Sebungkus Kerupuk

Malam ini, saat saya melewati gerbang perumahan, saya menyempatkan diri untuk mampir ke seorang ibu penjual krupuk bangka di dekat gerbang tersebut, ibu ini selalu ada disana setiap malam menjual beberapa bungkus kerupuk.

Setelah memarkirkan mobil kesayangan saya (yang kemudian balik lagi ke saya setelah sempat pindah tangan saat saya mencoba migrasi dulu) di pinggir jalan, saya pun berjalan kearah ibu penjual itu.

Setelah bertanya berapa harga sebungkus krupuk, lalu saya ambil 2 bungkus untuk anak pertama saya (karena dia suka sekali dengan krupuk) seraya menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan kepada si ibu, saya pun melirik seorang anak perempuan yang kurus kering disebelah nya.

Kemudian saya sadar…

Ya ampun, ternyata si ibu buta…

Ada rasa sedih dan iba saat mengetahui itu, dengan susah payah si ibu meraba lembar demi lembar uang yang ada untuk mencari uang kembalian kepada saya. Dia tidak menyerah pada keadaan dia demi menghidupi anak semata wayang nya.

Mata saya berkaca-kaca, ya Tuhan… dia yang begitu terbatas saja tidak menyerah, sedangkan saya… yang sudah mempunyai pekerjaan dan kehidupan yang baik masih saja komplain dan mengeluh. Saya malu… malu sekali…

Kemudian saya bilang ke Ibu, “bu sudah ga papa kembalian nya buat Ibu saja”

Si Ibu menolak, dia ingin mendapatkan uang dengan berusaha BUKAN karena dikasihani.

DUH… serasa ditampar muka saya mendengar itu… malu sekali ya Tuhan…

Kemudian saya bilang lagi ke Ibu “kalau gitu kembalinya tiga puluh saja bu (karena harusnya 34.000 rupiah)”

Si Ibu pun bertanya “ga papa nih dek? Saya inget ada dua ribuan beberapa lembar tadi, saya cari sebentar ya” sambil meraba-raba lembar demi lembar mencari uang pecahan dua ribuan. Yang langsung saya jawab “ga papa bu bener” yang akhirnya di iyakan si ibu sembari memberikan uang tiga puluh kepada saya dengan mengucapkan terimakasih berkali-kali.

Saya menangis di mobil dalam perjalanan pulang ke rumah. Sesampainya dirumah saya pun menangis dipundak istri saya.

Saya menangis bukan karena kasian kepada si Ibu, bukan juga karena iba… bukan… saya menangis karena saya sadar jika saya kurang bersyukur selama ini, saya lupa jika Tuhan begitu baiknya kepada saya dengan semua yang saya miliki saat ini, sebuah keluarga yang sehat dan bahagia, yang tidak kekurangan. Saya menangis karena saya malu… malu sekali… disaat orang-orang yang tidak seberuntung saya berusaha tegar dan berjuang dibalik semua keterbatasan mereka, saya justru merasa tidak puas dan mengeluh dengan semua hal baik yang saya miliki.

Ampuni saya Tuhan… hari ini sungguh mendapatkan pelajaran yang sangat berharga… sebuah tamparan agar saya sadar jika dibalik semua kegagalan dan semua kejatuhan yang saya alami sampai saat ini, saya masih memiliki banyak hal baik untuk disyukuri, banyak… sungguh banyak…

Pelajaran hidup hari ini… sungguh berharga. Sangat berharga…

Nanti ya Bu, saat saya sudah gajian saya akan beli lebih banyak kerupuk ibu, saya janji. Bukan karena saya kasian sama Ibu, tapi sebagai ucapan terimakasih karena Ibu sudah mengajarkan sebuah ARTI kepada saya tentang kehidupan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s