Sebuah Resolusi ? “1234 kata”

Di hari ketiga tahun ini saya menyusun kembali target yang akan saya kejar dan sebuah resolusi seperti tahun-tahun sebelum nya. Hidup tanpa target itu tidak menarik dan cenderung membosankan.

Setelah target yang saya susun tahun sebelumnya sudah tercapai satu per satu (termasuk menyelesaikan KPR Rumah), maka hari ini saya menyusun target baru untuk tahun ini, ehm… sebetulnya bukan target baru, ini adalah target sebelumnya yang belum kesampaian, menuju tempat yang lebih baik untuk membesarkan anak-anak dan membangun keluarga.

Mungkin… mungkin saya terdengar dan terlihat terlalu berambisi, bahkan mungkin terlihat bodoh. Setelah apa yang saya miliki dan capai disini, lalu akan saya tinggalkan untuk menuju kota yang bahkan belum pernah saya kunjungi seumur hidup saya dengan membawa anak dan istri saya. Yang membuat saya tetap berani adalah saya pergi dengan berpegang pada Iman.

Saya, memiliki 1 prinsip, orang tua saya (baik kandung maupun mertua) tidak akan saya repotkan lagi dalam membesarkan anak-anak saya, saya tidak ingin mereka dalam masa tua nya harus mengulang apa yang mereka lakukan saat muda dulu, saat baru memiliki anak yaitu saya dan istri saya, disamping saya juga ingin anak-anak dekat dengan kami, setidaknya salah satu dari kami sebagai orang tua nya, dan karena ini adalah tugas kami bukan tugas orang lain, ini adalah tanggung jawab kami bukan orang lain, dan tidak semua tanggung jawab bisa digantikan dengan sesuatu yang disebut “UANG” yang digunakan untuk membayar orang lain. Karena itulah saya berusaha untuk membuat cukup keadaan dan kebutuhan di keluarga saya agar salah satu dari kami (saya dan istri) harus tetap berada di rumah untuk anak-anak, setidaknya sampai umur sekolah dimulai (sekolah yang normal ya, bukan yang playgroup dll), bahkan saya tidak menyewa babysitter untuk hal itu karena saya percaya tidak ada yang lebih baik dari didikan seorang Ibu (orang tua) secara langsung kepada anak nya, karena ada hal-hal konstruktif yang harus diajarkan saat kejadian. Contoh nya, seorang balita tidak akan tahu jika nonton televisi terlalu dekat itu bisa merusak mata, jika kita ajarkan tidak di saat kejadian berlangsung apakah dia akan mengerti apa yang disebut “tidak boleh terlalu dekat karena mata bisa rusak”? bahkan arti kata “dekat” saja dia belum tentu ngerti.

Hal lainnya adalah, saya tidak ingin terlalu bergantung pada orang lain untuk hal-hal mendasar (setidaknya yang saya anggap mendasar). Dan saya tidak ingin anak-anak saya dibesarkan dengan mental “pembantu”, maksudnya tidak ada pembantu langsung panik dan lesu. Mereka harus besar dengan belajar mengendalikan masalah dan menyelesaikannya sebelum menggantungkan seluruh nya pada orang lain, banyak hal di dunia ini yang tidak harus bergantung pada orang lain jika kita mau mendidik dan membentuk mental nya.

Hidup disini memang enak, ada duit dikit bisa punya pembantu, babysitter, sopir dll dan bisa hidup seperti raja. Tapi bukan itu kehidupan yang ingin saya ajarkan pada anak-anak saya, dan tentunya kami sendiri harus menunjukan terlebih dahulu karena kami tidak ingin menjadi orang tua OMDO (OMong DOank) seperti kebanyakan orang. Contoh nya: Ayo mainan nya diberesin kalau sudah selesai (tapi si anak melihat mba membereskan cucian, strikaan, nyapu, ngepel dll). Bahkan lebih parahnya, memberi makan, mandiin dan ngajak main si anak. Lah… si emak kemane… Apakah si anak akan belajar untuk tanggung jawab membereskan kekacauan yang dia timbulkan setelah bermain dengan melihat emak nya duduk nonton TV atau bergosip di smartphone sementara si mba membereskan tanggung jawab nya? TIDAK, karena kan ada mba 🙂

Jadi, untuk bisa tetap mempertahankan dan menjalankan prinsip pertama, saya harus menemukan tempat yang bisa membantu saya, tempat yang memang menuntut kita harus mandiri, tempat yang memang mendukung anak-anak juga belajar mandiri.

Ok, prinsip saya yang kedua adalah, tidak ada kata puas jika kita tidak pernah merasa cukup atau “tercukupi”, saya bukan orang kaya, belum bisa jalan-jalan ke eropa, belum mampu beli rumah besar (rumah saya hanya memiliki luas tanah 60 m persegi), belum bisa beli mobil bagus, apalagi superbike seperti R25. Tapi, hal itu tidak membuat saya lalu merasa istri saya harus ikut bekerja agar semua tercukupi, tidak… tidak… semua bisa di hemat jika kita mau, waktu yang diberikan kepada anak saya tidak bisa ditukar dengan apapun di dunia ini, waktu yang sudah berlalu tidak akan bisa diputar balik, dan… buat saya itu yang paling penting saat ini, yaitu mendampingi anak saya oleh salah satu orang tua nya secara langsung.

