Tags

,

Percayakah kalian dengan mukjizat?

Perjalanan saya mengejar sebuah impian dimulai jauh sebelum saya berkeluarga. Entah kenapa, keinginan untuk membangun kehidupan diluar negeri begitu kuat, apalagi melihat carut marut nya keadaan di kota tercinta ini.

Dimulai pada tahun 2008 dengan keinginan bekerja di Singapura, dimulai saat saya baru lulus kuliah, kemudian berusaha untuk mencari pekerjaan di negeri singa yang gagal total saat itu karena hanya modal ijazah tanpa pengalaman, saat-saat yang membuat saya down. Yang kemudian tawaran datang bertubi-tubi setelah saya memiliki pengalaman dengan beberapa sertifikat keahlian. Tapi, saat itu saya sudah mulai memiliki target lain.

Target saya berubah ke Australia pada tahun 2010, sederhana saja alasan saat itu, saya sudah berkeluarga (menikah tahun 2009) dan memiliki impian menjadi orang tua. Sebagai seorang calon ayah, saya mulai berfikir apa yang bisa saya berikan kepada anak saya dan tentunya yang terbaik yang bisa saya usahakan. Saya mulai melirik Australia, mengapa? Karena disana pendidikan termasuk yang bagus di dunia, kesehatan pun termasuk yang ok, dan keduanya ditanggung pemerintah mengunakan pajak yang kita bayar asal minimal kita pegang visa PR (Permanent Resident). Saat itu saya mulai bergerilya di web imigrasi Australia mencari tahu semua yang bisa saya ketahui untuk mendapatkan PR, sampai-sampai saya hampir hafal setiap isi dari web itu sangking sering nya saya membaca dan mencari tahu disana. Rencana yang kemudian saya mulai seriusi pada tahun 2011 awal karena merasa sudah memiliki pengetahuan yang cukup mengenai how to apply Australian PR. Dimulai dengan bootcamp bahasa Inggris untuk ujian IELTS di IDP kuningan saat itu berdua bersama istri setiap pulang kantor. Kemudian ujian IELTS, mendapatkan 6 semua karena dapat 6 di setiap seksi sudah bisa membuat saya bisa klaim point saat itu, dan semua menjadi sia-sia saat berada dibagian skill assessment.

Saya lulusan engineering sedangkan bekerja di IT, sehingga ACS (Australia Computer Society) mengharuskan saya memiliki pengalaman kerja minimal 6 tahun agar boleh assessment untuk klaim point di bidang IT agar bisa apply PR, sedangkan saya baru bekerja 5 tahun, walaupun saya saat itu sudah pegang CCIE (sertifikat tertinggi di dunia Internetworking). Saya… sangat down saat itu. O.. ya, saya mulai bekerja 2006.

Lalu saya punya anak pertama di awal 2012. Perasaan percaya diri untuk melanjutkan proses yang sudah saya mulai di 2011 kembali lagi, iya donk… kan sudah 6 tahun sekarang hehehe… saya buka lagi web immigrasi sana dan…. denk.. denk… peraturan berubah. Untuk bisa klaim point maka IELTS harus 7 di setiap seksi. Gila ya, 7 semua?

Okay, saya mulai belajar dan mengambil ujian demi ujian yang hasilnya… semua gagal dapet 7… hiks… benar-benar patah semangat saat itu, semua menjadi sia-sia. Padahal semua dokumen kami sudah di terjemahkan sworn translator dan saya sudah boleh maju assessment. Akh… rasa nya ingin memaki-maki saat itu.

