Tags

Menulis saja Jo, menulis bisa menjadi terapi…

Beberapa waktu lalu, salah satu kawan terbaik saya memberikan saran. Setelah bertukar kata cukup panjang melalui WA, membicarakan hal-hal seputar keadaan yang sedang kami alami, terutama yang sedang saya hadapi.

Saya termasuk orang yang suka menulis, saya suka menuangkan pemikiran-pemikiran ke dalam penulisan. Akan tetapi, terkadang saat berada dalam 1 situasi tertentu saya kehilangan ide, atau mungkin kebanyakan ide sehingga saya sampai tidak tahu harus menuliskan apa.

Saya tidak bisa cerita terlalu banyak disini mengenai apa yang sedang saya hadapi, karena terlalu sensitif untuk beberapa pihak, bahkan bisa saja terlalu pribadi untuk saya sendiri.

Yang pasti… satu hal yang bisa saya tuliskan disini adalah, saya sedang berusaha untuk bangkit saat ini, untuk tenang, untuk bersyukur, untuk bisa kembali bersemangat dan memiliki impian-impian lain.

Setiap pagi, sebelum saya berangkat kerja, selalu ada 1 rangkaian ritual yang selalu saya lakukan, saya memposisikan diri ke dalam keheningan pagi buta, lalu membangun komunikasi dengan-Nya untuk bersyukur dan meminta, lalu saya mencium anak-anak saya satu persatu agak lama sambil saya bisikan kata-kata positif dan membangun untuk mereka, dan terakhir mencium istri saya dan memeluk dia, yang sering kali terdengar untaian kalimat penyemangat melalui bibir dia untuk menghibur hati saya yang sedang perih-haru-biru apalagi saat awal-awal kepulangan kami.

Semua itu, untuk memberikan sedikit bahan bakar kepada diri saya, agar bisa melalui hari dengan lebih semangat.

Saya tidak pernah bermimpi ingin menjadi orang kaya, yang saya inginkan hanya saya bisa hidup dengan tenang melihat anak-anak kami tumbuh dengan baik dan menjadi mandiri, agar saya bisa menuntaskan tugas saya sebagai orang tua.

Semoga Tuhan selalu menyertai saya, dan selalu membukakan jalan untuk saya dan keluarga.

Advertisements