Tags

,

Hari ini adalah hari pertama Jovan putra kedua kami di rumah, dia pulang kemaren dari RSIA Family Pluit setelah dr. Rahmadi memberikan ijin karena kondisi nya sudah baik dan sehat saat itu.

Semalam… saya mengira akan kembali mengulang semua yang terjadi 3 tahun lalu, dimana Arland putra pertama kami pulang ke rumah. Keadaan dimana kami pontang panting, bingung, panik, lega, stres bercampur aduk menjadi satu meladeni tangisan Arland yang sahut menyaut entah karena lapar, ga betah karena pup dll.

Ternyata, yang kali ini beda. Jovan tidak se heboh Arland dulu (dan semoga tetap kalem begini ya nak), saya masih bisa tidur sampai 4 jam non-stop (terimakasih Arland dan Jovan) karena kedua anak kami seperti nya mengerti jika kedua orang tua nya sudah tepar.

Akan tetapi, hanya sedikit perbedaan nya, sedangkan hal – hal lain tetap sama seperti dulu.

Salah satunya memberikan ASI, masih sama seperti pertama kali dulu, penuh perjuangan karena ASI nya masih sering mampet sehingga payudara istri jadi keras dan sakit, padahal tadi nya kami sudah pede setengah hidup jika kali ini akan lancar-lancar saja hahahaha… ternyata kami di”kaget”kan lagi.

Lalu, tantangan yang lain adalah jemur bayi, matahari yang malu-malu kucing pagi ini sempat membuat saya stres karena takut Jovan nanti kuning jika tidak di jemur (jemur bayi adalah tugas saya hehehe…)

Untung nya tangan saya masih sigap saat membersihkan pup nya Jovan, hehehe… membersihkan pup anak juga menjadi tugas saya saat sedang di rumah berbagi dengan istri yang sudah kewalahan mengurus anak dan rumah sekaligus, karena tidak menggunakan babysitter maupun pembantu.

Setidaknya sekarang sudah lega, ternyata irama kami sedikit demi sedikit mulai terbentuk (jadi bisa ngetik blog sebentar hehehe….), semoga irama nya tidak kacau lagi agar kami bisa mulai menyesuaikan irama ini ke semua kegiatan kami yang lain.

Arland anak pertama kami anak yang kalem dan sangat pengertian kepada kami, semoga Jovan pun demikian, walaupun… kadang suka terbersit juga rasa was-was jika mereka nanti terlalu kalem saat sudah besar. Hidup ini kejam, bahkan bisa menjadi sangat kejam, itulah yang kemudian membuat manusia menyesuaikan diri menjadi lebih kejam. Ah… sudahlah, biarkan waktu yang menjawab nantinya bagi hidup mereka kedepan.

Semoga hasil dari aplikasi kami pun baik, agar kami bisa mulai membangun kehidupan baru di tempat yang kami harapkan bisa lebih baik untuk membesarkan anak-anak.

Saat mata ini memandang ke arah kedua anak saya, dan istri saya, hanya ada 1 pikiran yang terbersit dalam kepala saya, saya tidak boleh berhenti berjuang untuk memberikan yang terbaik kepada mereka, walaupun hal itu membuat saya harus melepaskan zona nyaman saya. Semoga Tuhan memberkati langkah saya dan selalu membantu saya melewati semua hal baik dan buruk.

Advertisements