Rangkuman pengalaman

Hari minggu yang cerah ini (ini sudah di draft dari hari minggu lalu sebetulnya), membawa mood saya ke arah yang cukup baik dan membuat saya kemudian tertarik untuk memenuhi dahaga menulis saya yang tiba-tiba kembali ada hari ini.

Saya ingin menuliskan beberapa hal yang saya temui saat berjuang di Melbourne, yang saya harapkan bisa memberikan sedikit gambaran bagi kawan-kawan yang berencana untuk menuju kesana, terutama yang memiliki kondisi sama seperti kami dimana sudah memiliki anak (tapi keadaan ekonomi pas-pas-an).

Pertama, kita bicara dari sisi yang paling menghantui Jakarta, yaitu macet. Di Melbourne, sejauh penglihatan saya, mulai macet juga, jarak yang (dulunya) bisa ditempuh dalam waktu 30 menit, saat ini sudah harus menghabiskan waktu 1 sampai 1 jam 15 menit (kira-kira berdasarkan pembicaraan dengan beberapa orang yang sudah disana lebih dari 5 tahun). Yang menjadi pembeda adalah, jika disini macet nya karena tidak tertib sehingga membuat waktu macet jadi lebih panjang. Disana justru macet nya karena mereka tertib, tertib di lampu merah, tertib memberi ruang bagi pejalan kaki, tertib untuk tidak saling serobot, dll. Jadi, jika kita bicara macet, sudah hampir sama tingkat nya, tapi jika kita bicara lama macet nya, disana lebih cepat terurai karena 1 hal, mereka tetap tertib.

Kedua, kita bicara cuaca, di Jakarta memang terkenal dengan panas dan lembab nya, dan ini tidak terlepas dari efek rumah kaca yang dikondisikan dengan polusi yang merajalela. Tapi, kita tidak perlu berjibaku dengan perubahan mendadak yang cukup ekstrim jika sedang pergi atau jalan. Di Melbourne, bisa di pagi hari 4 derajat, lalu siang nya 17 derajat, sore kisaran 20 derajat, malam drop lagi ke 5 derajat. Dan, bisa saja pagi siang terang cerah berderang langit biru bersih tiba-tiba hujan badai turun dalam waktu 30 menit dan setelah puas mematahkan beberapa payung dan batang pohon lalu langit kembali terang biru bersih, memang tidak sering, tapi pernah terjadi dan kami pernah mengalami nya. Jadi, untuk pejalan kaki setia seperti kami kemana-mana membawa payung (yang dibeli di Melbourne dengan tag “wind resistant”) dan jaket tebal adalah perlengkapan utama dan sebuah keharusan.

Ketiga, bicara makanan, di Jakarta bisa dibilang kita dikelilingi oleh beraneka macam makanan dengan beraneka macam rasa dengan beraneka macam harga dengan beraneka macam cara penyajian. Kita bisa tinggal angkat telpon lalu makanan akan diantar sampai depan pagar kita dengan senyum sumingrah (karena kita kasih tips) dan dengan harga yang bisa sangat terjangkau. Di Melbourne, tidak seperti itu, jika kita minta diantar maka akan ada fee terpisah karena disana jasa sangat dihargai. Pembeda yang lainnya, jika malam tiba. Di Jakarta kami ada no telp abang nasi goreng tek tek yang tinggal di telpon jika saat menjelang tengah malam tiba-tiba lapar menyerang, atau kami tinggal jalan ke depan kompleks perumahan kami, sudah berjajar berbagai macam makanan dari wedang jahe, ropang (roti panggang), martabak, sampai nasi goreng gila. Di Melbourne kami harus memiliki stok, karena jika tidak saat sudah diatas jam 10 malam lalu perut lapar, ya ditahan sampai pagi hehehe… dan tentunya disana jika tidak memiliki mobil, weleh-weleh kemana-mana jauh boo… dan untuk jam tertentu public transport nya sudah jarang bahkan tidak tersedia lagi, ga seperti di Jakarta yang tinggal jalan kaki ke depan sudah berjejer makanan yang siap disantap asal ada uang buat beli.

Keempat, bicara suhu, di Jakarta jika cuaca sedang cerah kita bisa keluar dengan kaos oblong saja, di Melbourne saat cuaca cerah dan matahari sedang bersinar belum tentu suhu nya hangat, justru bisa saja sedang dingin-dingin nya dan kami mengalami itu beberapa kali, baik sedang jalan-jalan di kota maupun saat di taman sekedar membawa anak-anak kami bermain. Dan hal itu juga yang membuat dengkul kaki saya tiba-tiba menjadi sering sakit saat disana, karena tidak kuat dengan dingin nya, maklum faktor “U” dan belum terbiasa. Dan juga radiasi sinar UV termasuk yang tertinggi di dunia, apalagi saat summer, dan hal itu membuat setiap sekolah yang sempat kami datangi saat mencari sekolah untuk anak pertama kali selalu memberikan pesan agar anak-anak selalu diberikan proteksi sunblock setiap akan berangkat ke sekolah.

