Tags

,

Beberapa minggu lagi kita akan memasuki bulan Desember 2014, bulan dalam 1 tahun yang banyak memberi arti dan kenangan bagi saya.

Mendekati akhir tahun, kenangan pertama yang akan kembali kedalam bayangan saya adalah sosok (alm) kakak saya, sosok yang selalu pulang ke Tegal di bulan Desember dan saya ajak berputar-putar di kota kecil itu (jika dibandingkan Jakarta ya), saya ajak memancing, main di sawah mencari belut, motor-motoran ke slawi dan banjaran sambil berhujan ria melewati pematang sawah… hemm… bahkan aroma tanaman padi yang tersiram air hujan pun masih terbekas dengan jelas dalam otak saya, naik gunung Guci untuk berendam air panas secara gratis dan juga bermain di sungai yang air nya super dingin sampai bisa digunakan untuk mendinginkan minuman kaleng (dahulu kala). Yang pada Juni 2000 dipanggil Tuhan untuk selama-lamanya. Kau akan selalu di hati ku Kak !

Kenangan kedua adalah, saat saya kecil, pada pagi di hari Natal dibawa (alm) Papa ke PAI (Pantai Alam Indah) sekedar melihat pantai dan membeli sekodi sate ayam untuk merayakan hari lahir saya yang jatuh tepat pada hari Natal. Setelahnya mengantar saya pulang dengan riang karena akan makan sate pagi itu, sebelum dia berangkat ke pelabuhan untuk melanjutkan pekerjaannya. Yang pada Juli 2000 pun dipanggil Tuhan untuk selama-lamanya. Kau pun akan selalu di hati ku Pah !

Kenangan terakhir, adalah aroma rumah (dahulu di Tegal) yang dikelilingi bunga dan pepohonan, jalanan kota Tegal yang masih jauh dari Asap kendaraan, keadaan kota yang relatif sepi, keadaan hujan yang membuat aroma sekeliling begitu erat terbesit di kenangan saya.

Sekarang, saat berada dekat dengan penghujung November, semua memori itu kembali memenuhi kepala saya, ditambah dengan harapan-harapan baru, tujuan-tujuan baru yang sedang saya usahakan dan saya berharap dapat menjalaninya.

Disaat orang-orang membuat keputusan sebelum memiliki keluarga, saya justru membuat sebuah keputusan Ambisius dan Liar dalam keadaan sudah memiliki istri dan anak yang akan berjumlah 2 sebentar lagi. Terlalu gila? Iya, saya akui memang gila.

Dari semua lika-liku kehidupan yang sudah saya lalui, terkadang bahkan sering, sebuah kegilaan dibutuhkan untuk mengubah sebuah kehidupan agar bisa mengarah yang tujuan yang lebih baik, sesuatu yang lebih baik yang tidak hanya ditolok-ukurannya hanya dari sisi ekonomi saja.

Banyak hal, banyak sisi, dan banyak sudut pandang yang saya gunakan untuk memutuskan langkah besar ini (yang semoga bisa terwujud), yang tidak bisa saya uraikan disini satu per satu.

Sekali lagi dan selalu, saya menutup dengan sebuah doa, agar apa yang menjadi impian saya dan keluarga bisa tercapai, dan segala sesuatu nya lancar sampai akhir.

Advertisements