Tags

,

Akhirnya…hari ini, hari dimana kami sekeluarga akan pindah ke Melbourne, Australia untuk memulai perjuangan baru, mengejar impian selanjutnya.

Keberhasilan ini tidak dapat saya ungkapkan dalam kata-kata. Hadirnya orang-orang baik yang membantu selama proses perjuangan mendapatkan PR dan persiapan setelahnya sungguh sangat meringankan dan membantu kami sekeluarga. Tidak hanya orang-orang yang ada di sekitar kami dan keluarga kami, bahkan mereka yang saya kenal di dunia kerja sampai mereka-mereka yang saya kenal secara vitual pun turut memberikan bantuan.

Cara Tuhan sungguh luar biasa saat mengirim malaikat-malaikat tanpa sayap Nya. Dia selalu menggunakan cara yang tidak terduga dalam menghadirkan berkat. Rasa bahagia, gugup, takut dan bersyukur bercampur menjadi satu mengiringi langkah saya membawa keluarga saya menuju arah yang (saya harapkan) lebih baik terutama dalam membesarkan anak-anak kami.

Kekuatan dari sebuah Impian yang kita perjuangkan tanpa lelah dan tidak menyerah, serta didukung dengan doa, benar-benar memberikan efek yang luar biasa. Ini adalah salah satu kekuatan motivasi yang sangat kuat dan mampu mengubah hidup kita jika kita mau.

Bukan karena kita bisa, tapi karena kita mau!

Bagi saya pribadi, kepindahan ini bukan yang pertama kalinya karena saya besar di keluarga rantau. Dahulu, (Alm) Papa saya merantau ke pulau Jawa dari kepulauan Riau dengan tujuan agar kami (anak-anaknya) bisa mengenyam pendidikan yang lebih baik. Mungkin di jaman Papa muda dulu, paradigma jika pendidikan di pulau Jawa lebih bagus dari kepulauan Riau itu kuat.

Dasar yang sama yang membuat saya juga berusaha memberikan pendidikan yang (kami harapkan) lebih baik bagi anak-anak kami, itulah motivasi saya saat memutuskan pindah (migrasi) saat ini, ke Negara yang (diklaim) memiliki sistem pendidikan yang termasuk dalam deretan terbaik di antara negara-negara lain di dunia.

Sejauh ini ada 2 perantauan yang saya lakukan sendiri dan menjadi bagian dari perjalanan hidup saya sampai saat ini.

Jakarta,
Agustus 1999, adalah perantauan saya yang pertama kali, untuk mengejar ijazah S1 agar bisa mewujudkan cita-cita mendiang Papa saat memutuskan merantau ke pulau Jawa (“Papa tidak bangga jika pulang berhasil mengumpulkan harta, tapi akan bangga saat semua anak Papa S1” itulah pesan Papa saya).

16 tahun lalu, saat pindah ke kota ini, merantau beratus-ratus kilometer jauh nya dari rumah untuk pertama kalinya, saya cukup beruntung karena saat itu masih ada (alm) kakak saya yang membantu proses kepindahan saya. Berat? Tentu… karena harus berpisah dari rumah yang sudah saya tempati lebih dari 15 tahun, dan harus belajar mandiri.

Setelah lulus, saya menetap dan berkeluarga di kota ini, disini pula saya bertemu dengan orang-orang yang telah mengubah saya menjadi orang yang lebih kuat dan matang. Menjadi pribadi yang lebih dewasa, menjadi seseorang yang memiliki harapan baru, dan salah satu orang itu adalah orang yang saat ini berdiri disamping saya, bahu membahu mengejar impian kami, istri saya.

Melbourne,
September 2015. Akhirnya… setelah sekian lama berdoa dan berusaha mendapatkan PR Australia, akhirnya kami mendapatkannya (rasa senang nya seperti mau meledak hahaha…), hari ini kami akan melakukan perpindahan perdana sebagai keluarga, ke kota tujuan di Negeri Kangguru sana.

Kami memutuskan untuk merantau ke kota yang belum pernah kami kunjungi sebelumnya di benua seberang sana, dengan langsung membawa serta anak-anak kami. Terdengar gila memang (seperti yang banyak dikatakan teman-teman kepada saya), melepaskan semua kemapanan yang sudah kami raih disini (sudah punya rumah sendiri walaupun kecil tapi nyaman, mobil yang akhirnya kami jual untuk modal hijrah ini, karir yang lumayan, dan proteksi asuransi untuk seluruh keluarga) untuk pindah ke kota yang asing dan belum jelas bagi kami, entahlah… intuisi saya mengatakan jika Melbourne adalah tujuan kami.

image

Disana saya akan mengejar salah satu cita-cita kami, yaitu ingin memberikan pendidikan terbaik yang mampu kami berikan sebagai orang tua (tanpa harus sakit kepala dengan biayanya), walaupun hal itu harus dibayar dengan mengorbankan zona “nyaman” kami yang sudah terbentuk disini, demi meraih impian ter-liar dan ter-ambisius kami (terutama saya) untuk masa depan anak-anak kami.

