Mau atau hanya bisa?

Karena kami punya impian untuk membesarkan anak di negara yang lebih maju, dan karena kantong kami tidak mewah dan banyak isinya, membuat kami berusaha mengubah diri kami agar bisa menjadi lebih mandiri, terutama dalam hal mengurus dan membesarkan anak-anak.

Saya mengerti tidak banyak yang mampu melakukan hal itu secara konstan dan konsisten, bukan karena mereka tidak bisa, tapi karena mereka tidak mau. Seribu satu alasan pembenaran bisa dicari untuk membenarkan ke tidak mau an itu.

Kami, memaksakan diri kami untuk mau, tidak sekadar bisa.

Dimulai dari perubahan istri saya dari seorang princess yang apa-apa disiapkan mba maupun ibunya, dari seorang arsitek yang menangani klien-klien, berubah menjadi seorang ibu rumah tangga yang sempurna dimata saya. Mengurus anak, memasak, dan lain sebagainya yang dulu tidak tersentuh oleh dia sekarang dilakukannya dengan sigap dan fasih. Itu baru kemauan namanya bukan sekedar bisa.

Iseng-iseng saya candid saat dia sedang menawar sayur dipasar sambil menggendong anak kedua kami yang masih bayi (sedangkan anak pertama bersama saya). Sebuah pemandangan yang membuat saya merasa istimewa (mengingat dulunya dia) memiliki istri seperti dia yang mau menjalankan peran seorang Ibu secara seutuhnya semampu dia.

image

Di sisi satu nya, tentu saya juga harus tahu diri dan mau juga mengubah diri saya agar bisa menjadi pasangan yang bisa bahu membahu bersama dia. Misalnya belajar mengganti popok anak, memandikan anak, menimang anak, nyuapin anak makan, dan sebagainya.

Salah satu yang hari ini saya lakukan adalah mencukur anak, karena potong rambut anak mahal bener (mungkin saya yang salah tempat karena potong di Mall) membuat saya belajar memotong rambut mereka sendiri, bahkan yang bayi.

Nah… hari ini ceritanya saya ingin menunjukan kepada anak pertama saya jika dicukur itu tidak sakit, dengan cara mencukur rambut saya sendiri didepan dia menggunakan alat cukur yang saya beli. Masalahnya, karena anak sudah nangis-nangis ketakutan (dia entah kenapa setiap lihat kiddycut langsung nangis, apalagi alat cukur nya) saya buru-buru pasang ukuran di cukuran dan langsung sikat rambut saya. Setelahnya saya baru sadar, ternyata ukuran yang saya pakai terlalu kecil. Hasilnya, jadilah kami berdua botak semua hahaha….

image

Menemani si kecil yang memang sudah saya botakin sendiri sebelumnya.

image

Setidaknya, misi kami berhasil yeyy… dan, kami cukup percaya diri sekarang jika kami bisa menyesuaikan diri di negara tujuan kami selama kami tetap berada di jalur kami dan tetap saling membantu dalam menuntaskan pekerjaan rumah tangga dan masalah anak-anak kami.

Yang paling penting adalah, tidak perlu judge enak tidak enak seorang ibu rumah tangga dan membandingkan nya dengan Ibu pekerja, atau sebaliknya. Masing-masing memiliki tantangan mereka sendiri. Yang tidak benar itu kalau yang mencari pembenaran untuk sesuatu yang tidak mau dia lakukan, tipe seperti itu yang paling saya benci karena ingin punya anak tapi menolak menjadi orang tua (yang sebenarnya), jangan lupa… ini saya, kalau Anda ya terserah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s