Tags

,

Waktu yang tepat…

Seberapa sering kita menjawab sebuah pertanyaan dengan kalimat “Menunggu waktu yang tepat” ?

Selama perjalanan hidup saya yang sudah mengalami pasang surut, bahkan pernah berada dalam keadaan yang (menurut saya) terbawah dalam fluktuasi hidup saya selama ini, saya belajar 1 hal, yaitu waktu yang tepat.

Banyak orang (dan teman) yang selalu menggunakan kalimat tersebut saat berusaha menyangkal sebuah keadaan yang (mungkin) melibatkan nyali dan rasa takut mereka.

Kita, sebagai manusia, hanya membutuhkan sebuah impian dan sebuah nyali untuk melangkah dalam mengejar apa yang kita impikan. Tidak kurang dan tidak lebih.

Kita hanya perlu berusaha sekuat kita untuk mengejar hal itu, dan membiarkan Tuhan yang menentukan apakah kita cukup layak dan tepat untuk menerima apa yang kita kejar, apakah waktu nya sudah tepat bagi kita mendapatkan apa yang kita kejar. Bukan sebaliknya, dimana kita menggunakan alasan “waktu yang tepat” sebagai alasan untuk memulai atau menunda memulai karena ingin menyangkal diri kita sendiri.

Mengapa? Karena waktu yang tepat hanya milik Tuhan, tidak ada 1 hal maupun siapa pun di dunia dan akherat yang memiliki waktu yang tepat.

Mengapa? Karena (sesuai iman dan kepercayaan kita masing-masing) Tuhan itu Maha Tahu dan Maha Kuasa. Kata Maha sendiri adalah yang tunggal, dimana artinya tidak ada lagi yang mampu selain Dia. Jadi, waktu yang tepat hanya dimiliki dan diketahui oleh Dia yang memiliki predikat Maha tersebut.

Banyak hal dalam hidup saya yang tidak saya dapatkan (atau belum saya dapatkan) saat saya sudah berusaha mati-matian, ya… saya hanya percaya jika Tuhan punya rencana, dan itu yang membuat saya tidak down dan putus asa, dan yang paling penting tidak takut untuk bermimpi dan berusaha mencapai nya lagi di tengah kegagalan demi kegagalan yang saya alami.

Semoga, apa yang terhenti sementara hampir 5 tahun lalu, berhasil kami dapatkan saat ini. Dan, tentunya, saya merasa malu, sangat malu… karena 4 tahun lalu saat saya sudah berusaha 1 tahun penuh dan menemui kebuntuan, saya yang manusia penuh dosa ini mempertanyakan-Nya (terlepas dari tidak menyerah nya saya dan masih terus berusaha sampai sekarang). Padahal, rencana-Nya jauh lebih baik bagi saya jika hal itu terjadi saat ini, 5 tahun kemudian… fana nya saya… setelah puluhan tahun menjadi seorang Katolik dan dipermandikan secara Katolik, bahkan iman sebesar biji sesawi pun saya belum sanggup memiliki nya…

Maaf kan hamba-Mu ini…

Ya Tuhan, saya tidak pantas Engkau datang pada saya. Tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh.

Amin.

Advertisements