Banyak yang tidak percaya saya benar-benar mengambil jalan ini di umur 35, di umur yang menurut beberapa pihak sudah sangat riskan untuk “beraneh-aneh”, banyak pertanyaan dari mereka yang mempertanyakan keputusanku saat berani melepas semua kenyamanan dan kemapanan disini untuk sesuatu yang belum pasti disana, bahkan dengan langsung membawa serta seluruh keluarga kecil ku ke kota yang akan kami kunjungi pertama kali nya bersamaan dengan hijrah ini. Terlalu nekat!

“Uedan tenan kowe jo!” – jare ne konco ku.

Jujur saya pun memiliki pertanyaan yang sama dan… saya pun tidak memiliki jawaban yang benar-benar memuaskan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Yang saya tahu hanya satu, ini tidak mudah (seperti yang pernah saya tuliskan) tapi saya harus berani mengambil dan melalui jalan ini disana jika ingin meraih impian yang sudah saya targetkan sejak anak-anak kami hadir dalam kandungan ibu mereka.

Adakah perasaan takut dan khawatir? Tentu, saya masih manusia biasa, saya sempat tidak bisa tidur nyenyak beberapa saat karena memikirkan banyak hal yang sebetulnya lebih kepada rasa khawatir saya karena saya terlalu bersandar pada kekuatan diri sendiri dan materi duniawi, akan tetapi pada akhirnya proses itu justru membuat saya menjadi belajar 1 hal yaitu untuk tidak bersandar pada kekuatan saya, pada karir, pada materi, pada hal duniawi. Lebih baik saya memberanikan diri untuk mencoba, masalah hasil akhirnya bisa berhasil atau tidak akan saya terima dengan lapang dada, yang perlu saya lakukan hanya jangan putus asa dan menyerah saat membuat keputusan nekat (yang sudah lama saya timbang dan perhitungkan) ini karena jalan ini pun sudah merupakan sebuah mukjizat bagi saya, sesuatu yang sudah saya anggap tidak mungkin lagi, tiba-tiba doa kami dijawab dan ditunjukan jalan satu per satu oleh-Nya.

Kegilaan saya ini diputuskan dengan bersandar pada Iman saya, karena saya percaya Dia tidak akan pernah berdiam diri saat melihat hamba-Nya sedang berusaha dan tidak menyerah dalam mengusahakan sesuatu, dan kami percaya, jika sekali Tuhan buka jalan Dia tidak pernah setengah-setengah.

Setiap orang pasti memiliki impian (termasuk orang-orang yang impian nya menjadi orang “kaya” seperti yang pernah saya tuliskan disini), akan tetapi tidak banyak yang memiliki cukup nyali untuk mengejar nya. Saya termasuk orang yang memiliki (terlalu) banyak impian dan (sebetulnya) saya juga bukan termasuk orang yang punya banyak keberanian, saya hanya memiliki sedikit nyali (sedikit sekali), kekuatan saya karena bersandar pada iman saya yang bahkan belum sebesar biji sesawi, dan bagi saya itupun sudah cukup untuk membuat saya bergerak dan tidak menyerah sampai hari ini.

Perjalanan hidup kami yang baru sudah dimulai, lembaran baru sudah dibuka, isinya akan kembali kepada kami, akankah kami isi dengan coretan-coretan cerita semangat pantang menyerah yang (semoga) akhirnya bisa menuliskan sebuah cerita happy ending atau akan kami biarkan terisi dengan coretan-coretan lainnya, pena ada di tangan kami.

Terimakasih Tuhan untuk kesempatan ini. Terimakasih sudah menunjukan jalan, sudah mempersiapkan kami (terutama saya) selama ini, sudah menyandingkan seorang istri luar biasa disisi ku, terimakasih untuk mukjizat ini, terimakasih untuk segala nya.

image

image

Bahagia itu sederhana tapi mahal luar biasa, bahkan uang dan harta sebanyak apa pun tidak mampu membeli nya secara utuh. Bahagia itu (bagi saya) bukan menjadi orang kaya, bukan punya jabatan tinggi, bukan juga menjadi orang terkenal, bahagia itu memiliki waktu lebih untuk keluarga dan berhasil meraih impian untuk keluarga dan anak-anak saya, dan yang paling penting saya pun harus memiliki waktu untuk menikmati keberhasilan itu bersama mereka.

Tulisan ini akan menjadi tulisan perpisahan kami dengan Jakarta (yang kami pun tidak tahu akan menjadi berapa lama), dan menjadi penanda keberangkatan kami ke Melbourne dengan diantar oleh kedua keluarga kami, teman-teman baik melalui telepon, WA maupun sampai bandar udara keberangkatan international Soekarno-Hatta.

Selamat tinggal Jakarta, sampai jumpa kembali.

Hai Melbourne, kami datang.

The biggest adventure you can take is to live the life of your dreams – Oprah

——-
Source gambar : Intagram melbournesights dan handphone pribadi.

Advertisements