Menjadi seorang Ayah

Tidak ada yang lebih bahagia dari menjadi seorang ayah, terlepas dari apapun cerita yang ada dibalik dan didepan nya.

Saya dibesarkan dikomunitas Tiong Hoa yang sangat menjunjung tinggi adat dari Cina Daratan sana. Salah satu yang paling melekat adalah “Anak berbakti adalah anak yang harus mengurus orang tua saat mereka sudah tua”.

Hal ini tidak salah maupun benar, semua kembali kepada cara pandang. Saya sendiri, ingin menyudahi ajaran itu sampai di saya saja. Tidak akan saya turunkan kepada anak-anak saya. Bukan berarti saya tidak mengajarkan berbakti kepada mereka, buat saya berbakti bisa dilakukan dalam banyak hal dan sudut pandang, tidak harus dengan mengurus saya sebagai orang tua mereka saat sudah tua nanti.

Mereka (anak-anak saya) memiliki impian dan jalan mereka sendiri saat nanti sudah dewasa, saya sebagai orang tua memilih untuk mendukung mereka mengejar apa yang menjadi cita-cita mereka daripada menghabiskan waktu untuk mengurusi kami. Mereka memiliki tantangan tersendiri pada masanya, yang mungkin berlipat lebih berat daripada yang saya hadapi saat ini.

Lalu ada pertanyaan, berarti mereka tidak berbakti donk? tidak juga, seperti yang sudah saya katakan, bagi saya pribadi berbakti bisa ditunjukan dengan cara lain. Misalnya, mereka berhasil mencapai impian mereka atau menjadi mandiri, bagi saya ini salah satu cara berbakti karena mereka tidak membuat waktu saya terbuang sia-sia saat membesarkan mereka.

Jika mereka sendiri yang ingin mengurus saya bagaimana? Oh… silahkan, tapi saya tidak akan membebani mereka dengan hal itu. Apalagi memaksa mereka harus melakukan itu.

Terus jika saya sudah tua bagaimana? saya tetap akan urus diri saya sendiri.

Kalau saya sakit-sakitan? saya akan sewa perawat.

Kalau tidak bisa sewa perawat? saya akan cari panti jompo agar tidak meninggal sendirian.

Wah… nanti anak-anak saya dibilang tidak berbakti loh? semoga tidak sampai kepada hal itu, itulah kenapa saya berusaha keluar dari pemikiran ini dan berusaha membesarkan mereka di negara yang memiliki pemikiran lebih maju tentang berbakti.

Saya memiliki 1 prinsip, membesarkan anak adalah kewajiban saya sebagai orang tua, yang telah dipercaya oleh Tuhan saat saya meminta diberikan anak. Hal ini adalah kewajiban, bukan investasi. Jadi tidak ada istilah balik modal atau return atau apapun sebutannya. Saat mereka sudah bisa mandiri dan berkeluarga, itu artinya mereka membantu saya menyelesaikan tugas saya sebagai orang tua, itu sudah berbakti.

Jadi, bagi saya, berbakti itu bukan berarti mereka HARUS mengurus saya nanti saat sudah tua, tapi mereka HARUS menjadi seseorang yang bisa membuat saya tersenyum karena tugas saya sebagai orang tua sudah selesai.

Karena bagi saya, menjadi seorang ayah adalah keistimewaan.

Itu saya, dan pemikiran saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s