Seperti Mimpi

Tiket sudah dibeli, akhirnya September ini kami dipastikan 99% akan memulai perjalanan yang sudah kami perjuangkan dan nanti-nantikan selama ini. Rasanya seperti mimpi, mimpi yang indah.

Ada perasaan bahagia, bersemangat serta galau. PR kami sekeluarga disetujui bulan Mei lalu, saat berita disetujui nya PR kami datang dari agen kami siang itu, saya sampai tidak bisa makan siang karena senang nya. Rasanya…. seperti apa ya, susah di lukiskan dengan kata-kata, sesuatu yang begitu kami dambakan dan begitu lama kami perjuangkan berhasil kami dapatkan pada akhirnya, akh… rasanya sungguh menggelegar!

Sekarang, kami dalam persiapan melakukan perjalanan besar ini untuk berjuang demi memberikan kehidupan yang kami impikan bagi anak-anak kami (yang lebih bersih, teratur dan tertib) serta bagi pendidikan mereka (yang kami harapkan bisa lebih baik). Dan… kepastian perjalanan kami sudah hampir pasti dengan adanya tiket di tangan kami saat ini. Rasanya? Akh… sangat membuat deg deg an gimana gitu, antara senang dan takut.

Loh kok takut? Bukannya selama ini selalu yakin dan percaya disana pasti bisa. Benar, saya selalu berusaha yakin dan percaya. Saya selalu berusaha untuk kuat dan optimis, tapi… saya tetaplah manusia biasa kawan, yang punya rasa khawatir dan takut. Takut disana nanti tidak berhasil mendapatkan kehidupan yang lebih baik, takut segala sesuatu memburuk dsb. Maklum, saya bukan anak orang kaya, yang punya cadangan harta banyak, semua biaya yang akan kami gunakan disana murni dari tabungan kami yang kami sisihkan sepeser demi sepeser setiap bulan. Tentunya, tidak banyak. Saya sebagai kepala keluarga tentunya ada rasa takut jika melihat besarnya dana yang siap kami gunakan saat kesana. Karena besar nya benar-benar tidak besar.

Tapi, saya berusaha untuk optimis, berusaha untuk percaya sepenuh hati, jika Tuhan tidak akan tinggal diam dan akan membantu kami disana.

Saya berusaha untuk siap akan apapun yang terjadi nanti dan tetap tegar menatap kedepan demi impian kami untuk anak-anak kami.

Jika untuk hal seperti ini saja saya tidak kuat dan tidak memiliki kekuatan, lalu bagaimana saya bisa mengajarkan tentang kekuatan menjalani hidup kepada anak-anak saya (the two krucil) ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s