Tags

,

Pagi ini saya berbincang ringan dengan mama, menjelang imlek memang sudah menjadi tradisi mama untuk pulang ke rumah saya karena dia masih kolot cara berpikirnya dengan menganggap jika rumah anak lelaki nya lah yang baru bisa dianggap rumah dia sendiri.

Iseng, saya menanyakan kembali pertanyaan yang dulu pernah ku tanyakan sebelum melakukan migrasi ke Australia (yang kemudian membuat saya pulang lagi ke tanah air).

“Mah, mama sebetulnya lebih senang saya disini atau di Australia?”

Dia menjawab, “tentu saja suka kamu disini, anak laki-laki mama cuma 2, mama sudah pernah ditinggal kakak kamu 16 tahun silam, mama tidak mau ditinggal lagi sama anak lainnya”, tanpa sadar ada setitik air mata di ujung mata tua nya yang kemudian berubah sayu.

Lalu saya menanyakan kembali, “kalau memang begitu kenapa dulu saat saya mau mengejar PR, mama memberikan restu?”

Dia menjawab, “mama sudah tua, kamu masih muda dan punya impian untuk cucu-cucu mama, dan juga mama tau kamu ga bisa ditahan jika sudah memiliki target, kamu akan kejar terus. Mama memberi restu agar jalan kamu lebih ringan, mama tidak mau menjadi beban. Memang mama tidak rela, tapi jalan kamu masih panjang, lihat kamu bisa berhasil dan bahagia mama sudah bahagia. Walaupun mama tahu, mama berat melihat kamu pergi jauh disaat mama sudah bertambah tua, tapi dalam doa mama selalu minta Tuhan bantu kamu meraih impian kamu”

Saya… tidak bisa berkata apapun. Mulut saya tertutup rapat dan hati saya perih… perih sekali…

Saya saat itu hanya berpikir, ternyata selama ini egois sekali ya saya… memang, hal itu tidak seharusnya dijadikan pembenaran. Akan tetapi, saat saya memutuskan untuk merantau jauh, saya lupa menimbang sejarah kehilangan yang sudah memukul mama dengan sangat telak saat (alm) papa dan (alm) kakak saya pergi meninggalkan kami dalam tempo waktu 1 bulan 16 tahun lalu.

Walaupun dia tidak menahan, tapi dia pun tidak rela (dan saya rasa tidak ada seorang ibu pun yang rela) terlebih saat dia pernah merasakan kehilangan yang sangat besar dalam perjalanan hidup nya.

Mah… maafkan anak mu ini… untuk kedepannya saya tidak akan lupa menimbang perasaan mama saat akan memutuskan sesuatu. Walaupun mama selalu mengingatkan “Tanggung jawab terbesar mu adalah istri dan anak-anak mu, bukan mama tapi keluarga mu. Apapun keputusan mu mereka harus berada di prioritas pertama sebagai bahan pertimbangan”

Terimakasih untuk doa dan pengertian nya yang tidak ternilai mah…

Advertisements