Jakarta”sia”

Jakarta kembali tergenang (kalau mengutip istilah Gubernur sebelum Jkw-Ahok “ini hanya genangan”) dan berubah menjadi setengah kota sungai, mirip-mirip Venesia lah, bedanya ini Jakartasia jadi sungai nya coklat-coklat seksi gitu hehehe…

Dalam banjirnya Jakarta kali ini, menjadi salah satu moment yang digunakan oleh banyak warga kita yang “pintar-pintar” untuk beramai-ramai melemparkan kritik dan hujatan kepada (siapa lagi kalau bukan) pemerintah kita.

Seperti yang pernah saya tuliskan disini, dimana masyarakat kita memang banyak yang pintar dalam melakukan kritik (sampai-sampai bisa juara kalau ada perlombaan antar negara), tapi yang menjadi masalah adalah mereka lupa… lupa untuk melihat ke bayangan diri sendiri saat di depan kaca, sudah sebaik apa saya sebagai warga negara?

Presiden negeri ini sejak dari jaman pengganti Pak Soeharto (karena dijaman orba komentar sedikit bisa lenyap) sampai sekarang, selalu dikritik begini, begitu, seakan-akan kita menjadi orang-orang yang tidak pernah puas, tapi juga tidak pernah mau berubah.

Siapa pun Presiden nya, jika dikelilingi oleh warga model seperti kita-kita ini yang sangat suka mengkritik tapi lupa memperbaiki diri, tidak akan pernah mampu mengubah keadaan negeri ini menjadi lebih baik, dan keadaan ini hanya akan menjadi lingkaran setan tidak bertepi yang akhirnya merugikan kita-kita juga.

Saya yakin, 90% dari para pengkritik yang “pintar-pintar” (termasuk saya loh…) itu pasti sering melanggar peraturan lalu-lintas, buang sampah sembarangan, tidak mau antri dan melakukan tingkah laku tidak tertib lainnya. Lah, disuruh tertib untuk hal sederhana seperti buang sampah pada tempatnya, antri atau mematuhi aturan lalu-lintas saja tidak mampu tapi berani melontarkan kritik ke orang yang sudah terpilih untuk mimpin bangsa ini?

Hem… susah memang, bicara dan membuat orang yang “pintar-pintar” itu mengerti memang susah, mungkin orang yang bisa membuat mereka ini ngerti harus “pintar-pintar-pintar” jadi lebih pintar dari “pintar-pintar”.

Jadi, daripada kita kritik sana sini, padahal saat disuruh menggantikan mereka yang kita kritik saja belum tentu bisa lebih baik (mungkin untuk sampai terpilih saja sulit) kenapa tidak kita sama-sama mengubah diri kita masing-masing untuk bisa lebih baik, mau tertib, mau antri, tidak saling serobot, punya empati, buang sampah ditempat nya, tidak membiarkan anak-anak di bawah umur mengendarai kendaraan bermotor dan lain sebagainya.

Siapa tau… siapa tau apa yang kita lakukan, tindakan yang kecil dan sederhana ini bisa pelan-pelan membantu para pemimpin negeri ini yang sudah terpilih (walaupun bukan kita yang milih) mengubah semua yang ada menjadi lebih baik lagi setiap detik nya. Jika bukan buat kita-kita setidaknya buat anak cucu kita.

Mari kita mulai dari kita masing-masing, berubah menjadi lebih baik, tertib dan berhentilah melontarkan kritik yang tidak bisa kita lakukan dengan lebih baik jika kita bertukar posisi dengan terkritik.

Cuman bagi-bagi pemikiran saja loh… jangan di kritik ya hahaha… 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s