Yang kudapat

Sore cerah hari itu, saat saya sedang berada dijalan bersama istri tercinta menikmati jalanan Jakarta dalam mobil kesayangan yang hampir saja berpindah tangan, tiba-tiba terbersit 1 pertanyaan yang saya lontarkan kepada istri saya.

“Orang-orang enak dan beruntung sekali ya, ada orang tua nya yang membantu mereka berkembang, menjalankan usaha, membelikan rumah dll, mereka-mereka ini sekarang jauh lebih maju meninggalkan kita”

Istri saya berkeling dan melirik saya tanpa langsung menjawab. Tidak lama kemudian dia hanya bertanya “masih kurang?”

Pertanyaan yang bagi saya lebih seperti pernyataan skak-mat daripada sebuah pertanyaan.

Ya, jika saya melihat kembali kebelakang, sudah seharusnya saya merasa bersyukur. Saya memulai semuanya dari Nol, benar-benar tanpa sepeser pun peninggalan orang tua sebagai modal. Kami (saya dan istri saya) membangun segalanya dari bawah sedikit demi sedikit, sampai pada akhirnya kami bisa menjalani kehidupan yang lebih baik dari tahun ke tahun, bisa memiliki rumah walaupun kecil, bisa memiliki mobil, memiliki 2 anak yang lucu dan sehat, serta memiliki kehidupan yang serba berkecukupan, bisa sampai mendapatkan PR Australia, pergi dan hidup disana selama 3 bulan dan yang paling penting tetap memiliki waktu bersama anak dan keluarga.

Saya sering kali tidak menyadari itu, dan sering kali istri saya yang menyentil saya. Saya bersyukur, memiliki istri setangguh istri saya, dia benar-benar merangkak bersama saya dari bawah, ikut jatuh dan bangun dari bawah, tidak ada 1 kali pun dia mengeluh dan meragukan saya ditengah semua kekurangan saya terlebih dari sisi finansial pada awalnya, kami bahu membahu membangun kehidupan keluarga kami yang penuh kehangatan dan berusaha memiliki keseimbangan antara mencari rejeki dengan memiliki waktu luang bersama. Karena bagi kami berdua (dan kami sepakat) hidup bukan hanya perkara mencari uang dan memiliki uang banyak, memang hidup membutuhkan uang, akan tetapi ketenangan dan kebahagiaan bukanlah hal yang bisa dijamin oleh uang.

Tuhan sungguh baik, kehidupan seperti ini, benar-benar tidak ternilai.

Lalu semua ini kembali kepada sebuah pertanyaan “masih tertarik untuk migrasi ke Australia?”

Hemm… pertanyaan yang sulit dijawab, karena saat saya kemudian memutuskan untuk migrasi lagi kesana, minimal saya harus memulainya dengan level kehidupan yang sama seperti disini untuk anak istri saya, apakah bisa? Saya tidak tahu.

Yang pasti ada 1 hal yang saya tidak bisa pungkiri (setelah sampai disana), yaitu saya lebih suka tinggal di rumah milik sendiri (walaupun kecil), ya…. home sweet home…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s