Title… Title??

Sepenting apakah sebuah title bagi kalian yang bekerja?

Si A adalah General Manager bla bla bla…

Si B adalah Manager bla bla bla… dan sebagai nya.

Sebuah title, entah itu Konsultan, maupun Manager atau apapun sebutannya yang berkaitan dengan posisi seseorang seakan-akan menjadi sebuah momok yang harus dikejar dan dipertahankan. Hal yang (kadang) membuat banyak orang mengorbankan banyak hal hanya untuk mengejar maupun mempertahankan hal tersebut, bahkan jika itu adalah hal-hal berharga tidak ternilai seperti keluarga dan waktu.

Ego, gengsi dan kebanggaan akan title ini juga yang membuat banyak orang yang memutuskan migrasi ke negara orang lalu memutuskan pulang dengan alasan “tidak dapat kerja”. Hemm… title oh title…

Please deh… kita memang Manager atau apapun title nya di Negara sendiri, tapi saat kita menuju Negara lain yang disana pun banyak orang-orang lokal yang (mungkin) berkompeten dan bahkan lebih kompeten dari kita untuk posisi-posisi ber-title itu dan kalian ingin mereka memilih kalian yang notabene baru datang dan know nothing mengenai etos kerja, budaya kerja, peraturan, dll disana?

Saat kita memutuskan untuk migrasi/ pindah ke negara lain, sangat penting untuk membuat prioritas mengenai apa yang kita kejar disana untuk mengurangi daftar stress yang akhirnya bisa membuat kita memutuskan pulang setelah sekian banyak waktu dan uang yang hilang demi bisa kesana, hanya karena… tidak bisa mengalahkan gengsi dan ego kita, karena tidak berhasil mengalahkan diri kita sendiri.

Salah satu contoh nya adalah apa yang saya susun dalam sekala prioritas saya saat kami memutuskan untuk mencoba peruntungan mendapatkan PR dan migrasi saat PR tersebut di setujui.

Prioritas utama saya adalah kesehatan, untuk bisa mendapatkan kesempatan agar bisa lebih sehat, saya harus berusaha agar anak-anak saya bisa mendapatkan lingkungan yang memiliki tingkat polusi rendah tanpa merusak kesempatan mereka untuk mendapatkan pendidikan terbaik yang bisa saya berikan. Apakah bisa di Jakarta? Jawab sendiri saja….

Prioritas saya yang kedua adalah pendidikan untuk anak-anak saya, tidak ada yang lebih penting dari Pendidikan untuk anak-anak saya selain kesehatan. Hal ini juga yang membuat saya mati-matian mencari jalan agar bisa memberikan pendidikan terbaik bagi mereka.

Prioritas ketiga saya adalah tempat yang bisa memberikan value of life. Hal yang tidak saya temukan di Jakarta. Contoh paling sederhana adalah banyak nya waktu yang hilang di jalan karena… MACET.

Dari ketiga prioritas ini tidak ada 1 pun yang menyebutkan Harta/ Uang/ apapun benda berharga, ya… memang motivasi kami (terutama saya) saat memutuskan untuk migrasi (jika diberikan kesempatan) bukan untuk mencari harta, tapi untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak kami.

Lalu, apakah pendidikan dan kehidupan yang lebih baik tidak butuh biaya? Tentu butuh… jika tetap disini, tapi tidak disana, itu juga yang membuat saya mati-matian mengejar PR agar pendidikan dan kesehatan ditanggung oleh pemerintah lewat pajak-pajak yang sudah saya bayarkan.

Tapi, apakah disana bisa bertahan? pertanyaan klasik, bisa bertahan? bisa, bagaimana cara nya? buang gengsi dan ego. Itulah kenapa dalam skala prioritas saya tidak disebutkan tentang jabatan maupun pekerjaan bergengsi dsb.

Bukan berarti saya tidak ingin memiliki pekerjaan yang sama dengan disini, bukan. Saya juga akan mencari pekerjaan yang sesuai dengan skill saya agar skill saya tidak sia-sia, tapi itu bukan hal utama. Hal utama saya adalah bagaimana bisa survive disana, karena saat kita berhasil survive kita akan memiliki lebih banyak kesempatan untuk menjadi lebih baik.

Yang menjadi masalah adalah untuk bisa survive sering kali kita harus mau memulai segala nya dari NOL (DASAR) yang tidak bisa dilakukan oleh banyak orang karena 1 hal yaitu GENGSI, masa saya manager tapi melakukan pekerjaan cuci piring atau pekerjaan kasar lainnya. Hal itulah yang membuat banyak orang tidak bisa bertahan disana, mereka lupa… lupa jika mereka adalah pendatang, pendatang yang tanpa networking, tanpa rekam jejak dengan pengalaman lokal yang jelas walaupun untuk beberapa orang yang beruntung, mereka langsung mendapatkan pekerjaan.

Mereka lupa jika sebutan pekerjaan kasar itu hanya ada di benak orang-orang dari negara berkembang tapi tidak untuk orang-orang dari negara maju. Orang-orang dari negara maju menghargai (bahkan sangat menghargai) orang-orang yang mau melakukan pekerjaan (yang menurut kita) kasar itu. Itulah kenapa tidak ada 1 pekerjaan pun yang membuat penduduk mereka kesulitan untuk makan maupun tinggal, apalagi sampai setengah mati menyekolahkan anak-anak mereka dan membayar biaya kesehatan saat sakit seperti di negara berkembang.

Ya… itulah yang sedang saya persiapkan untuk kesana (dan semoga kami berhasil kesana). Saya siap melakukan pekerjaan apa saja untuk survive demi kehidupan dan pendidikan anak-anak kami yang sekarang menjadi impian utama dan paling liar saya. Dan saat saya sudah bisa duduk dan melakukan pekerjaan yang sama seperti yang saya lakukan disini, saya tidak akan melupakan saat-saat pertama tadi.

Lalu apakah saya siap jika seumur hidup harus melakukan pekerjaan (yang menurut kita) kasar itu? Yup, saya siap… demi anak-anak saya yang menjadi pemecut semangat dan kegilaan saya.

Dan saat saya diharuskan untuk menerima keadaan dimana saya tidak bisa memiliki posisi seperti saat ini, maka suatu hari nanti saya ingin memiliki kesempatan untuk dengan bangga mengucapkan kalimat “saya, seorang pencuci piring di restoran (atau apalah sebutan pekerjaan yang kita anggap kasar itu) yang berhasil menyekolahkan anak-anak saya di Australia dari kecil sampai besar”

Apakah ada manager atau general manager atau bahkan direktur disini yang bisa melakukan hal itu?

Semoga kami berhasil mendapatkan persetujuan untuk aplikasi kami, semoga… semoga… amin… amin… amin…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s