Tersenyum…

Jadi lu sudah menyerah?

Lu malu ga, gagal migrasi dan balik kesini?

Tuh kan, sudah dibilang ga usah nekat, ngapain sih migrasi kesana?

Tiga pertanyaan itu yang paling sering terdengar sejak saya memutuskan untuk pulang (dulu) saat ini.

Memang, disini salah satu nya yang terkenal adalah ke”kepo“an nya. Tapi tidak apa-apa, hal itu bagus karena menunjukan sebuah perhatian. Dan, saya hanya perlu tersenyum menanggapi nya karena mereka tidak berada di posisi saya sehingga penjelasan saya pun (mungkin) tidak akan banyak berguna.

Saya melakukan semua langkah ini demi keluarga saya, demi kedua anak saya. Lalu, apakah saya mendapatkan impian saya jika saat hal itu dipaksakan justru membuat mereka lebih menderita?

Mereka mendapatkan kehidupan yang (lumayan) baik sebelum migrasi, dan tentunya mereka harus mendapatkan lebih saat hal itu dilakukan, minimal sama, yang saat itu tidak mereka dapatkan, dan yang menjadi masalah adalah saya tidak tahu harus sampai kapan mereka menjalaninya. Itulah kenapa saya memutuskan untuk pulang dulu, karena saya merasa jika strategi yang saya terapkan tidak sesuai baik dengan keadaan saya maupun keadaan disana.

Saya tidak malu, karena saya tidak merasa saya sudah gagal. Justru saya merasa bangga karena memiliki istri yang tangguh yang berani melangkah bersama saya kedalam sebuah ketidakpastian dengan mengorbankan banyak hal disini, itu tidak ternilai dan tidak terukur!

Saya pun tidak menyerah (setidaknya belum), karena saya masih ada waktu untuk memulai kembali. Dan, jika saat hal itu tiba kemudian saya memutuskan untuk tidak melanjutkan, saya pun tidak menyerah karena saya tidak akan pernah berhenti berusaha memberikan yang terbaik pada keluarga saya, untuk kedua anak saya. Dimana pun itu dilakukan.

Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan, atau di setiap tikungan dalam hidup kita (seperti yang dituliskan DV). Yang harus kita lakukan sederhana saja, berdoa, berani melangkah dan percaya.

Gagal atau berhasil itu hanyalah sebuah hasil, dan terkadang hal itu hasil nya semu. Seandainya saya berhasil bertahan disana untuk (katakanlah) 2 tahun, 5 tahun atau bahkan 15 tahun lalu pada akhirnya kami memutuskan untuk pulang, lalu kami berhasil atau gagal?

Saya tidak melihat nya demikian, saya lebih menghargai sebuah proses, karena disitulah terletak begitu banyak pelajaran dan pengalaman berharga yang tidak ternilai untuk membangun hidup kita.

image

1 hal yang pasti, bagi saya apapun yang akan saya lakukan semua demi keluarga saya. Itulah mengapa mereka harus menjadi prioritas.

Family come first

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s