Apa yang kau kejar?

Di kehidupan ini, ada begitu banyak hal begitu juga macamnya manusia.

Ada manusia yang mengejar materi sampai mati-matian. Bukan hal yang salah, karena prioritas mereka ada materi, hal itu membuat kalimat “mumpung masih muda kerja keras agar kelak saat tua bisa hidup tenang” terdengar masuk akal. Memang, tidak ada yang salah dengan hal itu selama kita berani menerima kenyataan jika waktu yang sudah lewat tidak akan pernah bisa kembali.

Ada manusia yang mengejar kenyamanan, sehingga mereka pun menjadi malas. Hidup seadanya, bahkan sampai bergantung pada tunjangan-tunjangan dari pemerintah seperti yang saya lihat di Australia beberapa waktu lalu. Apa yang mereka lakukan kemudian membuat kalimat “hidup hanya sekali, jangan dihabiskan hanya untuk mencari uang saja” pun terdengar masuk akal.

Pengalaman saya bersama (alm) papa yang tidak pernah ada waktu untuk keluarga karena membangun usaha nya, membuat saya ingin menjadi manusia yang di tengah saja. Saya mengejar materi akan tetapi juga ingin memiliki waktu menikmati hal lain, terutama menghabiskan sebanyak mungkin waktu yang berkualitas bersama keluarga. Membagi waktu yang saya miliki agar bisa se-seimbang mungkin dalam menjalani hidup yang singkat ini, karena saya tidak melihat jika uang banyak pasti menjamin masa tua yang bahagia dan tenang. Saya berusaha tidak menyia-nyiakan masa muda dengan hanya diisi dengan prioritas uang. Tidak ada kata “mumpung masih ada kesempatan sekarang” dalam kamus saya dalam hal mengejar materi. Mengapa? Karena tidak ada yang menjamin napas saya akan sampai di hari tua, dan saat hal itu benar-benar tidak sampai, saya tidak ingin menyesali waktu yang sudah terbuang hanya untuk mengejar materi belaka. Di sisi lain, tidak ada yang menjamin masa tua saya pasti sengsara jika saya berusaha menyeimbangkan waktu saat ini.

Bagi saya, materi dan umur adalah 2 hal yang tidak pernah memiliki kepastian waktu. Sekarang maupun nanti, jika memang hal itu akan menjadi milik saya maka akan menjadi milik saya, jika tidak maka apapun yang saya lakukan, hal itu tidak akan pernah menjadi milik saya.

Akan tetapi ada 2 hal yang pasti dalam hidup, yaitu waktu dan kematian. Waktu yang telah lewat pasti tidak akan kembali, dengan cara apapun, dan kematian pasti datang menyapa kita kapanpun waktu nya tiba. Itulah kenapa, saya tidak membuat uang sebagai prioritas, akan tetapi pemanfaatan waktu untuk meraih dan menjalani impian-impian saya bersama orang-orang yang saya sayangi sebagai prioritas.

Lalu contohnya apa impian itu? Sangat sederhana, se-sederhana makan bersama keluarga dibawah hujan lebat di tenda seafood sambil bercanda tawa. Bagi saya, tidak ada hal yang lebih membahagiakan dari menghabiskan waktu bersama keluarga. Semakin banyak waktu berkualitas yang bisa dihabiskan bersama keluarga akan semakin membahagiakan saya. Hal itu juga yang mendasari saya berjuang mati-matian untuk migrasi ke benua kangguru beberapa waktu lalu, karena saya melihat disana waktu bersama keluarga benar-benar dihargai, walaupun saya melihat kenyataan jika hal itu juga tidak 100% terjadi.

Dari perjalanan dan pengalaman itulah saya memetik beberapa pelajaran. Salah satunya adalah untuk menekan ambisi saya demi kebaikan anak saya, setelah saya melihat beberapa hal yang terjadi padanya saat disana.

Tidak ada impian yang terlalu tinggi, terlalu rumit, atau terlalu sederhana. Karena sebuah kesuksesan tidak hanya diukur dari banyaknya harta yang kita miliki, tingginya jabatan yang kita pegang, maupun dalamnya ilmu yang kita pahami, tapi juga waktu yang kita manfaatkan dengan baik bersama orang-orang kesayangan kita.

Bahagia itu tidak cukup dengan kata cukup saja. Karena bagi saya bahagia itu hanya bisa dicapai dengan 1 cara, yaitu bersyukur. Karena hanya dengan bersyukur kita bisa merasa cukup dan berani berkata cukup.

Karena, walaupun kita sudah berani berkata cukup karena sudah berhasil meraih impian kita, tetap tidak akan bahagia jika tidak bersyukur.

Bersyukur pun tidak serta merta lalu kita berhenti bermimpi, tetap rajutlah mimpi karena hal itu yang membuat kehidupan berwarna. Akan tetapi pembagian waktu antara mengejar impian dengan menjalani kehidupan juga harus mendapatkan porsi agar hidup bisa lebih berarti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s