Tags

Proses yang sudah saya lalui dalam perjuangan mendapatkan PR Australia demi mewujudkan impian saya untuk bisa membesarkan anak-anak di tempat (yang menurut saya) yang lebih baik, membuat saya jadi mengenal beberapa orang.

Ada 1 dari mereka yang sangat menolong selama proses perjuangan saya, terutama saat ke”galau”an saya berada dipersimpangan dan merasakan banyaknya informasi yang ber”seliweran” mengenai kehidupan disana, yang jujur membuat saya agak ragu saat itu. Orang ini, (tebak…) tidak pernah bertemu muka dengan saya sama sekali, bahkan sampai hari ini dimana saya sudah mendapatkan PR dan sudah dalam proses untuk hijrah tidak lama lagi. TAPI… orang ini sangat welcome dan menolong saat saya bertanya banyak hal kepada dia ditengah ke”galau”an saya.

Blog dia, yang saya temukan saat surfing di google untuk mencari tahu seperti apa kehidupan disana yang dituliskan oleh mereka-mereka yang sudah tinggal disana sebanyak mungkin, memiliki rentetan artikel yang berisi sharing dia mengenai sepak terjang dia di Australia, mengenai kehidupan disana, mengenai apa yang terjadi disana, mengenai bagaimana proses mencari kerja dan banyak hal lainnya terutama tentang bagaimana cara dia bertahan di suhu yang dingin, yang kemudian memancing dan menguatkan saya untuk memberanikan diri mengirimkan sebuah email perkenalan kepadanya pada suatu hari, yangggg… dibalas dengan hangat dan penuh pertemanan hikss… saya benar-benar terharu saat itu disamping merasakan semangat baru yang tiba-tiba timbul dan mulai membumbung tinggi sambil berkata dalam hati “akhirnya, ada satu orang baik lagi yang bersedia dan bisa ditanya jawab mengenai keadaan disana, terimakasih Tuhan”

Dan, yang lebih membuat saya merasakan kebaikan dan ketulusan dia untuk membantu saya semaksimal nya agar saya tidak bingung dan khawatir adalah dia memberikan nomor mobile dia kepada saya agar bisa setiap saat bertanya kepada dia jika ada yang membingungkan. Wow… saat itu saya cuma merasakan 1 hal, jika sampai dia siap diganggu oleh saya dengan memberikan hal (yang menurut saya) privasi kepada orang yang belum bertemu muka sama sekali seperti saya, apakah itu kurang menggambarkan ketulusan dia untuk membantu? Lah iya kalau saya tahu diri untuk mengingat jika ada beda waktu antara Jakarta dan Sidney, lah kalau ga gimana? Pas dia lagi bobo dengan enak nya meringkuk dibawah selimut tiba-tiba handphone dia berbunyi karena saya menanyakan sesuatu. Hal seperti ini adalah tindakan yang belum tentu akan saya lakukan terhadap orang yang belum pernah bertemu muka dengan saya.

Ok, kembali ke nomor mobile yang diberikan dia kepada saya, hal itu tentunya membuat saya girang bukan kepalang karena merasa lebih aman saat sedang galau dan ingin menanyakan sesuatu, yang pada akhir nya (sampai saat ini) belum pernah saya gunakan.

Loh… kok malah ga digunakan untuk komunikasi?

Saya termasuk tipe orang yang tidak sabaran, dalam artian ingin semua ada jawaban secepat mungkin, akan tetapi proses perjuangan mendapatkan PR ini memaksa saya untuk belajar arti kata sabar, dan saya mengerti ini adalah salah satu persiapan yang disusun oleh-Nya sebagai salah satu bekal saya saat disana nanti. Itu juga yang mendasari keputusan saya untuk tetap menggunakan email sebagai media utama saat mengajukan rentetan pertanyaan, karena jika melalui email, orang punya kesempatan untuk menjawab nya saat sedang sempat dan memberikan ruang yang cukup untuk orang lain agar bisa lebih rileks dan berfikir. Apalagi dia kerja dan sering meeting, kan ga enak kalau HP bunyi cat cit cut karena message WA saya yang bisa saja berisi pertanyaan yang sebetulnya konyol dan ga penting.

Akhir-akhir ini saya dua kali komunikasi menggunakan message di facebook dengan dia, tapi ini hanya komunikasi singkat seputar hal-hal yang ringan ya bahasa kerennya chit-chat gitu lah. Dan dari percakapan via facebook yang terakhir saya mendapatkan 2 kalimat yang sangat bagus sekali (tak copy ya mas kesini) “keyakinannya cuma pada Tuhan, bukan pada karir dan uang” dilanjutkan dengan “Iya… saya melihatnya sih orang2 seperti kita yang mau meninggalkan apa yang kita dapat itu adalah contoh orang2 yang mau tidak terikat pada hal2 duniawi; bahwa semuanya bisa kita dapat dan kita lepas”, kalimat ini secara tidak langsung menguatkan iman, satu-satunya kekuatan yang saya miliki dan gunakan untuk bersandar saat memutuskan untuk mengambil jalan ini.

Saya tetap sangat menghargai sudah diberikan nomor tersebut yang tentunya akan saya gunakan saat benar-benar kepepet, selama saya ada waktu buat menunggu jawaban tentunya saya akan tetap menggunakan email untuk mengirim pertanyaan. Karena saya tetap ingin menghargai privasi orang tersebut.

Semua yang terjadi ini membuat saya dan istri saya sepakat, jika suatu hari nanti kami bisa mengunjungi Sidney (atau di kota manapun dia berada saat itu), dan waktu serta kesempatan mengijinkan, kami harus bisa bertemu muka (kopdar) dengan orang ini, karena selain dia sudah membantu kami membuka sedikit demi sedikit wawasan yang ada disana, dia juga salah satu orang yang berperan membuat semangat kami tidak kendor selama proses perjuangan mendapatkan PR yang bagi kami sangat tidak mudah dan menyedot banyak energi ini melalui tulisan-tulisan dengan gaya bahasa dan alur tutur cerita nya yang khas mengenai kehidupan dan serba serbi disana.

Kalian penasaran siapa dia yang saya maksud?

Inilah initialnya, Mas DV 🙂

Advertisements