selain menimbang ulang impian migrasi ke benua kangguru yang saya lihat mulai berat untuk saya kejar. Bukan karena saya tidak ingin, tapi karena modal yang harus saya kumpulkan belum tentu terkejar, walaupun saya sedang berusaha memikirkan beberapa investasi yang diharapkan bisa membantu mempercepat.

Wah… kalau lu secepat itu bisa nyaman disini, buat apa lagi kesana?

Ini pertanyaan yang jawaban nya tidak ada sekarang. Disini rumah sudah milik sendiri, biaya hidup relatif rendah dan ada yang bisa saya tabung atau rencanakan untuk sisanya, dan lain sebagainya.

Dalam 2 sampai 3 tahun, jawaban ini akan ditemukan (setidaknya saya berharap).

Yang pasti saat ini, saya sedang mencari pesan dari Nya dibalik semua kejadian ini, dimana saya diberi jalan untuk kesana yang kemudian harus pulang lagi, pasti ada pesan dibalik rentetan kejadian ini. Pasti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s