Kelima, kontur dari kota nya, di Jakarta jarang kita temui jalanan yang naik turun (yang sebetulnya walaupun sudah cape kita tinggal angkat tangan memamerkan ketek kita yang wangi langsung datang bang ojek dengan sigap nya siap mengantar kita kemana pun kita inginkan asal berani bayar hehehe…) karena sebagian besar jalanan nya datar. Di Melbourne, jalanan nya naik turun, tidak di kota nya tidak di suburb nya, podo wae. Nah… itu menjadi tantangan tersendiri bagi kami karena kami datang tidak dengan uang banyak sehingga belum mampu membeli mobil (layak pakai tidak sering mogok), dan itu membuat kami yang kesana membawa 1 balita dan 1 bayi menjadi cukup menderita karena harus mengendong mereka kemana-mana dan saat sedang melalui tanjakan rasa nya mau nyerah saja lalu duduk di pinggir jalan. Tidak percaya? silahkan gendong tabung gas 12 Kg trus muter-muter aja di Mall sana… ntar akan terasa perjuangannya.

Keenam, disana untuk mencari pekerjaan menjadi tantangan tersendiri (yang ternyata sama saja seperti itu keadaannya, dimana pun itu). Bulan-bulan sedang banyak lowongan kerja adalah bulan maret – juli. So, untuk yang kesana ingin mencari pekerjaan pergilah di bulan-bulan itu (khusus nya untuk lowongan IT). Dan… jangan mengulang kesalahan saya, ada 2 saran untuk kalian. Pertama, pergi sendiri dulu setelah mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang memadai (buat saya tidak kurang dari AUD 65.000 per tahun before tax untuk 1 keluarga dengan 1 anak) lalu establish rumah baru anak istri menyusul, agar setidaknya mereka tidak suffer, dan cara ini bisa memakan waktu 6 sampai 9 bulan jadi persiapkan diri untuk LDR yang pasti ada tantangan tersendiri. Kedua, bawa tabungan yang cukup untuk 1 keluarga migrasi kesana dan siap tanpa pemasukan untuk 1 tahun, berdasarkan beberapa hasil pembicaraan dengan kawan-kawan disana minimal bawa AUD 40.000 (sekitar 400 – 500 juta).

Ketujuh, potensi sinar UV yang tinggi (seperti yang sudah dibahas tadi) dan bisa menyebabkan kanker kulit. Bukan berarti jika di Jakarta lebih aman, tapi disana benar-benar tinggi sinar UV nya apalagi saat summer. Jadi dimana-mana ada anjuran untuk menggunakan sun block (yang harga nya juga tidak murah).

Kedelapan, public transport, disana fasilitas umum seperti transport sudah bagus, bersih dan tertib. Nah… yang jadi masalah adalah satu-satunya public transport yang hampir tepat waktu adalah kereta, dan rata-rata stasiun nya jauh-jauh. Ada sih yang dekat, tapi biaya sewa rumah nya ga murah juga hehehe… dan sudah pasti susah dapet nya. Selain kereta, untuk tram dan bus sering telat juga. Dan semua public transport pada saat weekend interval kedatangan nya lumayan jauh, bisa 20 sampai 40 menit. Jadi kalau sudah ketinggalan ya siap-siap melongo ditepi jalan sambil meluk badan sendiri melawan dingin menusuk apalagi saat winter brrrr….

Kesembilan, high fever, disana saat sedang musim semi bunga-bunga bermekaran dan menyebarkan sesuatu (entahlah gimana tulis nya, tapi disana dibilangnya pollum). Saat badan kita alergi terhadap hal itu maka akan direspon dengan demam tinggi, dan… saat sudah alergi seperti itu, setiap musim semi harus makan obat selama musim itu dan bisa seumur hidup atau akan menderita karena terserang demam tinggi.

Nah…. ini ke sembilan hal yang baru kepikiran untuk di share. Nanti akan saya tulis lagi jika sudah ada hasil permenungan selanjutnya, dan jika ada pertanyaan di tanyakan saja di komen, siapa tahu bisa men trigger saya share hal lainnya yang belum tertulis disini karena belum terpikir sekarang.

Tapi, tetap… jalan ini layak diperjuangkan. Hanya saja kembali ke diri masing-masing sesanggup apa menerima keadaan dan melihat nya saat di jalani bersama keluarga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s