Hidup disini baik, karena saya bisa memiliki hidup yang nyaman, tapi baik dan nyaman saja tidak cukup. Kenapa? karena ada 1 hal dasar yang saya lihat belum saya miliki, yaitu bebas dari polusi. Hidup disini membuat kami dikelilingi oleh polusi, baik polusi udara, air, maupun polusi waktu (yaitu macet). Bahkan untuk air konsumsi (kecuali untuk mandi dan bilas2) saja kami harus membeli yang mineral galonan.

Ada 1 masa saya berfikir, apa yang terjadi nanti saat anak saya sudah harus bersekolah dan karena dia mampu saya ingin menyekolahkan dia di pusat kota di sekolah yang katanya lebih baik, apakah dia akan menghabiskan waktu dia dijalanan karena kemacetan yang tidak masuk akal? akankah dia hidup dijalan nanti? apakah dia harus ikut les macam-macam agar bisa mengejar di sekolah?

Tidak, tidak… anak saya sebisa mungkin jangan dibesar seperti ini, itulah mengapa saat saya melihat adanya peluang untuk menuju tempat yang bisa memberikan udara yang lebih sehat, air yang bisa di komsumsi, keadaan jalanan yang bebas dari macet (setidak nya lebih tidak macet dari disini), dan jaminan/ sistem pendidikan serta kesehatan yang lebih baik (tanpa mengusik masalah biaya yang harus saya siapkan jika berada disini) membuat saya memberanikan langkah saya untuk mengejar tantangan itu dengan meninggalkan semua kenyamanan disini, kenyamanan yang hanya saya rasakan, belum tentu dirasakan juga oleh keluarga saya. Dan tentunya tingkat stres yang sudah tidak masuk akal lagi selama berada dijalan (walaupun kita bisa belajar mengendalikan stres tapi bukan stres yang seperti ini).

Semakin stres seseorang maka akan semakin buruk kesehatan nya dari waktu ke waktu. Coba bayangkan jika itu ditambah dengan polusi? Mantap.

Apakah ini sebuah resolusi?

Tentu itulah harapannya, saat ini saya hanya perlu bersabar dan berdoa. Bersabar karena harus menunggu istri saya melahirkan dulu baru bisa maju ke x-ray untuk memenuhi persyaratan medical check up, lalu saya berdoa agar kami sekeluarga dianggap sehat oleh pemerintah sana. Jika segala nya berjalan lancar maka PR sudah dipastikan ada di tangan kami.

Lalu apakah ini sebuah resolusi?

ehm…

Ini bukan sebuah resolusi, tapi hanya sebuah solusi, resolusi nya adalah sesuatu yang harus saya lakukan setelah solusi ini tercapai, yaitu berusaha bertahan disana dengan segala kondisi yang ada. Berusaha menerima kenyataan semua harus di bangun ulang dari Nol, membuang gengsi saya dan harus mau bekerja apa saja, tapi sekali lagi, saya pergi dengan berpegang pada Iman.

Eh, sebentar, disana bekerja apa saja tidak seperti disini, jangan ber-prasangka buruk dulu. Beda! mau tau bedanya? baca dipostingan sebelumnya disini dan disini.

Kehidupan disini baik, tapi baik saja tidak cukup. Saat 24 jam hidup saya yang tersisa 8 jam (karena dikurangi kerja 8 jam dan tidur yang dianggap sehat adalah 8 jam) sudah tersedot 30% lebih untuk dihabiskan melihat kemacetan di jalan, maka hal itu sudah tidak ada nilai kehidupan lagi dimata saya, quality time untuk keluarga sudah tidak ada lagi. Hal ini belum bicara weekend yang lebih banyak jalan mall to mall karena wisata alam seperti pantai, gunung semua macet saat weekend, dan taman juga… ya… kalian bisa cari sendiri taman nya yang bisa digunakan anak-anak untuk main sebanyak apa.

Lalu bagaimana kalau hal itu tidak tercapai?

Nah… ini yang saya tidak ingin, tapi yang namanya hidup kita tidak bisa memutuskan apa yang Tuhan rencanakan untuk diri kita. Jika saya tidak berhasil mencapai impian ini, maka resolusi nya saya akan mencari solusi lain agar setidaknya setengah dari alasan saya mengejar impian ini bisa tercapai.

Semoga, salah satu impian ini bisa tercapai agar saya tidak membutuhkan resolusi cadangan.

Dan, akh… ternyata bukan 1234 kata seperti yang saya tulis di judul, tapi sudah 1275 kata 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s