Kemudian di akhir 2012 saya bertemu teman baik saya yang baru pulang dari New Zealand setelah pindah kesana 2 tahun. Cerita punya cerita… membuat saya mulai berfikir, baiklah jika tidak bisa ke Australia, kenapa tidak coba New Zealand. Kami mulai menyusun rencana dan prioritas di awal 2013 untuk ke New Zealand, saat itu kami hanya punya pilihan jalur study. Dan seperti biasa web imigrasi New Zealand pun saya telusuri lembar demi lembar. Setelah melalui beberapa pertimbangan, diputuskan kami masuk jalur study (aturan PR OZ beda dengan PR NZ). Jadi rencana nya istri melanjutkan study kemudian saya ikut dapat work visa seperti kawan saya itu. Masalahnya… untuk bisa study kesana kami harus menjual semua aset kami (rumah dan mobil) yang masih dalam keadaan di cicil ke Bank. Akh… rasa nya ingin teriaaaakkkkk saat itu, kenapa sih Tuhan? Kenapa semua nya sulit?

Saya mulai melupakan rencana migrasi setelah plan ke New Zealand gagal. Terpuruk, depresi, frustasi menjadi satu.

Saya…. mulai menyerah dan mempertanyakan Nya.

Lalu… hampir di akhir 2013 mukjizat terjadi, saya mendapatkan tawaran kerja ke Australia, dan diajukan ke jalur ENS (Employer Nomination Scheme) yang sebetulnya sangat sulit didapatkan calon pekerja karena tidak semua perusahaan mau melakukan ENS.

Saya awalnya tidak percaya dan was-was, jujur saya takut ditipu. Saya berdoa dan berdoa, diskusi dengan istri dan agen saya. Ternyata itu memang jalan dari Nya. Dengan perasaan was-was perjalanan dimulai, karena ENS saya tidak perlu ujian IELTS lagi karena skor 6 sudah cukup. Perjalanan pertama di akhir 2013 dimulai dengan skill assessment saya, yang hasilnya berhasil.

Lalu di lanjutkan tahap aplikasi ENS di 2014, step ini paling krusial karena jika step ini gagal, maka semua selesai. 4 bulan kemudian, bagai disambar petir di siang bolong saat agen saya memberikan kabar ENS berhasil. Ya ampun Tuhan, inikah jalan Mu?

Harapan saya mulai naik lagi. Doa kami tidak berhenti…

Langsung masuk aplikasi PR di pertengahan 2014, yang kemudian ke hold di medical check up istri saya karena istri saya sedang hamil (yang sudah saya tuliskan di blog ini di bawah kategori “next journey” dalam beberapa artikel seperti disini, disini, dan disini) yang kemudian membuat saya harus menunggu sampai April 2015 agar bisa menyelesaikan semua medical check up (termasuk anak kami yang kedua yang belum 2 bulan umur nya).

Selama menunggu itu, ternyata saya bisa melunasi rumah (di 2014 akhir) dan mobil (di 2013 awal) saya, sungguh sesuatu yang tidak saya duga. Tuhan bekerja melalui cara Nya.

Sampai kemudian hari ini, 7 Mei 2015, saya (dan keluarga saya) secara sah dinyatakan sebagai calon penerima Permanent Resident Australia, dengan keadaan yang berbeda 180 derajat dengan 5 tahun lalu. Dimana, saat ini saya mendapatkan PR dalam kondisi tidak memiliki utang ke Bank, sehingga lebih siap untuk menjalankan impian saya untuk merantau kesana dengan membawa serta seluruh keluarga saya ke kota yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya, Melbourne.

Ini… sungguh mukjizat, ternyata memang benar, Dia lah yang maha tahu kapan waktu yang tepat untuk kami. Hanya saya yang kurang beriman sehingga terlalu mudah mempertanyakan rencana Nya yang kadang tidak terduga, terlihat memberikan hukuman akan tetapi sebetulnya ingin mendidik dan mempersiapkan kami.

“Maafkan kami Tuhan, dan terimakasih untuk kesempatannya”

Apa jadinya jika kami diberikan jalan ini 5 tahun lalu? Saat rumah masih KPR dan mobil masih nyicil. Tidak terbayangkan.

Masih percayakah kalian dengan Mukjizat? Saya… sangat percaya.

Sekarang, harapan saya tentunya semua persiapan baik dan lancar sampai kami pindah kesana, untuk menyongsong hidup baru kami, impian liar dan ambisius saya.

Semoga Tuhan memberkati. Amin.

Advertisements