Tags

,

Setiap minggu, setelah keluar dari gereja, ada sebuah rasa damai yang tidak bisa saya ungkapkan dalam kata-kata.

Ada sebuah perasaan tenang dan damai yang begitu dalam, apalagi mengingat keadaan hati dan pikiran yang masih seperti di atas ombak.

Hari ini, saat selesai misa, saya menyempatkan diri ke Goa Maria untuk berdoa. Tanpa sadar, kedua mata saya berkaca-kaca sembari setetes air keluar di ujung nya, saat saya sedang memanjatkan doa syukur dan 3 kali salam Maria.

Saya menangis bukan karena saya sedih dengan kegagalan saya, sama sekali bukan walaupun rasa perih nya masih terasa. Akan tetapi, saya sedih karena merasa kurangnya bersyukur dalam hidup saya. Saat salam Maria sedang saya lantunkan, saya mengingat kembali siapa saya dulu dan di posisi mana saya sekarang, sudah semestinya saya harus bersyukur. Terlepas dari rasa kecewa yang saya rasakan, tapi saya seharusnya tidak mempertanyakan keadaan ini. Saya harus bisa lebih menerima. Betapa masih manusia fananya diri saya.

Bagi kawan-kawan yang mengenal saya dari dulu. Saya, dahulu adalah seorang pemuda yang tidak memiliki apapun selain seikat semangat, tanpa warisan sepeser pun, tanpa bantuan dari orang tua sedikit pun saat sedang membangun kehidupan mandiri saya. Saya tidak menyalahkan kedua orang tua saya, karena saat itu tinggal Mama saya dan dia pun kesusahan untuk memenuhi kehidupan kami semua. Mungkin istilah banting tulang sampai jungkir balik pun tidak cukup untuk menggambarkan perjuangan Mama saya menghidupi kami setelah kepergian Papa 15 tahun silam.

Banyak orang menilai hanya di titik akhir, mereka lupa memperhitungkan juga cara memulai, proses, dan semua fasilitas bantuan yang tersedia untuk mencapai titik akhir tersebut.

Saya malu… karena saya terlalu angkuh dan pongah, terlepas dari apapun tujuan saya untuk anak-anak saya agar mendapatkan sesuatu yang lebih baik, yang kemudian gagal.

image

Saya malu…

Saya malu sekali…

Advertisements